Hukum Mengucapkan “Almarhum” dan “RIP” untuk Orang yang Wafat

9
4168

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengucapkan “Almarhum” dan “RIP” untuk orang yang wafat tidak boleh karena beberapa alasan:

1.  Almarhum artinya yang dirahmati, padahal kita tidak dapat memastikan apakah Allah merahmatinya atau tidak, kecuali yang ditetapkan oleh dalil bahwa ia sudah pasti dirahmati seperti para nabi ‘alaihimussalaam dan sahabat radhiyallahu’anhum.

Maka yang disyari’atkan bagi kita adalah mendoakan seorang muslim yang wafat agar dirahmati.

Disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

المشروع أن يقال في حق الميت المسلم: رحمه الله، لا المرحوم

“Disyari’atkan untuk dikatakan bagi mayyit yang muslim adalah, “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya), bukan “Almarhum” (yang dirahmati).” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/141 no. 4335]

Lebih parah lagi apabila yang disebut “Almarhum” itu adalah orang kafir, karena Allah telah menetapkan azab baginya setelah wafat, maka mendoakannya agar dirahmati pun tidak boleh.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” [At-Taubah: 113]

2. Mengucapkan RIP (Rest in Peace) atau “Beristirahatlah dalam Damai” untuk orang yang wafat adalah kebiasaan orang-orang kafir maka tidak boleh bagi seorang muslim.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Al-Irwa’: 1269]

3. Ucapan “RIP” tidak berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan tidak pula bermakna doa. Adapun yang disyari’atkan adalah mengucapkan istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un) dan mendoakan agar si mayit yang muslim agar mendapatkan ampunan.

Seperti doa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiyallahu’anhu ketika beliau wafat,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّين وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan hidayah, gantikanlah sepeninggalnya untuk orang-orang yang ia tinggalkan, ampunilah kami dan dia wahai Rabbul ‘aalamiin, luaskanlah kuburannya dan terangilah dia padanya.” [HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

4. Ucapan “RIP” mengandung kebatilan, karena kita tidak tahu kondisi orang yang mati itu, apakah ia dalam keadaan mendapatkan nikmat hingga ia beristirahat ataukah azab kubur. Demikian pula setelah hari kebangkitannya, kita tidak tahu apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka.

Ini jika yang meninggalkan seorang muslim, maka kita tidak bisa memastikan keadaannya kecuali yang dipastikan oleh dalil, karena hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya. Namun seorang muslim, andai ia diazab, azabnya tidaklah kekal, maka hendaklah tetap kita doakan agar ia diampuni Allah ‘azza wa jalla.

Jika mayit itu mati dalam keadaan kafir maka orang-orang kafir adalah penghuni neraka, bagaimana bisa dikatakan: Beristirahatlah dalam damai…?!

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (Hindu, Budha dan lain-lain) akan masuk neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

Allah jalla wa ‘ala juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [An-Nisa’: 48, 116]

5. Juga termasuk kebatilan, ucapan “Orang yang wafat itu telah kembali ke tempat peristirahatannya yang terakhir”, karena kuburan hanyalah awal perjalanan di negeri akhirat, bukan yang terakhir.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Sungguh kuburan adalah awal persinggahan di negeri akhirat, jika seseorang selamat darinya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah, dan jika ia tidak selamat maka yang selanjutnya akan lebih berat.” Beliau juga bersabda, “Tidak pernah aku melihat pemandangan yang mengerikan kecuali (azab) kubur lebih mengerikan darinya.” [HR. At-Tirmidzi dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 1684]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Simak #Video_Pendek di YouTube: https://youtu.be/dEubByQsgx4

═══ ❁✿❁ ════

GABUNG TELEGRAM
https://t.me/taawundakwah
https://t.me/kajian_assunnah
https://t.me/kitab_tauhid
https://t.me/videokitabtauhid
https://t.me/kaidahtauhid
https://t.me/akhlak_muslim

Gabung WAG Ketik: Daftar
Kirim ke wa.me/628111833375
Atau wa.me/628111377787

Medsos dan Website:
Facebook: facebook.com/taawundakwah
Instagram: instagram.com/taawundakwah
Website: taawundakwah.com

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

9 KOMENTAR

  1. REST IN PEACE (RIP) : Hukum Mengucapkan,Berdo’a/Memberi gelaran RIP (bermakna “beristirahat dengan damai”) kepada orang yang sudah meninggal dunia « طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi |

    […] Sumber: http://nasihatonline.wordpress.com/2012/12/13/rip-rest-in-peace/ […]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini