HANYA ISLAM YANG DIRIDHOI SANG PENCIPTA

1
12831

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلاَم

“Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali Imron: 19]

BEBERAPA PELAJARAN

Pertama: Penegasan Bahwa Agama yang Benar dan Diridhoi Sang Pencipta Hanyalah Islam

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Sang Pencipta, karena:

1. Allah sendiri yang telah menetapkan hal itu di dalam kitab-Nya yang mulia Al-Qur’anul Karim.

2. Satu-satunya agama yang masih mengikuti ajaran utama para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam terdahulu, yaitu mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik.

Maka tidak ada jalan lain untuk beribadah kepada-Nya kecuali harus masuk Islam, agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

وقوله: { إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلام } إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم، فمن لقي الله بعد بعثته محمدًا صلى الله عليه وسلم بدِين على غير شريعته، فليس بمتقبل. كما قال تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan firman Allah ta’ala ‘Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanya Islam’ adalah pengabaran dari Allah ta’ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain Islam, yaitu ajaran yang mengikuti agama para Rasul yang Allah ta’ala utus pada setiap masa, sampai diakhiri dengan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana Allah ta’ala telah menutup semua jalan untuk sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berjumpa dengan Allah ta’ala setelah pengutusan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan tidak mengikuti agama beliau, maka tidak akan diterima agamanya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima dari padanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron: 85).” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/52]

Kedua: Kewajiban Masuk Islam agar Selamat dari Azab Neraka

Allah ta’ala telah memastikan bahwa non muslim, yaitu Yahudi dan Nasrani serta seluruh kaum musyrikin akan dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya karena:

1. Mereka telah kafir kepada Allah ta’ala dengan tidak mau masuk Islam.

2. Menyekutukan Allah dengan menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah yang telah menciptakan mereka dan selalu memberikan rezeki serta mencurahkan kenikmatan kepada mereka.

3. Tidak mau beriman kepada Rasul terakhir yang Allah utus membawa kebenaran dan menghapus agama-agama sebelumnya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَد مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang pernah mendengarkan tentang aku, apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu]

Ketiga: Liberalisme dan Plularisme, yaitu Meyakini Semua Agama Sama atau Membenarkan Selain Islam adalah Kekafiran

Ayat yang mulia ini juga menegaskan bahwa:

1. Keyakinan semua agama sama adalah kekafiran. Dan bagaimana mungkin disamakan antara agama yang mengajarkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dengan agama-agama yang mengajarkan syirik; penyembahan kepada sesembahan-sesembahan yang lemah, yang tidak menciptakan mereka, tidak pula menganugerahkan rezeki dan kenikmatan kepada mereka sedikit pun?!

2. Demikian pula keyakinan bahwa ada agama selain Islam yang benar adalah kekafiran, barangsiapa yang memiliki keyakinan tersebut maka ia kafir, murtad, keluar dari Islam, menurut kesepakatan ulama, tidak ada perbedaan pendapat. Karena orang yang meyakininya berarti mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah mengkafirkan seluruh non muslim dalam banyak sekali ayat dan hadits.

Asy-Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata,

من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم، كفر

“Barangsiapa tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau ragu dengan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat (kekafiran) mereka, maka ia kafir.” [Risalah Nawaqidhul Islam, ke-3]

Keempat: Islam adalah Agama yang Sempurna

Allah ta’ala telah menetapkan agama yang mulia ini sebagai agama yang Dia ridhoi dan sebagai penutup seluruh agama yang pernah Dia turunkan, maka Allah ta’ala menyempurnakan agama ini, sehingga:

1. Agama Islam tidak mengandung kekurangan sedikit pun.

2. Sangat cocok dan sesuai bagi seluruh umat manusia dari seluruh bangsa.

3. Sangat cocok dan sesuai dengan zaman kapan pun sejak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diutus sampai hari kiamat.

Karena semua yang dibutuhkan seorang hamba untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, telah diajarkan di dalam agama ini, hanya kita umat Islam yang banyak belum mengetahuinya.

Allah ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]

LARANGAN MENAMBAH-NAMBAH DALAM AGAMA

Karena agama ini telah sempurna, maka tidak perlu lagi seseorang menambah-nambah dalam agama.

Sahabat yang mulia Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata,

تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meninggalkan kami, dalam keadaan tidaklah seekor burung kecil mengepakkan dua sayapnya di udara, kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentang hal itu.” Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersisa sedikit pun yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1803]

Karena menambah-nambah dalam agama sama saja dengan menuduh agama ini belum sempurna.

Al-Imam Malik rahimahullah berkata,

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا

“Barangsiapa berbuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.” [Al-I’tishom lisy Syaathibi rahimahullah, 1/65-66]

Padahal masih terlalu banyak petunjuk-petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang belum kita pelajari, yang sudah dipelajari pun masih banyak yang belum diamalkan, tapi mengapa malah mengamalkan yang tidak beliau contohkan…?!

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya maka itu tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةُ وَإِنْ رَآهَا النَّاس حَسَنَة

“Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).” [Dzammul Kalaam: 276]

KEWAJIBAN MASUK ISLAM SECARA MENYELURUH

Yang sepatutnya kita lakukan adalah masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, berusaha mengamalkan seluruh ajarannya, tanpa memilih-milih yang sesuai dengan hawa nafsu saja, sehingga akhirnya:

1. Mengamalkan sebagian dan meninggalkan sebagian.

2. Mengamalkan yang tidak diajarkan lalu dianggap sebagai ajaran agama.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” [Al-Baqoroh: 208]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك

“Allah ta’ala berfirman, memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya untuk memegang semua ikatan Islam dan syari’at-syari’at-Nya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya semampu mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/555]

Asy-Syaikhul Al-‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata,

قال جماعة من السلف معنى ذلك: ادخلوا في السلم جميعه, يعني في الإسلام, يقال للإسلام سلم; لأنه طريق السلامة, وطريق النجاة في الدنيا والآخرة, فهو سلم وإسلام, فالإسلام يدعو إلى السلم, يدعو إلى حقن الدماء بما شرع من الحدود والقصاص والجهاد الشرعي الصادق, فهو سلم وإسلام وأمن وإيمان

“Berkata sekumpulan ulama Salaf, makna ayat tersebut: Masuklah ke dalam as-silm (keselamatan) secara menyeluruh, maknanya adalah masuklah ke dalam Islam, dikatakan bahwa Islam itu adalah keselamatan, karena ia adalah jalan keselamatan dan jalan kesuksesan di dunia dan akhirat, inilah jalan keselamatan dan menyelamatkan, karena Islam mengajak kepada keselamatan, menyeru untuk menjaga darah dengan syari’atnya, seperti hukum-hukum hudud, qishos, jihad yang sesuai syar’i lagi benar, inilah syari’at keselamatan dan menyelamatkan, keamanan dan keimanan.” [Al-Fatawa, 1/341-342]

Kelima: Tidak ada Paksaan dalam Agama Bukan Berarti Pembenaran terhadap Agama Kekafiran dan Kesyirikan

Perlu kita luruskan kesalahpahaman terhadap ayat “Tidak ada paksaan dalam agama” maka kita katakan:

1. Ayat tersebut bukanlah pembenaran kepada agama selain Islam.

2. Bukan pula larangan berjihad dan menyebarkan dakwah Islam.

3. Bukan pula sebagai pembebasan bagi manusia untuk memilih agama yang ia sukai.

Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Tentang firman Allah ta’ala ‘Tidak ada paksaan dalam agama‘ bukanlah bermakna bahwa orang-orang kafir dibiarkan tanpa dilakukan jihad kepada mereka (apabila terpenuhi syarat-syarat berjihad) dan tanpa diajak masuk Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang bermaksud jahat terhadap Islam, orang-orang kafir dan kaum muslimin yang bodoh.

Alasan mereka adalah kebebasan beragama dan kebebasan aqidah, ini adalah kedustaan atas Allah ‘azza wa jalla, bukan itu maksud Allah jalla wa ‘ala, karena Allah jalla wa ‘ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku saja, Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka, dan tidak pula agar mereka memberi makan.” [Adz-Dzariyat: 56-57]

Andaikan manusia itu boleh dibiarkan saja menjadi orang-orang kafir yang beribadah semau mereka, maka firman Allah ta’ala ‘Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku saja’, kalau begitu tidak lagi bermakna, demikian pula jihad di jalan Allah tidak ada manfaatnya, dan tidak ada gunanya berdakwah, sebab untuk apalagi engkau mendakwahi manusia padahal mereka bebas menentukan aqidah yang akan mereka peluk dan ibadah yang akan mereka lakukan?! Kalau begitu biarkan saja manusia –menurut ucapan batil ini-, tidak perlu didakwahi, biarkan mereka beribadah sesuai pilihan mereka.” [Syarhu Ma’na Thagut, dicetak bersama Silsilah Syarhir Rosaail, hal. 283-284]

GABUNG TELEGRAM DAN GROUP WA TA’AWUN DAKWAH & BIMBINGAN ISLAM

Channel Telegram:
taawundakwah
kajian_assunnah
kitab_tauhid
videokitabtauhid
kaidahtauhid
akhlak_muslim

Gabung WAG Ketik: Daftar
Kirim ke 628111833375
Atau 628111377787

Medsos dan Website:
Facebook
Instagram
Website

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini