Manajemen Marah

0
140

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jangan kamu marah

Marah, adalah suatu keadaan yang terkadang ada dalam diri setiap orang, tak terkecuali orang-orang yang mulia, hanya saja yang membedakan adalah sebab-sebab kemarahan dan cara-cara dalam mengatasinya. Oleh karena itu perlu dipahami, kemarahan ada tiga bentuk:

Pertama: Kemarahan yang Terpuji

Marah yang terpuji adalah marah karena Allah, yaitu marah ketika terjadi pelanggaran terhadap syari’at Allah ta’ala, bahkan Allah ta’ala pun marah karena hal tersebut, sebagaimana firman-Nya,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا

“Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah marah kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejelek-jeleknya tempat kembali.” [Al-Fath: 6]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha bercerita tentang kemarahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَىْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلاَّ أَنْ يُنْتَهَكَ شَىْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak istri dan tidak pula pembantu, kecuali ketika beliau berjihad di jalan Allah. Dan tatkala beliau disakiti, maka tidak pernah beliau membalas pelakunya sedikit pun, kecuali apabila dilanggar satu hal yang Allah haramkan, maka beliau membalas karena Allah ‘azza wa jalla.” [HR. Muslim]

Maka seorang mukmin harus marah kepada orang-orang kafir disebabkan kekafiran mereka, demikian pula marah kepada pelaku bid’ah dan maksiat sesuai kadar bid’ah dan maksiatnya. Ini adalah marah yang terpuji.

Sebaliknya, jika seorang mukmin malah senang dengan pelaku syirik, atau tidak marah terhadap pelaku bid’ah dan maksiat, maka itu adalah sikap yang jelek, bahkan senang dengan pelaku syirik karena kesyirikannya adalah kekafiran kepada Allah ta’ala.

Kedua: Kemarahan yang Tercela

Marah yang tercela adalah marah yang bukan karena Allah, yang berdasarkan pada sesuatu yang tercela, seperti marah karena kesombongan, hizbiyyah (fanatisme golongan), dan berbagai sebab yang tercela lainnya.

Ketiga: Kemarahan yang Mubah

Marah yang mubah adalah marah karena tabiat (sifat dasar manusia), seperti marah karena disakiti atau dihina, hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, seperti berbuat zalim, mencaci, mengghibah, bahkan memukul dan membunuh.

Dan sebaliknya, marah karena tabiat ini dapat menjadi kebaikan yang besar apabila dikelola secara benar, yaitu sesuai tuntunan agama yang mulia ini.

Cara Mengelola Kemarahan

Dari sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَوْصِنِي قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لاَ تَغْضَبْ

“Bahwasannya seseorang berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: Jangan marah. Orang tersebut meminta wasiat sampai beberapa kali. Beliau pun bersabda: Jangan marah.” [HR. Al-Bukhari]

Para ulama menjelaskan, makna “Jangan marah” dalam hadits di atas mencakup lima makna:

Pertama: Menghilangkan amarah dengan memaafkan. Makna ini yang diisyaratkan oleh Ibnu Baththol rahimahullah, beliau berkata ketika menjelaskan hadits ini,

مدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم، وأخبر أن ماعنده خير وأبقى لهم من متاع الحياة الدنيا وزينتها، وأثنى على الكاظمين الغيظ والعافين عن الناس، وأخبر أنه يحبهم بإحسانهم فى ذلك

“Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan ketika marah dan menyanjung mereka, dan Dia mengabarkan bahwa apa yang ada di sisi-Nya lebih baik dan lebih kekal bagi mereka dibanding kesenangan dunia dan perhiasannya. Dan Allah telah menyanjung orang-orang yang menahan marah serta memaafkan manusia, dan Dia mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka disebabkan perbuatan baik mereka dalam hal tersebut.” [Syarhu Shahihil Bukhari, 9/296]

Memberi Maaf Saat Marah

Kedua: Jangan mudah marah atau cepat marah. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والمعني لا تكن سريع الغضب يستثيرك كل شيء بل كن مطمئنا متأنيا لأن الغصب جمرة يلقيها الشيطان في قلب الإنسان حتى يغلي القلب ولهذا تنتفخ الأوداج – عروق الدم – وتحمر العين ثم ينفعل الإنسان حتى يفعل شيئا يندم عليه

“Makna hadits ini adalah, janganlah engkau cepat marah, yaitu janganlah segala sesuatu dapat membuatmu marah, akan tetapi jadilah orang yang tenang serta menahan diri, sebab kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh setan ke hati manusia agar agar hati menjadi panas, oleh karena itu urat-urat leher pun mengembang dan mata memerah, pada akhirnya manusia kehilangan kendali hingga ia melakukan sesuatu yang kelak ia sesali.” [Syarah Riyadhis Shalihin]

Ketiga: Menjauhi sebab-sebab kemarahan. Al-Khattabi rahimahullah berkata

معنى قوله لا تغضب اجتنب أسباب الغضب ولا تتعرض لما يجلبه

“Makna ucapan beliau “Jangan marah” adalah, jauhilah sebab-sebab kemarahan, dan jangan mendekati sesuatu yang dapat memunculkannya.” [Fathul Bari, 10/520]

Keempat: Menghilangkan sifat sombong, karena itulah sebab kemarahan terbesar. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وقيل معناه لا تغضب لأن أعظم ما ينشأ عنه الغضب الكبر لكونه يقع عند مخالفة أمر يريده فيحمله الكبر على الغضب فالذي يتواضع حتى يذهب عنه عزة النفس يسلم من شر الغضب

“Dan dikatakan maknanya, jangan marah karena penyebab kemarahan terbesar adalah kesombongan, oleh karena kemarahan itu muncul ketika menyelisihi seseuatu yang diinginkan oleh seseorang, maka kesombongan membawanya pada kemarahan. Sehingga orang yang merendahkan diri (tidak sombong) akan hilang darinya sifat tinggi hati dan selamat dari jeleknya kemarahan.” [Fathul Bari, 10/520]

Kelima: Tidak menuruti amarah atau melampiaskannya dengan cara yang salah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وقيل معناه لا تفعل ما يأمرك به الغضب

“Dan dikatakan maknanya, janganlah engkau menuruti perintah amarahmu.” [Fathul Bari, 10/520]

Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

أراد لا تعمل بعد الغضب شيئا مما نهيت عنه

“Beliau menginginkan, janganlah engkau melakukan sesuatu yang aku larang ketika marah.” [Fathul Bari, 10/520]

Demikianlah cara mengelola kemarahan yang terkandung dalam satu hadits di atas, cara yang lainnya:

Keenam: Meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari setan. Sahabat yang mulia Sulaiman bin Shurod radhiyallahu’anhu berkata,

اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنِّى لأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِى يَجِدُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ 

“Ada dua orang saling mencaci di sisi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka salah seorang dari mereka telah memerah kedua matanya dan mengembang urat-urat lehernya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun bersabda: Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, andaikan ia mengucapkannya maka akan hilang amarahnya, yaitu:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“ A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim”

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ketujuh: Berwudhu. Dalam sebuah hadits yang didha’ifkan oleh sejumlah ulama,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya setan tercipta dari api, dan hanyalah api itu dapat dimatikan dengan air, maka jika seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari ‘Athiyah radhiyallahu’anhu, didha’ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah: 582]

Walaupun hadits ini dha’if namun maknanya shahih dan terbukti bahwa kemarahan itu dari setan (sebagaimana dalam hadits Sulaiman bin Shurod di atas) dan dengan berwudhu dapat menghilangkannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وأن يستعيذ من الشيطان كما تقدم في حديث سليمان بن صرد وأن يتوضأ كما تقدمت الإشارة إليه في حديث عطية والله أعلم

“Dan hendaklah orang yang marah memohon perlindungan dari setan sebagaimana telah berlalu dalam hadits Sulaiman bin Shurod, dan hendaklah ia berwudhu sebagaimana telah berlalu isyarat kepadanya dalam hadits ‘Athiyyah, wallahu a’lam.” [Fathul Bari, 10/521]

Kedelapan: Diam, tidak berbicara apalagi berdebat dan saling mencaci. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَلِّمُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُت

“Ajarilah, mudahkanlah dan jangan mempersulit, dan apabila seorang dari kalian marah hendaklah ia diam.” [HR. Ahmad dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 1375]

Kesembilan: Merubah posisi. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri hendaklah ia duduk, jika kemarahannya belum mereda maka hendaklah ia berbaring.” [HR. Abu Daud dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Al-Misykaah: 5114]

Kesepuluh: Melatih diri untuk tidak marah dan menahan emosi. Menahan marah adalah akhlak yang terpuji, dan akhlak yang terpuji terkadang dimiliki seseorang sebagai sifat dasarnya, dan terkadang ia perlu berjuang dan melatih diri untuk dapat memilikinya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَصْبِرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنَ الصَّبْرِ

“Barangsiapa yang berusaha menjaga kesucian dirinya maka Allah akan menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang berusaha sabar maka Allah akan menyabarkannya, dan tidaklah seseorang dianugerahkan sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas dibanding kesabaran.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

Orang yang Kuat

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيْسَ الشَّديدُ بالصُّرَعَةِ ، إنَّما الشَّديدُ الَّذي يَملِكُ نَفْسَهُ عندَ الغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu yang dapat memenangkan pertarungan, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Kesebelas: Mengedepankan prasangka baik kepada saudara kita yang telah membuat marah, karena sesungguhnya prasangka baik dapat melapangkan hati dan menghilangkan kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita.

Dalam hal ini generasi Salaf adalah sebaik-baiknya teladan. Al-Mawardi rahimahullah berkata,

وَحُكِيَ عَنْ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ أَنَّهَا قَالَتْ لِزَوْجِهَا طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ الزُّهْرِيَّ ، وَكَانَ أَجْوَدَ قُرَيْشٍ فِي زَمَانِهِ : مَا رَأَيْت قَوْمًا أَلْأَمَ مِنْ إخْوَانِك ، قَالَ مَهْ وَلِمَ ذَلِكَ ؟ قَالَتْ : أَرَاهُمْ إذَا أَيْسَرْت لَزِمُوك ، وَإِذَا أَعْسَرْت تَرَكُوك . قَالَ : هَذَا وَاَللَّهِ مِنْ كَرَمِهِمْ ، يَأْتُونَنَا فِي حَالِ الْقُوَّةِ بِنَا عَلَيْهِمْ ، وَيَتْرُكُونَنَا فِي حَالِ الضَّعْفِ بِنَا عَنْهُمْ . فَانْظُرْ كَيْفَ تَأَوَّلَ بِكَرْمِهِ هَذَا التَّأْوِيلَ حَتَّى جَعَلَ قَبِيحَ فِعْلِهِمْ حَسَنًا ، وَظَاهِرَ غَدْرِهِمْ وَفَاءً .

“Dan dihikayatkan dari Bintu ‘Abdillah bin Muthi’, bahwa ia berkata kepada suaminya Thalhah bin Abdur Rahman bin Auf Az-Zuhri, seorang yang paling dermawan pada suku Qurays di masanya. Maka suatu hari istrinya berkata kepadanya: Aku tidak melihat suatu kaum yang lebih tercela dari Ikhwanmu. Beliau berkata: Kenapa bisa begitu? Istrinya berkata: Aku lihat mereka selalu bersamamu saat kamu kaya, dan mereka meninggalkanmu saat kamu miskin. Beliau berkata: Ini demi Allah termasuk kemuliaan akhlak mereka, karena mereka hanya datang kepada kami saat kami mampu memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kami saat kami tidak mampu menunaikan hak mereka.”

(Al-Mawardi rahimahullah mengomentari), “Lihatlah bagaimana beliau melakukan penafsiran ini karena kemuliaan sifatnya, sehingga ia memandang jeleknya perbuatan mereka sebagai kebaikan dan jelasnya pengkhianatan mereka sebagai kesetiaan.” [Adabud Dunya wad Diin, hal. 180]

Keduabelas: Senantiasa mengingat keutamaan menahan marah. Allah ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa menahan marah dan memaafkan adalah akhlak yang utama, diantara keutamaannya:

Memberi Maaf Beroleh Ampunan

Satu: Memaafkan adalah sifat orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan apabila mereka marah maka mereka memberi maaf.” [Asy-Syuro: 37]

Ibrahim rahimahullah berkata,

كان المؤمنون يكرهون أن يستذلوا، وكانوا إذا قدروا عفوا

“Kaum mukminin tidak suka menjadi hina, namun apabila mereka mampu membalas maka mereka memaafkan.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/210]

Dua: Menahan marah dan memaafkan adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]

Tiga: Sebab meraih ampunan. Allah ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nur: 22]

Empat: Sebab meraih surga. Dari sahabat yang mulia Abu Ad-Darda radhiyallahu’anhu, ia berkata, aku pernah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ:”لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Beliau bersabda: Jangan marah, dan bagimu surga.” [HR. Ath-Thabrani, Shahihut Targhib: 2749]

Lima: Memilih bidadari sesuai selera. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan marah, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga ia dipersilahkan oleh Allah ta’ala untuk memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 2753]

Ingat Bidadari Saat Marah

Enam: Meraih keridhaan Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ومن كظم غيظا ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضى يوم القيامة

“Dan barangsiapa menahan marah, yang apabila ia mau untuk melampiaskannya niscaya ia mampu melakukannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhoaan pada hari kiamat.” [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Qodho Al-Hawaaij dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 176]

Ketigabelas: Mengambil teladan. Inilah teladan dari seorang Nabi yang mulia Yusuf ‘alaihissalam di dalam Al-Qur’anul Karim tentang pemaafan dan adab beliau yang sangat tinggi terhadap saudara-saudaranya yang telah menyakitinya. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

وقول يوسف لأبيه وإخوته : هذا تأويل رؤياي من قبل قد جعلها ربي حقا وقد أحسن بي إذا أخرجني من السجن يوسف ولم يقل : أخرجني من الجب حفظا للأدب مع إخوته وتفتيا عليهم : أن لا يخجلهم بما جرى في الجب وقال : وجاء بكم من البدو ولم يقل : رفع عنكم جهد الجوع والحاجة أدبا معهم وأضاف ما جرى إلى السبب ولم يضفه إلى المباشر الذي هو أقرب إليه منه فقال : من بعد أن نزع الشيطان بيني وبين إخوتي فأعطى الفتوة والكرم والأدب حقه ولهذا لم يكن كمال هذا الخلق إلا للرسل والأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم.

“Dan ucapan Yusuf ‘alaihissalaam kepada saudaranya,

هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ

“Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara.” [Yusuf: 100]

Beliau tidak berkata “Rabbku mengeluarkan aku dari sumur” karena menjaga adab terhadap saudara-saudaranya dan pemuliaan kepada mereka, agar mereka tidak merasa malu dengan apa yang mereka lakukan di sumur tersebut.

Beliau berkata selanjutnya,

وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْو

“Dan (Rabbku) membawa kalian dari dusun padang pasir.” [Yusuf: 100]

Beliau tidak berkata “Yang membawa kalian ke sini adalah kesusahan karena kelaparan dan kebutuhan” sebagai adab kepada mereka.

Dan berikutnya, beliau menyandarkan perlakuan saudara-saudaranya kepada sebab (yaitu godaan setan), bukan kepada mereka sebagai pelaku yang sebetulnya lebih pantas disalahkan. Beliau berkata,

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“Setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” [Yusuf: 100]

Maka beliau memberikan hak terhadap kemuliaan, kedermawanan dan adab, oleh karena itu tidak mungkin sempurna akhlak ini kecuali bagi para rasul dan nabi sholawaatullaahu wa salaamuhu ‘alaihim.” [Madaarijus Saalikin, 2/380-381]

Dan inilah teladan dari Nabi kita yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu’ahu berkata,

كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَةً شَدِيدَةً، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ الْبُرْدِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِهِ، ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ‏.‏ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ ضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ‏

“Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau mengenakan kain Najran yang tebal ujungnya, lalu ada seorang Arab Badui yang menemui beliau, langsung ditariknya beliau pada kain yang beliau kenakan dengan tarikan yang kuat hingga aku melihat permukaan bahu beliau membekas lantaran ujung selimut akibat tarikan Arab badui yang kasar tersebut. Kemudian ia berkata; “Wahai Muhammad berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu”, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Keempatbelas: Mengingat akibat jelek kemarahan. Orang yang marah terkadang hilang akal sehatnya, sehingga ia mengatakan atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang kelak ia sesali. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa,

وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ

“Dan aku memohon kepadaMu ya Allah untuk dapat mengucapkan kalimat yang benar ketika ridho maupun marah.” [HR. An-Nasai dari Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, Shahih Al-Kalim Ath-Thayib: 105]

Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib

أوّلُ الغضبِ جنون، وآخره ندم، وربما كان العطب في الغضب

“Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan, dan bisa jadi kehancuran itu karena kemarahan.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah, 1/205]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته، وباب غضب أورث العداون على خلقه

“Manusia masuk neraka dari tiga pintu: Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah, pintu syahwat yang menyebabkan ia mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

Ibnut Tin rahimahullah berkata

جمع صلى الله عليه و سلم في قوله لا تغضب خير الدنيا والآخرة لأن الغضب يؤول إلى التقاطع ومنع الرفق وربما آل إلى أن يؤذي المغضوب عليه فينتقص ذلك من الدين

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengumpulkan dalam ucapan beliau “Jangan marah” kebaikan dunia dan akhirat, karena kemarahan itu menyebabkan terputusnya hubungan dan hilangnya sifat kelembutan, dan bisa jadi memunculkan perbuatan menyakiti orang yang dimarahi, maka berkuranglah agama seseorang karena perbuatan tersebut.” [Fathul Bari, 10/520]

Al-Baidhowi rahimahullah berkata,

لعله لما رأى أن جميع المفاسد التي تعرض للإنسان إنما هي من شهوته ومن غضبه

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “Jangan marah” bisa jadi karena beliau telah melihat bahwa seluruh kerusakan yang menimpa seseorang hanyalah disebabkan syahwatnya dan kemarahannya.” [Fathul Bari, 10/520]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ويترتب على الغضب تغير الظاهر والباطن كتغير اللون والرعدة في الأطراف وخروج الأفعال عن غير ترتيب واستحالة الخلقة حتى لو رأى الغضبان نفسه في حال غضبه لكان غضبه حياء من قبح صورته واستحالة خلقته هذا كله في الظاهر وأما الباطن فقبحه أشد من الظاهر لأنه يولد الحقد في القلب والحسد وإضمار السوء على اختلاف أنواعه بل أولى شيء يقبح منه باطنه وتغير ظاهره ثمرة تغير باطنه وهذا كله أثره في الجسد وأما أثره في اللسان فانطلاقه بالشتم والفحش الذي يستحي منه العاقل ويندم قائله عند سكون الغضب ويظهر أثر الغضب أيضا في الفعل بالضرب أو القتل وإن فات ذلك بهرب المغضوب عليه رجع إلى نفسه فيمزق ثوب نفسه ويلطم خده وربما سقط صريعا وربما أغمى عليه وربما كسر الآنية وضرب من ليس له في ذلك جريمة

“Kemarahan dapat mengakibatkan perubahan zahir dan batin, seperti perubahan warna (kulit wajah memerah), gemetar pada kaki dan tangan, kehilangan kendali dan perubahan diri, sehingga orang yang marah tersebut apabila ia menyadari keadaan dirinya ketika marah maka ia akan malu karena kejelekan rupanya dan perubahan dirinya, ini semuanya pada zahir.

Adapun batin maka kejelekannya lebih parah daripaza zahir, karena kemarahan itu melahirkan kedongkolan di hati, hasad, merencanakan kejelekan dalam berbagai bentuknya, dan memang yang lebih jelek adalah keadaan batinnya, sebab perubahan zahirnya adalah buah perubahan batinnya. Dan ini semuanya adalah pengaruh jelek kemarahan bagi tubuh.

Adapun pengaruh jeleknya bagi lisan, maka akan memunculkan cacian, ucapan keji yang malu diucapkan oleh seorang yang berakal dan ia akan menyesalinya ketika kemarahannya telah mereda.

Dan juga nampak pengaruh jelek kemarahan dalam perbuatan, yaitu dengan memukul atau membunuh, namun apabila ia tidak dapat melakukannya karena orang yang ia marahi itu telah lari, maka ia akan menyakiti dirinya sendiri, yaitu dengan merobek pakaiannya, manampar pipinya, dan bisa jadi ia jatuh dalam keadaan kesurupan, bisa jadi pula ia jatuh pingsan, dan bisa pula ia memecahkan priring dan gelas, bahkan memukul orang yang tidak bersalah (demi melampiaskan amarah).” [Fathul Bari, 10/520]

Kelimabelas: Mengingat murka Allah dan azabNya yang pedih. Sahabat yang mulia Abu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِى بِالسَّوْطِ فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِى « اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ ». فَلَمْ أَفْهَمِ الصَّوْتَ مِنَ الْغَضَبِ – قَالَ – فَلَمَّا دَنَا مِنِّى إِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا هُوَ يَقُولُ « اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ ». قَالَ فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِى فَقَالَ « اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ أَنَّ اللَّهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلاَمِ ». قَالَ فَقُلْتُ لاَ أَضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Aku pernah memukul seorang budak dengan cambuk, maku aku mendengar suara dari arah belakangku: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud.” Aku tidak dapat memahami suara tersebut karena kemarahan, maka tatkala semakin mendekat kepadaku ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau pun bersabda: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, ketahuilah wahai Abu Mas’ud.” Aku segera melempar cambuk tersebut dari tanganku, maka beliau bersabda: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, bahwa Allah lebih mampu mengazabmu dibanding engkau mengazab budak ini.” Maka aku berkata: Aku tidak akan memukul seorang budak pun setelahnya selama-lamanya.” [HR. Muslim]

Dalam lafaz yang lain:

كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِى فَسَمِعْتُ مِنْ خَلْفِى صَوْتًا « اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ ». فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ. فَقَالَ أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ أَوْ لَمَسَّتْكَ النَّارُ

“Aku pernah memukul seorang budak, maka aku mendengar di belakangku ada suara: Wahai Abu Mas’ud, sungguh Allah lebih mampu mengazabmu dibanding engkau mengazabnya. Aku pun menoleh, ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka aku berkata: Wahai Rasulullah budak ini aku bebaskan demi wajah Allah. Beliau pun bersabda: Ketahuilah, jika engkau tidak membebaskannya maka neraka akan membakarmu.” [HR. Muslim]

Sahabat yang mulia Abud Darda radhiyallahu’anhu berkata,

أقرب مايكون العبد من غضب الله تعالى إذا غضب

“Saat yang paling dekat antara seseorang dengan kemurkaan Allah adalah apabila hamba tersebut sedang marah.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata,

أطفئوا نار الغضب بذكر نار جهنم

“Padamkanlah api kemarahan dengan mengingat api neraka jahannam.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here