Akidahnya Baik, Ibadahnya Bagus, Tapi Akhlaknya Jelek?

4
1655

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang muslim yang hakiki adalah pengikut generasi Salaf, keyakinannya adalah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ibadahnya adalah peneladanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Seharusnya, akidah dan ibadah yang benar akan berpengaruh kepada akhlaknya untuk berlaku baik kepada manusia.

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang –alhamdulillah- akidahnya sudah baik, dia tidak pernah menyekutukan Allah ta’ala dan ibadahnya sudah bagus, dia tidak pernah melakukan bid’ah, bahkan dia menisbatkan diri kepada salafiyah dan ahlus sunnah wal jama’ah, tetapi sayang masih banyak orang yang mengeluhkan kejelekan akhlaknya, baik masyarakatnya, orang tuanya, anak dan istrinya hingga ustadznya sendiri dan teman-teman sepergaulannya.

Dan hal itu sesungguhnya tidaklah muncul kecuali dari kebodohan terhadap agama yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, bersegerah melakukan kebaikan setelah melakukan kejelekan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Dzar dan Mu’adz Bin Jabal radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib, no. 3160]

Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah bertakwa kepada Allah ta’ala dan berakhlak mulia kepada manusia. Padahal sebenarnya, perintah bertakwa kepada Allah ta’ala sudah mencakup perintah berakhlak mulia kepada manusia. Tapi kenapa perintah berakhlak mulia masih disebutkan lagi?

Pertama: Karena pentingnya berakhlak mulia kepada manusia.

Kedua: Untuk meluruskan kesalahpahaman orang yang menyangka ketakwaan itu hanyalah menunaikan hak Allah ta’ala tanpa mempedulikan hak para hamba.

Ketiga: Untuk mengingatkan orang yang telah menunaikan hak Allah agar jangan melupakan hak manusia.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,

وقوله – صلى الله عليه وسلم – : (( وخالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسن )) هذا من خصال التقوى ، ولا تَتِمُّ التقوى إلا به ، وإنَّما أفرده بالذكر للحاجة إلى بيانه ، فإنَّ كثيراً من النَّاس يظنُّ أنَّ التقوى هي القيامُ بحقِّ اللهِ دونَ حقوق عباده ، فنصَّ له على الأمر بإحسان العشرة للناس

“Dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ‘Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik’ adalah bagian dari ketakwaan, tidak akan sempurna ketakwaan kecuali dengannya, Hanya saja Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkannya secara terpisah karena adanya keperluan untuk menjelaskannya, sebab banyak orang menyangka bahwa takwa itu hanyalah menunaikan hak Allah tanpa menunaikan hak para hamba, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan perintah untuk berbuat baik dalam pergaulan bersama manusia.” [Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, 242]

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengingatkan,

وكثيراً ما يغلب على من يعتني بالقيامِ بحقوق الله ، والانعكاف على محبته وخشيته وطاعته إهمالُ حقوق العباد بالكُلِّيَّة أو التقصير فيها

“Banyak orang yang sangat memperhatikan untuk menunaikan hak Allah, senantiasa mencintai-Nya, takut kepada-Nya dan mentaati-Nya, namun menyepelekan hak para hamba, baik secara menyeluruh maupun sebagiannya.” [Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, 243]

Maka jelaslah, kemuliaan akhlak tidak dapat dipisahkan dari akidah dan ibadah, justru ketika seseorang memisahkannya maka itu menunjukkan kerusakan akidah dan manhajnya, dan dia akan menyebabkan perpecahan serta merusak ukhuwah di antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dan ketahuilah wahai Saudaraku rahimakumullaah, apabila akidah dan ibadah seseorang sudah benar tapi akhlaknya buruk maka itu bisa menjadi sebab manusia menjauh dari akidah dan ibadah yang benar, dan dakwah untuk mengajak kepadanya.

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah berkata,

هناك من يُوفّقونَ إلى العقيدةِ والمنهج ولكن بسُلوكِهم يضيّعون العقيدة ويُضيّعون المنهج يكون معهُم الحق، لكنّ سُلوكَهُم وأسلوبهُم في الدّعوة يقضي على الدّعوة ويضرّها فاحذروا

“Ada orang-orang yang diberikan taufik kepada akidah dan manhaj yang benar, tetapi akhlak mereka menelantarkan akidah dan manhaj yang benar itu. Kebenaran bersama mereka, tetapi akhlak dan metode dakwah mereka malah merusak dan membahayakan dakwah. Maka berhati-hatilah.” [Kutipan Transkrip Ceramah Dauroh Sulthan Muhammad bin Abdullah Al-‘Alawy Kedua di Maroko]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

═══ ❁✿❁ ════

GABUNG TELEGRAM
https://t.me/taawundakwah
https://t.me/kajian_assunnah
https://t.me/kitab_tauhid
https://t.me/videokitabtauhid
https://t.me/kaidahtauhid
https://t.me/akhlak_muslim

Gabung WAG Ketik: Daftar
Kirim ke wa.me/628111833375
Atau wa.me/628111377787

Medsos dan Website:
Facebook: https://www.facebook.com/taawundakwah
Instagram: https://www.instagram.com/taawundakwah
Website: https://taawundakwah.com

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini