Syarat-syarat Wajibnya Puasa

Artikel Ramadhan (10)

3
19717

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syarat Pertama: Islam

Karena ibadah orang kafir tidak akan diterima Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِالله وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka sedekah-sedekah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]

Dan firman Allah ta’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]

Dan firman Allah ta’ala,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Dan firman Allah ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

Orang Kafir yang Tidak Berpuasa Akan Mendapat Hukuman

Sungguh malang nasib orang yang kafir, jika ia berpuasa maka puasanya tidak diterima, dan jika ia meninggalkan puasa maka ia akan dihukum, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali bertaubat kepada Allah dengan menjadi orang yang beriman, yaitu masuk Islam.

Jadi, orang kafir tidak saja dihukum karena kekafiran dan kesyirikan yang ia lakukan, tetapi juga karena tidak menjalankan perintah Allah ‘azza wa jalla atau tidak menjauhi larangan-Nya, sebagaimana firman-Nya,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَر، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّين، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِين، وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِين، وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّين، حَتَّى أَتَانَا الْيَقِين

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” [Al-Mudatstsir: 42-47]

Apabila Orang Kafir Masuk Islam di Siang Hari Bulan Ramadhan

Apabila orang kafir masuk Islam di siang hari bulan Ramadhan maka hendaklah ia memulai puasa pada saat itu juga sampai terbenam matahari, puasanya sah dan tidak perlu meng-qodho’, ini pendapat yang terkuat insya Allah dari dua pendapat ulama.[1]

Hukum Menjual Makanan kepada Orang Kafir di Siang Hari Bulan Ramadhan

Apabila telah dipahami bahwa orang kafir juga akan dihukum dengan sebab tidak berpuasa, maka menjual makanan kepada mereka di siang hari bulan Ramadhan termasuk tolong menolong dalam dosa.

Allah ‘azza wa jalla telah mengingatkan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

Fatwa-fatwa Ulama Syafi’iyah dan Ulama Lainnya tentang Menjual Makanan di Siang Hari Bulan Ramadhan

Salah seorang ulama mazhab Syafi’i, Asy-Syaikh Abu Bakr Ad-Dimyathi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وذلك كبيع الدابة لمن يكلفها فوق طاقتها، والأمة على من يتخذها لغناء محرم، والخشب على من يتخذه آلة لهو، وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان، وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا

“Yang demikian itu (sebagai contoh menjual barang yang tidak dibolehkan karena dapat mengantarkan kepada maksiat) seperti:

– Menjual hewan tunggangan yang akan dibebani melebihi kemampuannya,

– Menjual budak wanita yang akan dipekerjakan untuk nyanyian yang haram,

– Menjual kayu untuk dibuat alat hiburan yang melalaikan,

– Seorang muslim mukallaf memberi makan kepada orang kafir mukallaf di siang hari Ramadhan,

– Demikian pula menjual makanan kepada orang yang ia ketahui atau ia sangka akan memakannya di siang hari Ramadhan.” [I’aanatut Thaalibin, 3/30]

Ulama mazhab Syafi’i yang lain, Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar Al-Azhari menyebutkan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Asy-Syihab Ar-Romli Asy-Syafi’i rahimahumullah,

يَحْرُمُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَسْقِيَ الذِّمِّيَّ فِي رَمَضَانَ بِعِوَضٍ أَوْ غَيْرِهِ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ إعَانَةً عَلَى مَعْصِيَةٍ

“Haram atas seorang muslim memberi minum kepada orang kafir yang tinggal di negeri muslim pada siang hari Ramadhan, apakah dengan cara dijual atau dengan cara lain, karena itu berarti menolong dalam kemaksiatan.” [Haasyiatul Jamal ‘ala Syarhi Manhajit Thullaab, 5/226]

Disebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah,

لا يجوز فتح المطعم في نهار رمضان للكفار ولا خدمتهم فيه؛ لما فيه من المحاذير الشرعية العظيمة، من إعانة لهم على ما حرم الله، ومعلوم من الشرع المطهر أن الكفار مخاطبون بأصول الشريعة وفروعها، ولا ريب أن صيام رمضان من أركان الإسلام، وأن الواجب عليهم فعل ذلك مع تحقيق شرطه وهو الدخول في الإسلام

“Tidak boleh membuka rumah makan di siang hari Ramadhan untuk orang-orang kafir dan membantu mereka untuk makan, karena itu sangat terlarang dalam syari’at, yaitu menolong mereka untuk melakukan apa yang Allah haramkan, karena dimaklumi bahwa orang-orang kafir pun diperintahkan untuk mengamalkan pokok syari’at dan cabangnya, dan tidak diragukan lagi bahwa puasa Ramadhan termasuk rukun Islam, maka wajib atas mereka berpuasa dengan memenuhi syarat puasa, yaitu masuk Islam.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/37 no. 17717]

Asy-Syaikh Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز فتح المطاعم ولو للكفار -وطبعاً للمسلمين غير مفتوحة- في أيام رمضان، ومن رأى منكم صاحب مطعم فتحه في رمضان وجب عليه أن يبلغ الجهات المسئولة لمنعه، ولا يمكن لأي كافر أن يظهر أكلاً أو شرباً في نهار رمضان في بلاد المسلمين، يجب أن يمنع من ذلك

“Tidak boleh membuka warung makan walau untuk orang-orang kafir -dan tentu saja bagi kaum muslimin juga tidak boleh dibuka- selama siang hari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melihat pemilik warung makan yang membukanya di siang Ramadhan maka wajib bagi yang melihat tersebut untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang (pemerintah) untuk melarangnya, dan tidak boleh bagi orang kafir siapa pun untuk menampakkan aktivitas makan dan minum di siang hari Ramadhan di negeri-negeri muslim, wajib untuk mencegahnya.” [Al-Liqo’ Asy-Syahri, no. 8]

Menjual atau Memberi Sedekah Makanan yang Dibolehkan di Siang Hari Bulan Ramadhan

Boleh menjual atau memberi sedekah makanan di siang hari bulan Ramadhan kepada dua golongan:

1) Orang yang tidak wajib berpuasa seperti anak kecil yang belum baligh, wanita haid, orang sakit, musafir dan lain-lain.

2) Orang yang berpuasa sebagai makanan buka puasa di waktu Maghrib.

Karena menjual atau memberi sedekah makanan kepada mereka tidak termasuk menolong dalam dosa, bahkan termasuk menolong dalam kebaikan, yang lebih dianjurkan di bulan Ramadhan.

Syarat Kedua: Baligh

Puasa tidak wajib bagi anak kecil yang belum baligh, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

 رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh, dan dari orang gila sampai ia berakal.” [HR. Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Ats-Tsamarul Mustathob: 7 dan Al-Irwa’, 2/5]

Teladan Sahabat dalam Melatih Anak Berpuasa

Hendaklah orang tua atau wali melatih anak berpuasa dan memerintahkannya apabila telah berumur tujuh tahun atau lebih.[2]

Shahabiyah yang Mulia Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu’aha berkata,

وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Dan kami melatih anak-anak kami berpuasa, dan kami buatkan untuk mereka mainan dari wol, maka apabila salah seorang anak menangis karena lapar, kami berikan mainan itu sampai akhirnya masuk waktu berbuka.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

Apabila Anak Mencapai Usia Baligh di Siang Hari Bulan Ramadhan

Apabila seorang anak baligh di siang hari Ramadhan maka saat itulah ia wajib berpuasa sampai matahari terbenam. Puasanya sah dan tidak perlu meng-qodho’ setelah Ramadhan, menurut pendapat yang terkuat insya Allah dari tiga pendapat ulama.[3]

Cara Mengetahui Usia Baligh

Usia baligh dapat diketahui dengan salah satu dari tiga tanda bagi laki-laki dan ditambah satu lagi bagi wanita:[4]

1) Keluar mani ketika tidur (mimpi basah), atau ketika syahwat dalam keadaan terjaga.

2) Mencapai umur 15 tahun.

3) Tumbuhnya bulu kemaluan walau belum mencapai umur 15 tahun.

4) Keluar haid bagi wanita (namun tentu wanita haid tidak boleh berpuasa sampai suci).

Syarat Ketiga: Berakal

Adapun orang gila atau hilang akal, tidak wajib puasa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh, dan dari orang gila sampai ia berakal.” [HR. Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Ats-Tsamarul Mustathob: 7 dan Al-Irwa’, 2/5]

Apabila Kadang Sadar dan Kadang Hilang Akal

Apabila ia terkadang sadar dan terkadang gila atau hilang akal, maka wajib baginya berpuasa di hari-hari sadarnya. Apabila ia sadar di tengah hari maka wajib baginya berpuasa pada saat itu juga sampai matahari terbenam. Puasanya sah dan tidak ada kewajiban qodho’ untuk hari itu.[5]

Hukum Orang Tua yang Pikun

Orang tua yang pikun serta hilang kesadaran maka sama hukumnya dengan orang yang hilang akal, tidak wajib puasa dan tidak pula wajib fidyah. Apabila terkadang kepikunannya hilang maka wajib baginya puasa ketika sadar, atau fidyah jika tidak mampu berpuasa karena sudah tua.[6]

Syarat Keempat: Mampu

Orang yang tidak mampu seperti karena sakit, tidak wajib puasa, sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain (di luar Ramadhan).” [Al-Baqoroh: 185]

Dua Kategori Tidak Mampu Puasa dan Kewajibannya

1) Tidak mampu sementara, seperti orang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya, apabila berat baginya berpuasa atau jika berpuasa akan memudaratkannya maka boleh baginya berbuka. Kewajibannya adalah qodho’ setelah Ramadhan jika telah sembuh.

2) Tidak mampu selamanya, yaitu orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya menurut persaksian para dokter yang terpercaya.[7] Insya Allah akan datang pembahasannya lebih detail.

Adapun kewajibannya adalah membayar fidyah, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak satu sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya.[8]

Atau makanan jadi satu porsi makan yang mencukupi untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan.

Fidyah hendaklah dengan makanan, tidak diuangkan. Dan boleh diberikan sekaligus di awal, tengah atau akhir Ramadhan, kepada satu orang miskin atau lebih.[9][9] Insya Allah juga akan datang pembahasannya lebih detail.

Hukum Puasa Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita hamil dan menyusui sama dengan orang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya, yaitu boleh berbuka apabila merasa berat untuk puasa atau khawatir mudarat. Kewajibannya adalah meng-qodho’, tidak perlu membayar fidyah, ini pendapat terkuat insya Allah ta’ala.[10]

Juga sama dengan musafir yang boleh berbuka, wajib meng-qodho’ di luar Ramadhan dan tidak perlu membayar fidyah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ، أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنِ الْمُسَافِرِ، وَعَنِ الْمُرْضِعِ، أَوِ الْحُبْلَى

“Sesungguhnya Allah ta’ala meringankan sebagian sholat atau separuh sholat dan puasa dari musafir dan dari wanita menyusui atau wanita hamil.” [HR. Abu Daud dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 2083]

Syarat Kelima: Mukim

Adapun musafir tidak wajib puasa, namun boleh berpuasa jika mampu dan tidak berat bebannya. Apabila musafir tidak berpuasa, wajib baginya meng-qodho’ setelah Ramadhan, sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain (di luar Ramadhan).” [Al-Baqoroh: 185]

Syarat-syarat Bolehnya Berbuka Puasa bagi Musafir

1) Jarak safar minimal 80 KM, menurut pendapat mayoritas ulama.

2) Tujuan safar untuk ibadah atau urusan yang mubah, bukan untuk maksiat, menurut pendapat mayoritas ulama.

3) Tujuan safar bukan untuk siasat agar bisa berbuka.

4) Apabila ia telah siap berangkat, tidak boleh sebelum itu.

Insya Allah akan datang pembahasan lebih detail tentang puasa musafir.

Syarat Keenam: Tidak ada Penghalang (Haid dan Nifas)

Ini adalah ketentuan khusus bagi wanita, yaitu tidak sedang haid dan nifas, karena itu adalah penghalang sahnya puasa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Bukankah apabila wanita haid tidak boleh puasa dan sholat.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu]

Dan wajib bagi wanita haid dan nifas untuk meng-qodho’ setelah Ramadhan.[11] Mu’adzah rahimahallah berkata,

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ،فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Aku bertanya kepada Aisyah -radhiyallahu’anha-: Mengapakah wanita haid harus meng-qodho’ puasa dan tidak meng-qodho’ sholat? Beliau berkata: Apakah kamu wanita Khawarij? Aku berkata: Aku bukan wanita Khawarij, tapi aku bertanya. Maka beliau berkata: Dahulu ketika kami haid, kami diperintahkan untuk mengqodho’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodho’ sholat.” [HR. Muslim]

Apabila Wanita Haid dan Nifas Suci Sesaat Sebelum Masuk Waktu Shubuh

Apabila seorang wanita haid atau nifas dipastikan suci sesaat sebelum terbit fajar maka wajib baginya puasa walau belum sempat mandi sampai masuk waktu Shubuh.[12]

Dan hendaklah ia segera mandi untuk melakukan sholat Shubuh.

Apabila Wanita yang Berpuasa Mengalami Haid Setelah Masuk Waktu Maghrib

Apabila seorang wanita baru mengalami haid atau nifas setelah masuk waktu Maghrib, maka puasanya sah, baik sebelum maupun sesudah ia melakukan sholat, walau ia merasa akan keluar haid sebelum Maghrib, selama tidak keluar kecuali setelah masuk waktu Maghrib, maka puasanya sah.[13]

Apabila Wanita yang Berpuasa Mengalami Haid Hanya Sesaat Sebelum Maghrib

Apabila seorang wanita yang berpuasa kemudian mengalami haid walau hanya sesaat sebelum masuk waktu Maghrib maka puasanya tidak sah, dan wajib baginya meng-qodho’ puasa di hari tersebut setelah Ramadhan.[14]

Hukum Puasa Wanita Istihadhah

Wanita yang keluar darah selain haid dan nifas hukumnya sama dengan wanita suci, ia tetap wajib sholat dan puasa.[15]

Kecuali apabila ia merasa berat berpuasa, maka hukumnya seperti orang sakit ia boleh berbuka dan meng-qodho’ setelah Ramadhan.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Catatan Kaki:

[1] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/76, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 83.

[2] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/180.

[3] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, 25/109.

[4] Lihat Majmu Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/174 dan Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 85-88.

[5] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, 25/109 dan Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 90.

[6] Lihat Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/205-206 dan Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 91.

[7] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175.

[8] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175.

═══ ❁✿❁ ═══

Gabung Group WA KAJIAN ISLAM
Ketik: Daftar
Kirim ke Salah Satu Admin:
wa.me/628111833375
wa.me/628119193411
wa.me/628111377787

TELEGRAM
t.me/taawundakwah
t.me/sofyanruray
t.me/kajian_assunnah
t.me/kitab_tauhid
t.me/videokitabtauhid
t.me/kaidahtauhid
t.me/akhlak_muslim

Medsos dan Website:
– youtube.com/c/kajiansofyanruray
– instagram.com/sofyanruray.info
– facebook.com/sofyanruray.info
– instagram.com/taawundakwah
– facebook.com/taawundakwah
– twitter.com/sofyanruray
– taawundakwah.com
– sofyanruray.info

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini