Jangan Silau dengan Kebaikan Orang Kafir

15
150

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kewajiban Berlepas Diri dari Kekafiran dan Orang Kafir

Pertama: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk membenci musuh-musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka.

Karena keimanan kepada kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”, yaitu meyakini bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya yang pantas disembah, dan semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut setiap muslim untuk memusuhi musuh-musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan mencintai wali-wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).

Allah ta’ala menegaskan,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah:  22]

Juga firman Allah jalla wa ’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah yang satu saja.” [Al-Mumtahanah: 4]

Juga firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]

Kedua: Aqidah Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan “kebaikan” orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak, tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]

Juga firman-Nya,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]

Juga firman-Nya,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Juga firman-Nya,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

Ketiga: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]

Juga firman-Nya,

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]

Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasuk Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka…?!

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

Juga firman-Nya,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]

Juga firman-Nya,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

Kelima: Aqidah Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta dan tokoh-tokoh agama Yahudi dan Nasrani adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan manusia, maka janganlah tertipu dengan “kebaikan-kebaikan” mereka…!

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]

Juga firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]

15 COMMENTS

  1. artikel ini cuman mengajarkan kebencian, penulis adalah pengkhianat bangsa yg berusaha memecah belah persatuan indonesia

    • بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

      Tuduhan Anda bahwa kami adalah pengkhianat bangsa yang memecah belah persatuan Indonesia mengingatkan kami pada ucapan orang-orang kafir bangsa Qurays ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mencerca tuhan-tuhan mereka dan mengajarkan keharusan memusuhi orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan tersebut serta tidak boleh bersatu dengan mereka meskipun berasal dari satu bangsa, bahkan keluarga sendiri.

      Apa ucapan mereka?

      Ahli sejarah, Ibnu Hisyam meriwayatkan, “Ketika orang-orang kafir Quraisy membicarakan tentang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka mereka mengatakan,

      ما رأينا مثل ما صبرنا عليه من امر هذا الرجل قط سفه أحلامنا وشتم آباءنا وعاب ديننا وفرق جماعتنا وسن آلهتنا لقد صبرنا منه على أمر عظيم أو كما قالوا

      “Kita belum pernah sesabar ini menghadapi seseorang melebihi orang ini, padahal dia telah membodoh-bodohkan orang-orang pintar di kalangan kita, mencerca nenek moyang kita, mencemooh agama kita, memecah belah persatuan kita dan mencela tuhan-tuhan kita. Sungguh kita telah bersabar darinya dalam perkara besar.” Atau seperti yang mereka katakan.” [Sirah Ibni Hisyam, 2/127]

      Dan ucapan orang-orang kafir yang sebangsa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ini sedikitpun tidak dibantah oleh beliau. Hanya bedanya, mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang salah, sedangkan dalam Islam itu suatu kebenaran, sebab dalam Islam tidak ada basa basi, yang salah harus dicela agar dijauhi, yang benar dipuji agar diikuti.

      Sehingga Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah menegaskan,

      وَمُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

      “Dan Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- telah memecah belah antara manusia.” [HR. Al-Bukhari, no. 7281 dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

      Kenyataannya memang demikian, bangsa Qurays terpecah menjadi dua, pengikut kebenaran dan pengusung kesesatan, orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir, ditambah satu kelompok lagi yang samar-samar, yaitu orang-orang yang lisannya mengaku muslim tapi hatinya menyembunyikan permusuhan dan kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin, yaitu orang-orang munafik.

      Ada di kelompok manakah kita saat ini!?

      Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu.

  2. […] Memberikan Penghargaan Kepada Musuh Islam Gambaran Kerapuhan Imansumber: Nasihatonline […]

  3. Bismillah… Bertaqwalah kepada Allah wahai orang yg mengaku bernama anon, pada siapa lg kita mengambil kebenaran atau nasehat kalau bukan dari Al – Qur’an dan Sunnah… salah satu bentuk kesombongan ialah menolak kebenaran, BERTAQWALAH !!! Sebelum nafas ini putus, Barakallahu Fiikum.

  4. Bismillah, bertaqwalah kepada Allah ta`ala ya…. anon, tidak selayakya diucapkan kata2 tersebut atau dituliskan karena tulisan anda atau komentar anda akan dipertanggungjwabkan dihadapan Allah ta`ala. selayaknya seorang muslim tunduk dan taat kepada al qur`an dan as sunnah dengan pemahaman salafus soleh. baarakallahufiikum.

  5. Subhanalloh..tulisan yang sangat bagus serta memberikan informasi yang benar tentang siapa sesungguhnya penerima Award dari Ma’arif Institute. Semoga umat Islam tidak terkecoh dengan dengan musuh musuh Alloh SWT [subhaanahu wa ta’ala].

  6. Astaghfirullooh…wa na’uudzubillaahi min dzaalik…!!
    Akibat belajar islam di negeri kafir, akhirnya hanya menghasilkan generasi-generasi islamophobia dari kalangan JAMA’AH SEPILIS (SEKULARIS & PRURALIS) model caknur, gusdur, dan masih banyak lagi yg sejenis dg pendahulu mereka. Sekarang ini generasi penerus kesesatan ini telah mulai bertebaran siang dan malam dari sabang sampai merauke menebar makar thdp kaum muslimin dan mencari mangsa dari anak bangsa ini untuk ditanamkan pd diri-diri mereka perasaan minder, malu, dan rendah diri dihadapan kaum kuffar penghina Alloh dan RosulNYA.
    Dan kini dg idzin dan kemudahan dari Alloh Tabaroka waTa’ala di Indonesia khususnya sejak awal tahun 2000an mulai semarak DAKWAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH YG mengusung MANHAJ SALAF, MANHAJ WARISAN NABI YG MULIA & TIGA GENERASI setelahnya yg Alloh SubhanahuwaTa’ala telah meridhoi kehidupan generasi tsb. Generasi yg gemilang yg mendakwahi umat ini dg DAKWAH TAUHID membebaskan manusia dari perbudakan sesamanya menuju penghambaan yg hakiki dan diridhoi, penghambaan hanya kpd satu-satunya ROBB Penguasa alam jagad raya dan seisinya, Alloh Jalla wa ‘Alaa
    Dakwah nan mulia lagi berkah yg menembus batas-batas sekat negara, kelompok, ras dan suku apapun mereka demi meninggikan KALIMAT ALLOH (WA KALIMATULLOHI HIYAL ‘ULYA…) dan merendahkan serendah-rendahnya slogan-slogan kaum kuffar (demokrasi, humanisme, hak asasi, kesetaraan gender, free sex, dsb) yg merupakan slogan-slogan ASHOBIYYAH DAN JAHILIYYAH yg disitu ada iblis laknatullohi alaih sbg panglimanya…
    Walloohul Musta’aan

  7. bismillaah.
    artikel yg ilmiah dan mudah dipahami, yg menyiratkan kebencian kepada kekafiran dan orang-orang kafiir. Alhamdulillaah. barakallaahu fiikum.

  8. Jazakulloh ustad, tulisan/artikel yang sangat ilmiah, sangat membantu sekali dalam mengcounter propaganda-propaganda kaum kuffar yang dikemas seolah-olah ilmiah, sehingga banyak ummat yang tertipu dengan slogan “humanis, persamaan hak, demokratis, kemanusiaan” dan istilah-istilah rendah lainnya, Tetapi hakikatnya adalah makar terhadap agama yang mulia ini…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here