Studi Komprehensif Hadits-hadits tentang Puasa Sya’ban

0

بسم الله الرحمن الرحيم

 Al-Ustadz Abdul Barr hafizhahullah

Puasa Sya'banالحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و أصحابه و من والاه، أما بعد

Puja dan syukur kita panjatkan kepada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, serta sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulillah beserta keluarganya, sahabatnya, serta orang-orang yang setia kepadanya.

Pada kesempatan kali ini insya Allah kita akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan puasa Sya’ban.

Ada beberapa hadits yang menyebutkan tentang puasa Sya’ban dan keutamaannya. Diantaranya hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasaai serta yang lainnya dari sahabat Usamah bin Zaid radhiallahu’anhuma, di situ dia berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

 قلت: ولم أرك تصوم من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع الأعمال فيه إلى رب العالمين عز وجل فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Wahai Rasulullah aku tidak melihat engkau berpuasa dari bulan-bulan dalam setahun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan yang kebanyakan orang lalai darinya, yang ada di antara Rajab dan Ramadhan, dia adalah bulan diangkatnya amalan kepada Allah Rabbil ‘alamin azza wa jalla maka aku senang amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” [Shahih An-Nasaai: 2221]

Hadits tersebut sangat jelas menunjukkan keutamaan berpuasa Sya’ban.

Kemudian ada beberapa permasalahan:

Pertama: Apakah disunnahkan untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Sya’ban?

Jawabannya adalah disunnahkan sebagaimana dalam fatawa Syaikh Bin Baz, beliau berkata,

وهكذا شعبان فقد كان يصومه كله صلى الله عليه وسلم، وربما صامه إلا قليلا كما صح ذلك من حديث عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما

“Demikian juga dengan puasa Sya’ban, sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang beliau berpuasa hampir seluruhnya kecuali sedikit sebagaimana telah shahih dari Aisyah dan Ummu Salamah.”

Kedua: Kalau disunnahkan untuk berpuasa sebulan penuh bagaimana dengan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadahan sebagaimana hadits yang shahih dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau berkata,

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari pada Sya’ban”. Demikian juga ada hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma yang semakna.

Penjelasannya sebagai berikut:

Hadits Aisyah tersebut ada beberapa lafal tambahan sebagaimana di Shahih Al-Bukhori no. 1970 disebutkan,

 كان يصوم شعبان كله

“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban semuanya.”

Adapun tambahan di Shahih Muslim no. 1156 disebutkan,

كان يصوم شعبان كله كان يصوم شعبان إلا قليلا

“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban semuanya,(sebagaimana) beliau berpuasa Sya’ban hampir semuanya kecuali sedikit.”

Ada riwayat juga dari beliau (Aisyah) dan Ummu Salamah radhiyallahu’anhuma di Sunan At-Tirmidzi (736),

كان يصوم شعبان إلا قليلا بل كان يصومه كله

“Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa kebanyakannya kecuali sedikit dan bahkan beliau berpuasa semuanya.”

Diriwayatkan juga oleh Ummu Salamah (736) dengan lafal,

ما رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم شهرين متتابعين إلا شعبان و رمضان

“Tidak pernah aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ber puasa dua bulan berturut-turut kecuali Sya’ban dan Ramadhan.”

Telah dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di Fathul Baari (4/214),

قال الترمذي كأن بن المبارك جمع بين الحديثين بذلك وحاصله أن الرواية الأولى مفسرة للثانية مخصصة لها وأن المراد بالكل الأكثر وهو مجاز قليل الاستعمال واستبعده الطيبي قال لأن الكل تأكيد لإرادة الشمول ودفع التجوز فتفسيره بالبعض مناف له قال فيحمل على أنه كان يصوم شعبان كله تارة ويصوم معظمه أخرى لئلا يتوهم أنه واجب كله كرمضان 

“Berkata Imam Tirmidzi: Sepertinya Ibnul Mubaarak mengkompromikan antara dua hadits tersebut. Hadits pertama dikhususkan dengan hadits kedua, dan maksud sebulan penuh adalah kebanyakan harinya, akan tetapi itu adalah majaz yang jarang dipakai (dalam Bahasa Arab).

Dan (yang demikian) telah dianggap jauh (dari pemahaman yang benar) oleh Imam At-Thibi, beliau berkata: Karena kata (الكل) sebagai bentuk penekanan bahwa yang diinginkan adalah keseluruhan, dan dalam kesempatan ini sebagai bentuk penolakan terhadap majaz, dan menafsirkan semua dengan sebagian bertentangan dengan hal tersebut (أن الكل تأكيد لإرادة الشمول).

Kemudian beliau berkata: Maka maknanya yang diinginkan adalah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban sebulan penuh terkadang dan kali lain kebanyakan harinya agar jangan dikira wajib semuanya seperti ramadhan.”

Berkata Al-‘Aini di Syarah Bukhorinya tatkala menukil perkataan Imam Tirmidzi dari Ibnul Mubarak,

وقال شيخنا زين الدين، رحمه الله تعالى: هذا فيه ما فيه، لأنه قال فيه إلا شعبان ورمضان، فعطف رمضان عليه يبعد أن يكون المراد بشعبان أكثره، إذ لا جائز أن يكون المراد برمضان بعضه، والعطف يقتضي المشاركة فيما عطف عليه

“Berkata guru kami Zainnuddin rahimahullah (atas tafsiran Ibnul Mubaarok) ada pembahasan di dalamnya karena disebutkan dengan lafal (شعبان و رمضان) digabungkan antara Sya’ban dan Ramadhan, sementara (عطف), penggabungan antara Ramadhan dengan Sya’ban membuat jauh penafsiran puasa Sya’ban dengan kebanyakannya karena tidak boleh diinginkan dengan Ramadhan sebagian Ramadhan saja, karena (العطف), penggabungan tersebut mengharuskan adanya kesamaan satu dengan yang lainnya (sama-sama berpuasa sebulan penuh).”

Kecuali dibangun di atas mazhab yang mengatakan lafal satu bisa dibawa ke dua makna hakikat dan majaz, maka dikomentari oleh Al-‘Aini: Itupun tidak bisa dalam permasalahan ini karena di sini bukan satu lafal tapi ada dua lafal Sya’ban dan Ramadhan.”

Demikian juga dikatakan oleh mulla Ali Al-Qori di Al-Mirqoh no hadits 2036 (4/1409),

قال النووي: الثاني تفسير للأول، وبيان قولها كله أي غالبه اهـ. وهو تأويل بعيد، حمله عليه قولها في الرواية الأولى ” قط إلا رمضان ” وقيل: المراد أنه يصومه كله في سنة وأكثره في سنة أخرى فالمعنى على العطف اهـ. وهو أقرب لظاهر اللفظ

“Berkata Imam Nawawi: Lafal kedua sebagai tafsir yang pertama  dan penjelasan ungkapan “Semuanya” yang dimaksudkan kebanyakannya, dan itu takwil yang jauh (dari kebenaran) karena dia melihat perkataannya (Aisyah) di riwayat pertama, “Sama sekali tidak kecuali ramadhan”.

Dan dikatakan yang dimaksud adalah, beliau shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban terkadang di suatu tahun semuanya dan terkadang sebagian besar hari di tahun yang lain, dan itu makna dari (العطف), penggabungan Ramadhan dan Sya’ban, dan ini lebih dekat dengan dhohir.”

Dari penjelasan di atas kita pahami bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terkadang berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan.

Kemudian bisa juga dikatakan, seandainyapun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, itu bukan berarti puasa Sya’ban sebulan penuh bukan sunnah. Hal tersebut dikarenakan beberapa alasan:

Satu: Sudah ada hadits umum yang menunjukkan tentang sunnahnya puasa Sya’ban sebulan penuh sebagaimana hadits Usama bin Zaid radhiyallahu’anhuma tadi.

Dua: Tidaklah semua yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berarti hal tersebut tidak sunnah atau terlarang. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (Masalah 285),

وَمَا صَامَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – قَطُّ شَهْرًا كَامِلًا غَيْرَ رَمَضَانَ؛ وَلَيْسَ هَذَا بِمُوجِبٍ كَرَاهِيَةَ صَوْمِ شَهْرٍ كَامِلٍ تَطَوُّعًا

“Dan ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak berpuasa sebulan penuh sama sekali kecuali Ramadhan maka ini tidak menunjukkan makruhnya berpuasa sebulan penuh tathowwu’ (sunnah) pada bulan lainnya.”

Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak berpuasa Daud bukan berarti puasa Daud tidak sunnah, sebagaimana juga Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak rutin sholat Dhuha bukan berarti rutin sholat Dhuha tidak sunnah. Sehingga para sahabat tetap berkeyakinan sunnahnya sholat Dhuha secara rutin sebagaimana yang dipahami oleh Aisyah dan Abu Huroiroh radhiyallahu’anhuma.

[Faidah] Permasalan yang dibahas oleh ulama apakah perkara yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka hal tersebut terlarang?

Jawabannya, tidak semua perkara yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian menjadi terlarang atau tidak disunnahkan. Sebagaimana dikatakan,

الترك ليس بحجة في شرعنا *** لا يقتضي منعا ولا إيجابا

فمن ابتغى حظرًا بتـرك نبينا *** ورآه حكمًا صادقًا وصوابا

 قد ضل عن نهج الأدلـة كلها *** بل أخطأ الحكم الصحيح وخاب

 لا حظر يمكن إلا إن نهي أتى *** متوعــدا لمخالفيه عذابا

أو ذم فعل مؤذن بعقـوبة *** أو لفظ تحـريم يواكــب عابا

        Tidaklah perkara yang ditinggalkan sebagai hujjah dalam syariat kita …

Tidaklah juga ia menunjukkan hal yang terlarang atau kewajiban …

Siapa yang berdalil tentang terlarangnya perkara yang ditinggalkan Nabi kita -shallallahu’alaihi wa sallam …

Dan dia berpendapat sebagai suatu hukum yang benar …

Maka sungguh dia telah melenceng dari metode pendalilan …

Bahkan dia telah menyalahi hukum yang benar …

Ketiga: Kalau disunnahkan berpuasa Sya’ban sebulan penuh, lalu bagaimana dengan hadits, “Kalau sudah masuk pertengahan Sya’ban janganlah kalian berpuasa.” Hadits ini dikeluarkan oleh imam-imam sebagai berikut:

 الإمام أحمد (442/2)، و أبو داود و الترمذي (738)،والنسائ و ابن ماجة (1651)، و الدارمي (1691)، و عبد الرزاق (7325)، و ابن أبي شيبة (21/3)، و ابن حبان (3589) و (3591)، و الحاكم و الطحاوي في شرح معاني الآثار (82/2)، و البيهقي (209/4)  كلهم من طريق العلاء بن عبد الرحمن عن أبيه عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلّى الله عليه و سلّم

Imam Ahmad (2/442), Abu Daud dan Tirmidzi (738), An-Nasai dan Ibnu Majah (1651), Ad-Darimi (1691), ‘Abdur Rozzaq (7325), Ibnu Abi Syaibah (3/21), Ibnu Hibban (3589, 3591), Al-Hakim, Ath-Thahawi dalam Syarhu Ma’aanil Aatsar (2/82), Al-Baihaqi (4/209). Semuanya melalui jalan Al-‘Ala’ bin AbdurRahman dari bapaknya dari Abu Hurairoh dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Hadits ini dishohihkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu AbdilBarr, dan kalangan ulama sekarang Syaikh Albani. Akan tetapi disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab,

وتكلم فيه من هو أكبر من هؤلاء وأعلم وقالوا: هو حديث منكر منهم الرحمن بن المهدي والإمام أحمد وأبو زرعة الرازي والأثرم وقال الإمام أحمد: لم يرو العلاء حديثا أنكر منه

“Telah melemahkan hadits ini ulama yang lebih besar dan lebih berilmu dari yang tadi disebutkan, seperti AbdurRahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah dan Al-Atsram. Berkata Imam Ahmad: Al-‘Ala’ tidaklah meriwayatkan hadits yang lebih mungkar melebihi hadits ini.”

Sampai disebutkan di Makroj ‘Ilal Iklil,

وَقَدْ خَرَّجَ مُسْلِمٌ أَحَادِيثَ الْعَلَاءِ , أَكْثَرَهَا فِي الصَّحِيحِ , وَتَرَكَ هَذَا وَأَشْبَاهَهُ مِمَّا تَفَرَّدَ بِهِ الْعَلَاءُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Dan telah dikeluarkan oleh Imam Muslim hadits Al-‘Ala’ dan telah banyak dikeluarkan di dalam Shahihnya akan tetapi beliau tidak keluarkan hadits ini dan yang semisalnya tatkala Al-‘Ala’ bersendirian meriwayatkan dari bapaknya dari Abu Hurairoh.”

Kesimpulannya, bisa dikatakan memang Al-‘Ala’ tsiqoh bahkan banyak haditsnya dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya akan tetapi ada kalanya perawi yang tsiqoh bisa salah dalam meriwayatkan hadits, termasuk hadits ini karena Al-‘Ala’ telah bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini sehingga Imam Muslim tidak mengeluarkannya di dalam Shahihnya sebagaimana yang dipahami oleh Imam Al-Hakim dalam Makhroj ‘Ilal Iklil.

Walaupun memang tidak semua hadits yang tidak dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya adalah hadits dho’if, akan tetapi dalam hal ini ada penguat yang menunjukan hadits ini bermasalah karena telah banyak para ulama ‘ilal hadits yang mengingkari hadits ini, terlebih seperti AbdurRahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Dawud dan ulama ‘ilal yang lainnya.

Keempat: Kalaupun hadits tersebut dianggap shahih maka penjelasannya sebagai berikut, Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata,

بسم الله والحمد لله وبعد :

فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شعبان كله وربما صامه إلا قليلاً ، كما ثبت ذلك من حديث عائشة وأم سلمة . أما الحديث الذي فيه النهي عن الصوم بعد انتصاف شعبان فهو صحيح كما قال الأخ العلامة الشيخ ناصر الدين الألباني ، والمراد به النهي عن ابتداء الصوم بعد النصف ، أما من صام أكثر الشهر أو الشهر كله فقد أصاب السنة . والله ولي التوفيق 

Bismillah walhamdulillaah wa ba’adu; Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang hampir semuanya sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah. Adapun hadits yang melarang berpuasa stelah pertengahan Sya’ban adalah shahih sebagaimana dikatakan Al-Akh Al-‘Allamah Asy-Syaikh Nasiruddin Al-Albani, maksudnya adalah larangan memulai puasa Sya’ban setelah lewat pertengahan bulan, adapun berpuasa kebanyakan bulan atau sebulan penuh maka dia telah melaksanakan sunnah. Wallaahu Walliyut taufiq.

Dan Berkata Imam Al-Qurtbi di Al-Mufhim,

ويرتفع ما يتوهم من المعارضة، بأن يحمل النهي على من لم تكن له عادة بصوم شيء من شعبان، فيصومه لأجل رمضان، وأما من كانت له عادة أن يصوم، فليستمر على عادته. وقد جاء هذا أيضاً في بقية الخبر؛ فإنه قال: “إلا أن يكون أحدكم يصوم صوماً، فليصمه”، كما تقدم

“Terangkat persangkaan adanya pertentangan dengan dibawakan larangan bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa Sya’ban, lalu dia berpuasa karena Ramadhan. Adapun orang yang punya kebiasaan berpuasa maka hendaklah dia lanjutkan puasanya.”

Demikian juga dipahami oleh Ibnul Qoyyim dalam Tahzibus Sunan dan Imam Syaukani di Nail Awthor.

Kelima: Ketika dikatakan disunnahkan puasa Sya’ban sebulan penuh atau kebanyakannya, bagaimana dengan hadits, “Janganlah mendahului Ramadhan dengan berpuasa sebelumnya satu atau dua hari.”

Jawabannya, hadits tersebut ada kelanjutannya, “Kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa maka hendaklah dia berpuasa.”

Hadits tersebut jelas sekali menunjukkan tentang bolehnya mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kalau seseorang memiliki kebiasaan puasa sunnah seperti puasa Daud, puasa Senin Kamis, puasa Sya’ban dan puasa sunnah yang lain. Termasuk juga apabila seseorang punya hutang puasa Ramadhan ataupun nazar sebagaimana disebutkan dalam Fathul Baari dan yang lainnya.

Berkata Ibnu Rajab di Lathooiful Ma’arif,

فقال كثير من العلماء كأبي عبيد ومن تابعه كالخطابي وأكثر شراح الحديث: أن هذا الرجل الذي سأله النبي صلى الله عليه وسلم كان يعلم أن له عادة بصيامه أو كان قد نذره فلذلك أمره بقضائه

“Berkata banyak ulama seperti Abu ‘Ubaid dan orang yang mengikutinya seperti Al-Khotthobi dan kebanyakan para pensyarah hadits, bahwa orang yang bertanya kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam telah mengetahui kalau dia punya kebiasaan berpuasa atau puasa nazar , oleh karena itu beliau perintahkan untuk diqodho’.”

Sebagaimana dinukil Ibnu Rajab dari Imam Syafii,

قد ذكر الشافعي في كتاب مختلف الحديث احتمالا في معنى قوله: “إلا من كان يصوم صوما فليصمه” وفي رواية: “إلا أن يوافق ذلك صوما كان يصومه أحدكم” أن المراد بموافقة العادة صيامه على عادة الناس في التطوع بالصيام دون صيامه بنية الرمضانية للاحتياط

“Disebutkan oleh Imam Syafii di kitab Mukhtalaful Hadits tentang kemungkinan makna hadits, “Kecuali orang yang biasa berpuasa hendaklah dia berpuasa (sesuai dengan kebiasaanya”. Dalam sebagian riwayat, “Kecuali bertepatan dengan puasa (kebiasaannya)”. bahwa maksudnya bertepatan  kebiasaan puasanya seperti kebiasaan orang dalam puasa sunnah bukan puasa dengan niat hati-hati karena ramadhan.”

Keenam: Kalau begitu apa maksud dari hadits jangan mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya?

Jawabannya, disebutkan di dalam Fathul Baari,

 قال العلماء : معنى الحديث : لا تستقبلوا رمضان بصيام على نية الاحتياط لرمضان . قال الترمذي لما أخرجه : العمل على هذا عند أهل العلم ، كرهوا أن يتعجل الرجل بصيام قبل دخول رمضان لمعنى رمضان ا هـ . 

“Berkata para ulama: Makna hadits adalah janganlah mendahului puasa Ramadhan dengan niat hati-hati masuk Ramadhan. Berkata Imam Tirmidzi ketika mengeluarkan hadits ini: Amal ulama seperti ini adanya, mereka membenci orang yang tergesa-gesa berpuasa sebelum masuk Ramadhan karena makna Ramadhan.”

Berkata Al-Hafiz Ibnu Hajar,

وفي الحديث رد على من يرى تقديم الصوم على الرؤية كالرافضة

“Dalam hadits tersebut ada bantahan bagi orang yang mendahulukan Ramadhan sebelum ru’yah seperti Syi’ah Rhafidoh.”

Ketujuh: Bagaimana dengan riwayat dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu, “Siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (masuk tidaknya Ramadhan) maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”

Yang dimaksud yaumus syak (hari yang diragukan, masuk tidaknya Ramadhan) telah disebutkan oleh Ibnu Muflih di Mubdi’ Syarah Muqni,

وَهُوَ يَوْمُ الثَّلَاثِينَ مِنْ شَعْبَانَ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي السَّمَاءِ عِلَّةٌ، وَلَمْ يَتَرَاءَ النَّاسُ الْهِلَالَ، وَقَالَ الْقَاضِي وَالْأَكْثَرُ: أَوْ شَهِدَ بِهِ مَنْ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ، قَالَ: أَوْ كَانَ فِي السَّمَاءِ عِلَّةٌ

“Maksudnya adalah hari ketiga puluh dari bulan Sya’ban kalau di langit tidak ada penghalang (seperti mendung, pen) dan orang-orang tidak melihat hilal, dan berkata Al-Qodhi, dan mayoritas (manusia tidak melihatnya), atau telah bersaksi orang yang tertolak persaksiannya, dia berkata atau ketika di langit ada penghalang.”

Berkata Syaikh Ibnu ‘Uthaimin di Syarah Mumti’,

قوله: «والشك» أي: يكره صوم يوم الشك، ويوم الشك هو ليلة الثلاثين من شعبان، إذا كان في السماء ما يمنع رؤية الهلال كغيم وقتر

Yaumus syak adalah malam tiga puluh bulan Sya’ban bila di langit ada penghalang untuk melihat hilal seperti awan atau kabut.”

Kemudian beliau menguatkan hal tersebut. Dan menegaskan bahwa puasa yaumus syak adalah haram kalau dimaksudkan dengannya untuk hati-hati masuk Ramadhan.

Kesimpulan: Adalah haram untuk berpuasa yaumus syak yaitu hari ke 30 Sya’ban (apabila masih ragu hari tersebut masuk Ramadhan atau belum) dengan bermaksud untuk hati-hati masuk Ramadhan. Dan sebagaimana penjelasan kelima dan keenam adalah tidak mengapa seseorang untuk berpuasa pada hari tersebut bila bertepatan dengan kebiasaanya berpuasa sunnah, demikian juga puasa nazar ataupun qodho. Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits yang lalu dari Abu Hurairoh dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لا يتقدمنَّ أحدكم رمضان لصوم يوم أو يومين ؛ إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه ؛ فليصم ذلك اليوم

“Janganlah mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya kecuali bila dia berpuasa (kebiasaannya) hendaklah dia berpuasa.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Demikian juga dengan hadits Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu’anha yang lalu sebagian riwayatnya menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyambung sya’ban dengan Ramadhan dengan tidak memberi jeda satu haripun.

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت : ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صام شهرين متتابعين إلا أنه كان يصل شعبان برمضان

ولفظ أبي داود : أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكن يصوم من السنة شهرا تاما إلا شعبان يصله برمضان

“Dari Ummu Salamah radhiyallaahu’anha, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali beliau menyambung Sya’ban dengan Ramadhan.” [HR. Ahmad, Abu Daud dan lainnya]

Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak pernah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh kecuali sya’ban beliau menyambungnya dengan ramadhan”. [Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud: 2048]

Kedelapan: Bagaimana dengan hadits ‘Imron bin Husain,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له أو لآخر أصمت من سرر شعبان قال لا قال فإذا أفطرت فصم يومين

“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata kepadanya atau yang lainnya: Apakah engkau berpuasa di akhir Sya’ban? Beliau menjawab: Tidak, lalu beliau berkata: “Kalau begitu berpuasalah dua hari.” [HR. Muslim]

Selintas hadits tersebut juga bertentangan dengan hadits yang melarang mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari. Maka berkata Imam Nawawi ketika mensyarah hadits tersebut,

يقال : هذا الحديث مخالف للأحاديث الصحيحة في النهي عن تقديم رمضان بصوم يوم ويومين ، ويجاب عنه بما أجاب المازري وغيره ، وهو أن هذا الرجل كان معتاد الصيام آخر الشهر أو نذره فتركه بخوفه من الدخول في النهي عن تقدم رمضان ، فبين له النبي صلى الله عليه وسلم أن الصوم المعتاد لا يدخل في النهي ، وإنما ننهى عن غير المعتاد . والله أعلم

“Dikatakan bahwa hadits ini menyelisihi hadits-hadits yang shahih tentang larangan mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, maka dijawab dengan apa yang telah dikatakan oleh Al-Maziri dan yang lainnya, yaitu orang ini mempunyai kebiasaan berpuasa (sampai) akhir bulan (Sya’ban) atau telah bernazar lalu dia tinggalkan karena kawatir masuk kedalam larangan mendahului Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa puasa yang sudah menjadi kebiasaan tidak termasuk ke dalam larangan akan tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang yang tidak menjadi kebiasaannya. Wallahu A’lam.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *