PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (2)

15
121

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ringkasan Penjelasan Macam-macam Syirik (Bagian Pertama)

Ringkasan Penjelasan Macam-macam Syirik (Bagian Pertama)

1. Berdoa kepada Selain Allah Ta’ala

Berdoa kepada selain Allah ta’ala termasuk syirik besar. Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu seru (berdoa) kepada mereka, maka mereka tidak mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

Orang yang berdoa kepada selain Allah ta’ala juga termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim karena mereka telah melakukan kezaliman terbesar (syirik), sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah (berdoa) kepada apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: 106)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menyebutkan ayat di atas pada bab, “Termasuk perbuatan syirik, seorang yang ber-istighotsah (meminta tolong ketika musibah) atau berdoa kepada selain Allah.” [Kitabut Tauhid, Bab ke-13]

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

“Dalam ayat ini terdapat nash bahwa berdoa dan istighotsah kepada selain Allah Ta’ala merupakan syirik besar. Oleh karenanya Allah ta’ala berfirman (pada ayat setelahnya): Apabila Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu maka tidak ada yang mampu menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah ingin memberikan kebaikan kepadamu maka tidak ada yang sanggup menolak keutamaannya.” (Yunus: 107).” [Taysirul ‘Azizil Hamid, hal. 237]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

“Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa setiap yang dipanjatkan doa kepadanya adalah sesembahan (ilah). Sedangkan penyembahan itu hanyalah hak Allah Ta’ala yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya sedikit pun.” [Fathul Majid, hal. 164]

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

“Ayat ini menunjukkan larangan berdoa kepada selain Allah Ta’ala, baik doa permohonan maupun doa ibadah. Allah Ta’ala telah melarang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada selain Allah Ta’ala dengan larangan yang keras, padahal beliau adalah pemimpin orang-orang yang bertakwa dan bertauhid.” [At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 249]

Dua Bentuk Doa:

Pertama: Doa ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Karena seorang yang melakukan ibadah-ibadah tersebut berarti ia memohon rahmat dan ampunan kepada Allah ta’ala dengan ibadah yang ia lakukan. Bentuk yang pertama ini apabila dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik besar (secara mutlak).

Kedua: Doa permohonan (tholab), seperti memohon suatu kemanfaatan atau terhindar dari suatu kemudharatan. Bentuk yang kedua ini apabila dipersembahkan atau diminta kepada selain Allah ta’ala maka termasuk syirik jika tidak terpenuhi padanya tiga syarat:

1) Permohonan tersebut masih dalam batas kemampuannya untuk mengabulkan.

2) Orang tersebut masih hidup.

3) Orang tersebut hadir dan atau mampu mendengarkan permohonan kepadanya.

Maka meminta sesuatu yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah, seperti memohon hidayah, keselamatan di akhirat, minta hujan, perlindungan dari setan dan lain-lain adalah termasuk syirik, demikian pula meminta kepada orang yang sudah mati atau orang yang tidak hadir sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan kecuali oleh Allah, maka termasuk syirik.

(lihat Syarhu Tsalatsatil UshulAsy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, dicetak dalam Jami’ Syuruh Tsalatsatil Ushul, hal. 141-142).

Termasuk Kategori Syirik dalam Doa Permohonan:

➡ Isti’anah (meminta tolong) kepada selain Allah ta’ala

➡ Istighotsah (meminta tolong ketika musibah) kepada selain Allah ta’ala

➡ Isti’adzah (mohon perlindungan) kepada selain Allah ta’ala

Apabila seseorang ber-isti’anah, istighotsah dan isti’adzah kepada makhluk yang tidak terpenuhi padanya tiga syarat di atas maka termasuk kategori syirik.

➡ Memohon syafa’at kepada selain Allah ta’ala

➡ Berdoa kepada para wali yang sudah meninggal dengan dalih tawassul

Apabila seseorang menjadikan seorang wali, nabi atau malaikat sebagai perantara untuk berdoa kepada Allah ta’ala maka ini bukanlah tawassul yang dibolehkan, bahkan termasuk syirik menurut kesepakatan (ijma’) Ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Barangsiapa menjadikan makhluq sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Ta’ala, sehingga ia berdoa kepada para perantara tersebut, memohon dan bertawakkal kepada mereka, maka ia kafir berdasarkan ijma’.” [Al-Mulakhkhosul Fiqhi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/450]

2. Syirik dalam Tabarruk

Tabarruk atau ngalap berkah dengan kuburan para wali atau pohon-pohon dan batu-batuan, termasuk syirik. Jika diyakini bahwa sesuatu tersebut dapat memberikan berkah dengan sendirinya, bukan dari Allah ta’ala maka termasuk syirik besar, dan apabila diyakini itu hanya sebab maka termasuk syirik kecil.

Sahabat yang Mulia Al-Harits bin ‘Auf Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu’anhu berkata,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما خرج إلى غزوة حنين مر بشجرة للمشركين كانوا يعلقون عليها أسلحتهم يقال لها : ذات أنواط فقالوا : يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : سبحان الله هذا كما قال قوم موسى (اجعل لنا إلها كما لهم آلهة) والذي نفسي بيده لتركبن سنن من كان قبلكم

“Bahwa ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berangkat menuju perang Hunain, beliau melewati sebuah pohon yang dijadikan tempat menggantungkan senjata-senjata oleh kaum musyrikin (untuk meminta berkah dari pohon tersebut). Pohon tersebut dinamakan dzatu amwath, maka kaum muslimin pun berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzatu amwath sebagaimana milik mereka”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Subhanallah, perkataan kalian sama dengan perkataan kaumnya Musa, “Buatkanlah kami sesembahan sebagaimana sesembahan mereka”, demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan kaum sebelum kalian”.” [HR. At-Tirmidzi, Al-Misykah: 5408]

3. Menyembelih untuk Selain Allah Ta’ala

Menyembelih untuk pengagungan atau persembahan kepada selain Allah Ta’ala termasuk syirik besar, karena menyembelih adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Makna ayat ini seperti firman Allah Ta’ala:“Maka dirikanlah shalat dan sembelihlah qurban karena Rabbmu.” (Al-Kautsar: 2) yakni, murnikan shalatmu dan sembelihanmu hanya untuk Allah semata.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/381]

➡ Demikian pula termasuk syirik apabila seseorang ber-taqarrub kepada selain Allah ta’ala dengan mempersembahkan sesajen, apakah bentuk sesajen itu hewan qurban atau selainnya. Dan biasanya mereka lakukan hal tersebut untuk meminta pertolongan kepada jin. Seperti sesajen yang sering dipersembahkan kepada jin ratu laut selatan adalah termasuk syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

4. Bernazar untuk Selain Allah Ta’ala

Nazar termasuk ibadah, sehingga tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala. Bahkan Allah ta’ala telah memuji orang-orang yang beriman karena nazar yang mereka tunaikan, sebagaimana firman-Nya,

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ

“Mereka menunaikan nazar.” (Al-Insan: 7)

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang beriman karena telah menunaikan nazar mereka dan menjadikan hal tersebut sebagai sebab masuknya mereka ke dalam surga. Dan suatu amalan yang bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga adalah ibadah, maka mempersembahkan ibadah tersebut kepada selain Allah Ta’ala adalah syirik.” [Al-Qoulul Mufid, 1/317]

5. Syirik dalam Cinta

Fenomena syirik dalam cinta telah dijelaskan oleh Allah ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

“Cinta kepada Allah Ta’ala ada empat tingkatan:

Pertama: Seseorang mencintai Allah melebihi selain-Nya. Inilah tauhid.

Kedua: Seseorang mencintai Allah seperti mencintai selain-Nya. Ini adalah syirik.

Ketiga: Seseorang mencintai selain Allah melebihi cintanya kepada Allah. Ini lebih besar dosa kesyirikannya daripada yang sebelumnya.

Keempat: Seseorang mencintai selain Allah ta’ala dan tidak ada sedikit pun kecintaannya kepada Allah dalam hatinya. Ini lebih besar lagi dosa kesyirikannya dan lebih jelek lagi.” [Al-Qaulul Mufid, 1/200-201]

6. Takut kepada Selain Allah Ta’ala

Takut kepada selain Allah ta’ala terbagi menjadi tiga bentuk:

Pertama: Takut yang tersembunyi (dalam hati manusia), yakni takut kepada makhluk karena meyakini makhluk tersebut memiliki kemampuan, padahal kemampuan tersebut hanya miliki Allah ta’ala. Seperti keyakinan para penyembah kubur bahwa wali-wali yang mereka sembah memiliki kemampuan untuk menimpakan bahaya kepada mereka atau menghilangkannya dari mereka.

Bahkan mereka berani bersumpah bohong atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama wali karena takut kepada wali tersebut. Maka takut seperti ini adalah termasuk syirik besar. Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Ali Imran: 175]

Kedua: Takut karena sebab-sebab yang dapat dirasakan atau dilihat oleh panca indera, seperti takut kepada pencuri atau musuh. Takut seperti ini tidaklah termasuk syirik, dengan syarat tidak mengantarkan seseorang untuk meninggalkan perintah Allah ta’ala atau menjerumuskannya kepada yang haram.

Ketiga: Takut yang sifatnya tabiat, seperti takut kepada binatang buas, takut terbakar, takut tenggelam dan lain-lain. Takut seperti mubah selama tidak menjerumuskan kepada perbuatan yang haram.

(lihat Syarhu Tsalatsatil UshulAsy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, dicetak bersama Jami’ Syuruh Tsalatsatil Ushul, hal. 129-130)

7. Harap kepada Selain Allah Ta’ala

Mengharap kepada Allah adalah ibadah, sebagaimana firman-Nya,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Al-Kahfi: 110]

➡ Apabila seseorang mengharap kepada selain Allah ta’ala sesuatu yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah ta’ala, seperti mengharap hidayah, masuk surga, selamat dari neraka, karunia anak dan turunnya hujan, maka termasuk syirik besar.

➡ Demikian pula harapan kepada makhluk disertai dengan merendahkan diri dan ketundukan atau kepasrahan maka termasuk syirik, sebab hal tersebut termasuk ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala (lihat Syarhu Tsalatsatil UshulAsy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, dicetak bersama Jami’ Syuruh Tsalatsatil Ushul, hal. 143)

8. Tawakkal kepada Selain Allah Ta’ala

Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu bertawakkal kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah: 23)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata,

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa tawakkal kepada Allah adalah ibadah dan hukumnya wajib, maka mempersembahkannya kepada selain Allah Ta’ala adalah syirik.” [Taysirul ‘Azizil Hamid, hal. 497]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,

“Tawakkal kepada Allah, serta benarnya penyandaran dan ketergantungan hati kepada-Nya adalah puncak pengamalan tauhid.” [Fathul Majid, hal. 60]

9. Taat kepada Makhluk dalam Kemaksiatan Disertai Penghalalan yang Haram atau Pengharaman yang Halal

Allah Ta’ala berfirman,

اتخذُواْ أَحْبَـارَهُمْ وَرُهْبَـانَهُمْ أَرْبَاباً مّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً واحِداً لاَّ إله إِلاَّ هُوَ سُبْحَـانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Tafsir ayat ini telah jelas, yaitu tentang ketaatan kepada ulama dan kepada ahli-ahli ibadah dalam perkara maksiat kepada Allah. Jadi, bukanlah maksud ayat ini mereka berdoa kepada ulama dan kepada ahli-ahli ibadah tersebut. Dan hal ini sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Adi bin Hatim.“ [Ad-Durarus Saniyyah, 2/70]

Maksud beliau adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu’anhu (seorang sahabat yang dahulunya beragama Kristen),

أما إنهم لم يكونوا يعبدونهم، ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه، وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه

“Sesungguhnya orang-orang Kristen tidaklah beribadah kepada mereka (ulama dan ahli ibadah), akan tetapi mereka mentaati ulama dan ahli ibadah mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan (maka itulah yang dimaksud beribadah kepada mereka).” [HR. At-Tirmidzi, Ash-Shahihah: 3293]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

“Mereka yang menjadikan ulama dan ahli ibadah sebagai tandingan-tandingan selain Allah dengan mentaati mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, dari dua sisi:

Pertama: Mereka tahu bahwa ulama dan ahli ibadah itu telah merubah agama Allah, lalu mereka ikuti agama yang telah dirubah tersebut. Sehingga mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan demi mengikuti pemimpin-pemimpin (agama) mereka, padahal mereka tahu bahwa pemimpin-pemimpin tersebut telah menyelisihi agama Rasul. Maka ini adalah kekafiran. Allah dan Rasul-Nya telah menjadikan perbuatan ini termasuk syirik, meskipun mereka tidak shalat dan sujud kepada ulama dan ahli ibadah mereka.

Maka seseorang yang mengikuti orang lain dalam perkara yang bertentangan dengan agama padahal ia mengetahui bahwa perkara tersebut bertentangan dengan agama dan ia meyakini kebenaran perkataannya bukan perkataan Allah dan Rasul-Nya, ia pun musyrik seperti mereka.

Kedua: Mereka tetap meyakini dan mengimani bahwa yang diharamkan para ulama dan ahli ibadah tersebut adalah halal dan yang dihalalkannya adalah haram, namun mereka tetap menaati para ulama dan ahli ibadah itu dalam perkara maksiat kepada Allah, sebagaimana seorang muslim yang melakukan maksiat dan ia tetap meyakini bahwa perbuatannya itu adalah maksiat, maka yang seperti ini hukumnya sama dengan pelaku dosa besar (tidak sampai kafir).” [Majmu’ al-Fatawa, 7/70]

➡ Bagaimana dengan seorang ulama mujtahid yang ijtihadnya salah dan bagaimana pula hukum orang yang mengikuti ijtihad tersebut?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

“Kemudian orang yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram apabila ia seorang mujtahid yang bertujuan untuk mengikuti Rasul namun ia belum mengetahui kebenaran dalam perkara tersebut, dan ia telah bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya, maka yang seperti ini tidaklah Allah mengazabnya karena kesalahannya, bahkan Allah akan membalas dengan kebaikan atas kesungguhannya dalam menaati Rabbnya.

Akan tetapi orang yang mengetahui bahwa sang ulama mujtahid tersebut telah salah, tidak sesuai dengan petunjuk Rasul, lalu kemudian ia tetap mengikuti kesalahan tersebut, dan berpaling dari perkataan Rasul, maka orang seperti ini telah melakukan satu bentuk syirik yang dicela oleh Allah ta’ala.

Terlebih lagi jika ia mengikuti ulama mujtahid tersebut hanya karena hawa nafsunya sendiri dan ia mendukung kesalahan tersebut dengan lisan dan tangannya, padahal ia tahu bahwa hal itu bertentangan dengan petunjuk Rasul, maka ini termasuk syirik yang mengharuskan pelakunya dihukum.” [Majmu’ al-Fatawa, 7/71]

10. Syirik dalam Niat: Riya’ dan Sum’ah

Riya’ adalah seorang yang memperlihatkan ibadahnya kepada orang lain demi mendapat pujian. Termasuk juga dalam makna ini adalah sum’ah, yakni seorang memperdengarkan atau menceritakan amalannya kepada orang lain demi mendapat pujian.

Dua Tingkatan Riya’:

Pertama: Syirik besar, apabila seseorang beribadah dengan niat semata-mata untuk mempertontonkan amalannya demi mendapat pujian, tidak ada sedikit pun dalam hatinya niat karena Allah. Hal ini seperti syiriknya orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah ta’ala,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’: 142)

Kedua: Syirik kecil, apabila seseorang beribadah karena Allah namun niatnya tercampuri dengan riya’, maka yang seperti ini termasuk syirik kecil yang menyebabkan ibadahnya tertolak. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apa syirik kecil itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: (Syirik kecil itu) riya’, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat kepada mereka (orang-orang yang riya’ dalam beramal), yaitu ketika amal-amal manusia telah dibalas, (maka Allah berkata kepada mereka): Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian perlihatkan (riya’) amalan-amalan kalian ketika di dunia, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan (kebaikan) dari mereka?!” [HR. Ahmad dari Mahmud bin Labid radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 951]

➡ Peringatan: Meninggalkan Amal Karena Takut Riya’ adalah Riya’

Seorang yang meninggalkan suatu amalan karena takut dibilang riya’ juga termasuk perbuatan riya’, sebab ia meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah.

Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedang ikhlas, jika Allah Ta’ala menyelamatkanmu dari keduanya.” [Riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 6879]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Makna perkataan beliau, barangsiapa yang telah bertekad melakukan suatu amalan, kemudian ia meninggalkan amalan tersebut karena khawatir dilihat orang, maka ia telah melakukan riya’, sebab ia meninggalkan amalan karena manusia. Adapun jika ia meninggalkan shalat sunnah di keramaian untuk kemudian mengerjakannya saat tidak dilihat orang, maka yang seperti ini disunnahkan. Kecuali shalat wajib, atau zakat wajib, atau ia seorang ulama yang menjadi panutan, maka lebih afdhal dikerjakan secara terang-terangan.” [Syarhul Arba’in, Al-Imam An-Nawawi, hal. 11]

➡ Apakah mendapat pujian manusia tanpa menginginkannya termasuk riya’?

Apabila seseorang telah berusaha untuk ikhlas dan senantiasa menjauhi riya’, lalu ia mendapat pujian manusia atas amal-amal shalih yang ia kerjakan, maka pujian tersebut tidak termasuk riya’, bahkan ia adalah kabar gembira yang dipercepat bagi seorang mukmin.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan kebaikan kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau bersabda,

تلك عاجل بشرى المؤمن

“Hal tersebut merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” [HR. Muslim]

Akan tetapi, janganlah sampai pujian-pujian manusia tersebut membawa seseorang kepada sifat ‘ujub (bangga diri, merasa lebih dari yang lain dan lupa bahwa keutamaan dari Allah ta’ala). Karena hakikat sifat ‘ujub adalah bentuk lain dari riya’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Riya’ adalah seseorang menyekutukan Allah dengan makhluq, sedang ‘ujub adalah menyekutukan Allah dangan dirinya sendiri.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/277]

Bahaya sifat ‘ujub telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

ثلاث مهلكات : شح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه

“Tiga perkara yang membinasakan; kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan kekaguman seseorang terhadap dirinya (‘ujub).” [HR. Al-Baihaqi, Ash-Shahihah: 1802]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

15 COMMENTS

  1. assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    adakah tauhid mulkiyah dan syirik mulkiyah ?? ada teman pernah mengatakannya, dia berdalil dengan surat An-naas 1-3, bukankah sistematika pembagian tauhid juga adalah ijtihadiyah ulama ?

    mohon bimbingan

    jakallahu khairan katsira

    • Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, kalau yang dimaksud dengan tauhid mulkiyah adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam al-mulk (kekuasaan) maka telah tercakup dalam tauhid rububiyah, jadi tidak perlu dibuat pembagian tauhid tersendiri.

      Para ulama telah memperingatkan tentang orang-orang yang menambahkan tauhid mukiyah dan hakimiyah padahal telah tercakup dalam tauhid rububiyah dan uluhiyah, karena yang mereka inginkan dari itu semata untuk mendukung aqidah takfir mereka kepada pemerintah muslim dan pada saat yang sama mereka tidak terlalu memperhatikan permasalahan tauhid uluhiyah, seperti yang terjadi pada kelompok Ikhwanul Muslimin dan yang semisal dengan mereka. Kalaupun dikatakan pembagian tauhid itu ijtihadiyah maka tidak semua orang yang berhak berijtihad dalam masalah ini. Wallahu A’lam wa jazaakumullahu khairon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here