KEMERDEKAAN YANG HAKIKI

0
200

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Merdeka yang hakiki adalah mengamalkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala, dan membebaskan diri dari semua bentuk penghambaan kepada selain-Nya.

Karena ibadah kepada Allah adalah sifat dasar manusia, yang merupakan tujuan hamba diciptakan, sedangkan hawa nafsu dan setan ingin memalingkan hamba agar beribadah kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

هربوا من الرق الذي خلقوا له
وبلوا برق النفس والشيطان

“Mereka berpaling dari peribadahan kepada Allah yang merupakan tujuan mereka diciptakan, maka mereka menjadi budak nafsu dan setan.” [Al-Kaafiyah Asy-Syaafiyah melalui Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Baca Juga : Berjalan Tanpa Alas Kaki Sesekali dan Tidak Bermewah-mewah Termasuk Sunnah

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

أن وصف الإنسان بالعبودية لله يعد كمالاً، لأن العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابداً لغيره

“Bahwa sifat manusia beribadah kepada Allah adalah kesempurnaan baginya, karena penghambaan kepada Allah adalah HAKIKAT KEMERDEKAAN, barangsiapa yang tidak menghamba kepada Allah maka dia adalah hamba selain-Nya.” [Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah juga berkata,

إذا قال ذلك رجل حر وأراد أنه حر من رق الخلق، فنعم هو حر من رق الخلق، وأما إن أراد أنه حر من رق العبودية لله – عز وجل – فقد أساء في فهم العبودية، ولم يعرف معنى الحرية، لأن العبودية لغير الله هي الرق أما عبودية المرء لربه – عز وجل – فهي الحرية

“Jika seorang berkata ‘saya merdeka’ dan yang ia maksudkan adalah merdeka dari penjajahan makhluk maka maknanya benar, ia memang harus merdeka dari penjajahan makhluk. Adapun jika yang ia maksudkan adalah merdeka dari penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla maka ia telah salah besar dalam memahami penghambaan, dan ia tidak memahami arti kemerdekaan, karena penghambaan kepada selain Allah itulah penjajahan. Adapun penghambaan seseorang kepada Rabbnya ‘azza wa jalla, maka itulah kemerdekaan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 3/81]

Dan ibadah yang diterima oleh Allah hanyalah apabila dilakukan dengan ikhlas dan meneladani Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka:

– Merdeka yang hakiki apabila semua ibadah kita hanya diniatkan ikhlas karena Allah dan melepaskan diri penghambaan kepada pujian manusia dan keuntungan dunia semata.

– Merdeka yang hakiki adalah meneladani sunnah; yaitu mencontoh Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dalam setiap amalan, dan melepaskan diri dari belenggu taklid dan fanatisme golongan (hizbiyyah).

Baca Juga : Hukum Menyewakan Pertokoan, Mobil dan Jasa Untuk Bank Riba, Penjual Rokok, Alat-alat Musik dan Video yang Merusak

MENGIKUTI AL-QUR’AN DAN SUNNAH TERMASUK KEMERDEKAAN YANG HAKIKI

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

الحرية الصحيحة هي اتباع الكتاب والسنة، لأنّهما يحرران العقول ويحرران العبيد من الأهواء ومن الشهوات ومن الأفكار ومن الآراء الضالة والشاذة، بل يحرران الناس من عبادة الأشجار والأحجار والشيطان والطواغيت، وهذه هي الحرية الصحيحة، تكون باتباع الكتاب والسنة، وأما مخالفة الكتاب والسنة فهذه عبودية وليست حرية، فيكونون عبيد أهوائهم، وعبيد أفكارهم ورغباتهم، وعبيد من قلَّدوهم على ضلال

“Kemerdekaan yang sebenarnya adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya membebaskan akal manusia dan melepaskan hamba dari penjajahan:
– Hawa nafsu.
– Syahwat.
– Pemikiran dan pendapat yang sesat dan nyeleneh.

Bahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah melepaskan manusia dari penghambaan kepada:
– Pepohonan.
– Batu-batuan.
– Setan.
– Thagut.

Maka inilah kemerdekaan yang sebenarnya, yaitu dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Adapun menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu adalah penghambaan bukan kemerdekaan, yaitu menghamba kepada:
– Hawa nafsu
– Pemikiran dan keinginan yang menyimpang.
– Orang-orang yang menyesatkan.” [Bayanu Ma’ani fi Syarhi Muqoddimah Ibni Abi Zaid Al-Qoirawani, hal. 91]

ORANG YANG SUKA MAKSIAT BELUM MERDEKA SECARA HAKIKI

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

أَنَّ الْعَاصِيَ دَائِمًا فِي أَسْرِ شَيْطَانِهِ، وَسِجْنِ شَهَوَاتِهِ، وَقُيُودِ هَوَاهُ، فَهُوَ أَسِيرٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ، وَلَا أَسِيرَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْ أَسِيرٍ أَسَرَهُ أَعْدَى عَدُوٍّ لَهُ، وَلَا سِجْنَ أَضْيَقُ مِنْ سِجْنِ الْهَوَى، وَلَا قَيْدَ أَصْعَبُ مِنْ قَيْدِ الشَّهْوَةِ، فَكَيْفَ يَسِيرُ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ قَلْبٌ مَأْسُورٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ؟ وَكَيْفَ يَخْطُو خُطْوَةً وَاحِدَةً؟

“Orang yang bermaksiat selalu dalam tawanan setannya, dalam penjara syahwatnya dan belenggu hawa nafsunya, maka ia tertawan, terpenjara lagi terbelenggu.

Dan tidak ada tawanan yang lebih jelek keadaannya dari tawanan yang ditawan oleh musuh terbesarnya, tidak ada penjara yang lebih sempit dari penjara hawa nafsu dan tidak ada belenggu yang lebih sulit terlepas dari belenggu syahwat.

Baca Juga : TIPU DAYA SETAN DI TEMPAT ANGKER

Maka bagaimana bisa hati yang tertawan, terpenjara lagi terbelenggu dapat berjalan menuju kepada Allah dan negeri akhirat!? Bagaimana bisa ia mengayun satu langkah!?” [Al-Jawaabul Kaafi, hal. 79]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لست حرا في معصية الله، بل إنك إذا عصيت ربك فقد خرجت من الرق الذي تدعيه في عبودية الله إلى رق الشيطان والهوى

“Engkau tidak merdeka untuk berbuat maksiat kepada Allah, bahkan jika engkau bermaksiat kepada Rabbmu, maka engkau telah keluar dari penghambaan kepada Allah, memasuki penjajahan setan dan hawa nafsu.” [Majmu’ Al-Fatawa, 3/81]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Kajian Online Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah:
Youtube 
Facebook
Instagram
Telegram 
Twitter 
Website 
WA Group 

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim]

Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini