Ikhlas dalam Menuntut Ilmu dan Keinginan Meraih Gelar atau Ijazah

7
151

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.” [HR. At-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu, Shahih At-Targhib: 106]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” [HR. Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ath-Targhib: 105]

Beberapa Pelajaran:

1) Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung apabilla diniatkan ikhlas karena Allah ta’ala.

• Sebagian ulama berkata,

العلم صلاة السر وعبادة القلب

“Ilmu adalah sholat yang tersembunyi dan ibadah hati.” [Hilyah Thalibil ‘Ilmi (dicetak bersama Al-Majmu’ah Al-‘Ilmiah), hal. 141]

• Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

العلم لا يَعْدله شيء لمن صحت نيته قالوا: وكيف تصح النية يا أبا عبد الله؟ قال: ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar (dalam menuntut ilmu).” Mereka bertanya, “Bagaimana benarnya niat wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Seorang yang menuntut ilmu itu meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.” [Kitabul ‘Ilmi libnil ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22]

2) Bagaimana cara mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu:

• Engkau niatkan untuk menjalankan perintah Allah ta’ala (karena Allah ta’ala).

• Engkau niatkan untuk menjaga syari’at Allah ta’ala, sebab menjaga syari’at itu dilakukan dengan menghapalnya dalam dada dan menulisnya dalam buku.

• Engkau niatkan untuk membela syari’at Allah ta’ala, yakni menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang disandarkan kepada syari’at.

• Engkau niatkan untuk meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, terlebih engkau tidak mungkin meneladani beliau sampai engkau mengetahui petunjuk beliau shallallahu’alaihi wa sallam. (Diringkas dari Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 7-9)

3) Celaan yang keras terhadap dua golongan dalam menuntut ilmu;

• Orang yang membantah para ulama untuk riya’ dan sum’ah agar terlihat atau terdengar ilmunya,

• Mendebat orang-orang bodoh untuk berbangga-bangga dan sombong dengan ilmunya (lihat Faidhul Qodir, 6/176).

4) Cinta popularitas adalah penyakit para penuntut ilmu yang harus diwaspadai.

• Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata,

ما صَدَق الله عبد يحب الشهرة بعلم أو عمل أو كرم

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang cinta popularitas dengan ilmu, amal atau kedermawanan.” [Bayaanul ‘Ilmi, hal. 63]

• Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata,

لا يجد حلاوة الآخرة رجل يحب أن يعرفه الناس

“Tidak akan mendapatkan manisnya akhirat, orang yang suka dikenal oleh manusia.” [Al-Hilyah, 8/343, Bayaanul ‘Ilmi, hal. 64]

5) Celaan yang keras terhadap orang yang berniat menuntut ilmu agama untuk meraih tujuan-tujuan duniawi semata seperti menginginkan ijazah, gelar sarjana, jabatan dan gaji yang tinggi. Bahkan niat tersebut termasuk kesyirikan, Allah ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya (semata-mata), niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud: 15-16]

• Akan tetapi kalau ia meniatkan ijazah tersebut untuk lebih membantunya dan memudahkannya dalam berdakwah maka itu niat yang baik. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا كانت نية الإنسان نيل الشهادة من أجل نفع الخلق تعليمًا أو إدارة أو نحوها، فهذه نية سليمة لا تضره شيئًا؛ لأنها نية حق

“Apabila niat seseorang mendapat ijazah untuk memberi manfaat kepada makhluk dengan pengajaran, pengaturan (manajemen) dan yang semisalnya, maka ini niat yang selamat, tidak membahayakan sedikit pun, karena niatnya benar.” [Kitabul ‘Ilmi, hal. 21]

• Demikian pula apabila ia menuntut ilmu agama dengan niat ikhlas karena Allah ta’ala dan juga menginginkan ijazah untuk kemanfaatan duniawi seperti gaji yang tinggi maka tidak apa-apa insya Allah ta’ala. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أن الإنسان إذا أراد بعمله الحسنيين- حسنى الدنيا، وحسنى الآخرة-; فلا شيء عليه لأن الله يقول: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ}، فرغبه في التقوى بذكر المخرج من كل ضيق والرزق من حيث لا يحتسب.

“Bahwa manusia, jika menginginkan dengan amalannya dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, maka tidak ada dosa atasnya, karena Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka.” (Ath-Tholaq: 2-3)

Maka dalam ayat ini, Allah ta’ala memotivasi untuk bertakwa dengan menyebutkan jalan keluar dari kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

• Berbeda dengan niat yang tercampur dengan riya’ atau sum’ah, yaitu memperlihatkan atau memperdengarkan amalan demi mendapat pujian makhluk, ini diharamkan dalam semua keadaan, bahkan termasuk kategori syirik kepada Allah ta’ala. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

فإن قيل: من أراد بعمله الدنيا كيف يقال إنه مخلص، مع أنه أراد المال مثلا؟
أجيب: إنه أخلص العبادة ولم يرد بها الخلق إطلاقا، فلم يقصد مراءاة الناس ومدحهم، بل قصد أمرا ماديا; فإخلاصه ليس كاملا لأن فيه شركا، ولكن ليس كشرك الرياء يريد أن يمدح بالتقرب إلى الله، وهذا لم يرد مدح الناس بذلك، بل أراد شيئا دنيئا غيره.
ولا مانع أن يدعو الإنسان في صلاته، ويطلب أن يرزقه الله المال، ولكن لا يصلي من أجل هذا الشيء; فهذه مرتبة دنيئة.
أما طلب الخير في الدنيا بأسبابه الدنيوية; كالبيع، والشراء، والزراعة; فهذا لا شيء فيه، والأصل أن لا نجعل في العبادات نصيبا من الدنيا، وقد سبق البحث في حكم العبادة؛ إذا خالطها الرياء، في باب الرياء.

“Jika dikatakan: Barangsiapa yang menginginkan dunia (dan akhirat) dengan amalannya, bagaimana bisa dikatakan bahwa dia orang yang ikhlas, padahal dia menginginkan harta –misalkan-?

Aku jawab: Sesungguhnya ia telah mengikhlaskan ibadah dan tidak menginginginkan (pujian) makhluk secara mutlak, maka ia tidak bermaksud untuk mempertontonkan amalannya kepada manusia dan meraih pujian mereka, tetapi ia bermaksud mendapatkan sesuatu yang sifatnya materi, maka keikhlasannya tidak sempurna, karena padanya ada percampuran (tidak murni), akan tetapi tidak sama dengan syirik seperti riya’, yang menginginkan agar dipuji ketika mendekatkan diri kepada Allah. Adapun yang ini, tidak menginginkan pujian manusia ketika beribadah, namun ia menginginkan sesuatu yang rendah selain itu.

Dan tidak mengapa seseorang berdoa dalam sholatnya, meminta rezeki dari Allah, akan tetapi janganlah ia sholat karena hal ini, karena ini tingkatan yang rendah. Adapun mengejar kebaikan dunia dengan amalan-amalan dunia, seperti jual beli dan pertanian, maka ini tidak ada dosa padanya. Dan hukum asal, kita tidak boleh menjadikan dalam ibadah-ibadah itu bagian untuk dunia, dan telah lewat pembahasan hukum ibadah apabila tercampur riya pada Bab Riya’.” [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

• Adapun menuntut ilmu dunia dengan niat meraih harta dunia hukum asalnya mubah, namun apabila diniatkan juga untuk beribadah kepada Allah ta’ala, seperti demi memberi manfaat untuk kaum muslimin, maka menjadi ibadah (lihat Syarhu Hilyah Thalibil ‘Ilmi dan Kitabul ‘Ilmi libnil ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 76-77)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.fb.com/sofyanruray.info

7 COMMENTS

  1. Assalamu’alaikum.. Ustadz,,ana mau tnya n sikit cerita.. Begini ustadz,,bru 1.5thn ana knal salaf(thun 2011).. Awal2 ana knal salaf,,ana bljar tntang bid’ah.. Krna kesombongan n kebodohan ana,,ana tlah menyakiti keluarga ana trutama ayah yg kuat dlam menjalankan kprcayaan ayah tntang tahlilan sehingga ayah membenci manhaj salaf.. Smpai sekarang ayah tdak suka jika ana pergi mengaji,,sehingga untk beberapa lama ana tdak aktif mengaji lg.. Bru beberapa blan ini ana aktif lg mengaji,,tetapi ketika meminta ijin ana selalu brbohong dgan alasan jalan2 atwpun shopping.. Yg jd ganjalan,,apakah boleh ana membohongi orang tua untk pergi mengaji?? Dan mohon nasihatnya ustadz.. Sebelumnya Jazakallahu khaeran..

    • Wa’alaykumussalam, AlhamduliLlah atas hidayah kepada manhaj yang haq yang Allah ta’ala anugerahkan kepada Anda.

      Dan segala puji hanya bagi-Nya dengan kemudahan-kemudahan dalam mempelajari agama di masa kita ini, jika Anda dilarang ke majelis ilmu, maka hendaklah Anda belajar dengan metode yang lain, apakah dengan membaca buku-buku para ulama dalam bahasa Arab maupun terjemahan, ataukah mendengarkan ceramah-ceramah penjelasannya yang begitu mudah didapatkan di internet tanpa harus keluar rumah, maka tidak dibenarkan Anda berbohong dalam perkara yang bukan suatu darurat.

      Dan hendaklah Anda ambil pelajaran untuk lebih bersikap hikmah, dan terus berusaha mendakwahi dengan lemah lembut kepada orang tua Anda, serta berbakti kepada mereka. WabiLlaahit taufiq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here