Jangan Membantu Setan, Jagalah Persatuan

11

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Nabi yang penyayang shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah (kaum muslimin) yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi dia belum putus asa untuk memecah belah di antara mereka.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

والتحريش الإغراء والمعنى أنه يجتهد في إفساد ما بينهم من التواصل ليقع التباغض

At-Tahrisy (memecah belah) adalah memanas-manasi, maknanya adalah, setan berusaha sekuatnya untuk merusak hubungan antara kaum muslimin sehingga mereka saling membenci.” [Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 1/752]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

وَمَعْنَاهُ : أَيِس أَنْ يَعْبُدهُ أَهْل جَزِيرَة الْعَرَب ، وَلَكِنَّهُ سَعَى فِي التَّحْرِيش بَيْنهمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاء وَالْحُرُوب وَالْفِتَن وَنَحْوهَا

“Dan maknanya, setan telah putus asa untuk disembah penduduk (muslim) Jazirah Arab, akan tetapi dia tetap berusaha memecah belah kaum muslimin dengan permusuhan, kebencian, peperangan, fitnah, dan semisalnya.” [Syarah Muslim, 17/156]

Alhamdulillah, hadits yang mulia dan keterangan para ulama di atas sungguh merupakan peringatan yang agung bagi kaum muslimin, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bahwa bersatunya kaum muslimin di atas tauhid dan sunnah belumlah membuat setan berputus asa untuk menyesatkan mereka, karena walaupun sulit baginya mengajak kaum muslimin yang benar-benar mentauhidkan Allah ta’ala dan mengikuti sunnah untuk melakukan syirik dan bid’ah, akan tetapi dia masih bisa memanas-manasi mereka untuk berpecah belah dan saling bermusuhan antara satu dengan lainnya.

Dan apabila permusuhan di tengah-tengah kaum muslimin semakin berkobar, maka mereka akan disibukkan dengan masalah ini sehingga terpalingkan dari dakwah menyebarkan tauhid dan sunnah. Atau minimal perhatian mereka untuk memberantas keyirikan dan bid’ah semakin berkurang, dan sebaliknya, para penyeru kesesatan semakin leluasa menyebarkan kesesatannya. Di sisi lain, perpecahan antara kaum muslimin akan dijadikan senjata bagi musuh-musuh Islam -baik yang berada di luar (orang-orang kafir) maupun dalam selimut (ahlul bid’ah)- sebagai sarana menjatuhkan kaum muslimin dan menjauhkan manusia dari dakwah yang haq.

Namun sungguh sangat disayangkan, apa yang diinginkan setan ini ternyata betul-betul terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, dan lebih disayangkan lagi, adanya sebagian orang yang senang membantu setan dengan terus memanas-manasi suasana, sehingga perpecahan semakin parah. Dan terkadang sebagian mereka melakukannya tanpa sadar, dikarenakan semangat berlebihan tanpa didasari oleh ilmu namun berani berbicara dalam masalah-masalah seperti ini. Wallahul Musta’an.

Comments (11)

  1. Alhamdulillah… Baarakallaahu Fiikum, semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberi pahala yang banyak bagi ustadz, dan Allah Subhanahu waTa’ala menjadikannya sebab bagi terjadinya persatuan di kalangan Ahlussunnah di negeri ini. Amiin…

    Reply
  2. Ustadz – hafidzahullah, ana menjadi bingung dengan adanya fitnah2 yg dilemparkan oleh sekelompok org yg mengaku salafy/ahlusunnah padahal mrk bukan salafy murni, serta jelas kesesatan manhajnya. lalu salafiyin diperingati oleh para asatidzah (tsiqoh insya Allah) agar berhati-hati dalam penyimpangan manhaj, lalu apakah peringatan asatidzah tsb yg banyak menimbulkan pro & kontra termasuk membantu syaithon? krn menimbulkan perselisihan?. sementara sebagian salafy memang sdh ada yg terfitnah dlm penyimpangan manhaj (kesana juga kesini juga). khaif ustadz? kenyataannya jadi berpecahbelah bukan?. wallahu mustaan. sepertinya berpecahbelah itu adalah sudah sunnatullah, tergantung manusianya memilih yang hak atau yang bathil. mengapa kesan yang ana lihat bahwa orang2 yang memperingati dalam penyimpangan manhaj dianggap memecahbelah/ menimbulkan perselisihan/ pembuat fitnah, sedangkan orang2 yang sdh jatuh dlm penyimpangan manhaj (naudzubillah) justru tidak dipermasalahkan, bahkan terkesan ‘dibela’ sebagian asatidzah yg dakwahnya tidak pernah memperingati umat dari bahaya salafy sempalan. Semoga Allah memberikan para pendakwah salaf di Indoneisa seperti para sahabat yang mencontoh Rasulullah dengan “hikmah”, yakni lemah lembut, namun kadang dibutuhkan tegas dan jelas bahkan keras. sehingga tidak hanya lemah lembut saja dan berkesan toleran karena dianggap sama2 ahlusunnah (padahal jelas sudah terfitnah manhaj). justru da’i yang demikian tanpa sadar sudah membantu syaithon. kita lihat mad’u yang menyimpang ‘pasti’ krn gurunya yg menyimpang pula. mad’u yang toleran krn gurunya jg toleran, demikian juga mad’u yang keras & tegas dalam perkara manhaj, karena gurunya juga demikian. sehingga ma’du kembali bagaimana gurunya bukan?. itu yg membuat ana bingung stadz.., jazakumullahu khoiron. ditunggu responsnya.

    Reply
    • Wa jazaakumullahu khairon, yang dimaksud dalam tulisan ini adalah menjaga persatuan sesama Ahlus Sunnah, adapun memperingatkan kesesatan manhaj orang-orang yang mengaku Salafy namun ternyata dia bukan Salafy adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan meskipun dituduh memecah belah umat.

      Reply
  3. Barakallaahu fiikum ya ustadz, semoga Allah memberi keberkahan thp Ilmu Antum dan mengokohkan Ana dan Antum di atas Sunnah al Muthohharah.

    Reply
  4. artikel yg sangat bagus yang seharusnya juga dibaca oleh mereka yang suka buat perpecahan dgn bid’ah-bid’ah mrk ,shg ummat tercerai berai karenanya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *