Cara Ahlus Sunnah Menghadapi Kekuatan-kekuatan Politik Anti Islam

1
134

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cukup Allah Pelindung

Demokrasi, dengan segenap perangkatnya, telah memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok sesat anti Islam seperti JIL, Syi’ah, dan lain-lain untuk menduduki jabatan-jabatan politik yang sangat strategis.

Wajar jika muncul kekhawatiran terhadap makar-makar musuh Islam yang akan semakin menguat karena ditopang oleh kekuasaan. Walau sesungguhnya, kesadaran akan bahayanya makar mereka selalu dituntut dari seorang muslim, terlepas apakah mereka berkuasa atau tidak.

Yang menjadi masalah, bagaimana cara menyikapi makar tersebut. Sangat disayangkan, telah sampai kepada kami sebagian Ikhwan yang menyikapinya dengan cara yang kurang tepat. Diantaranya, ada yang sampai mengatakan, “Untuk apalagi menuntut ilmu, sekarang saatnya latihan fisik untuk menghadapi orang-orang Syi’ah yang mulai masuk melalui jalur politik dan sosial kemasyarakatan.” Padahal ilmu adalah pelita dalam kegelapan, tidak akan bermanfaat kekuatan fisik tanpa ilmu.

Sebagian lagi tenggelam dalam pembicaraan tentang kondisi politik kontemporer, dunia Facebook, Twitter hingga website-website yang dianggap rujukan dalam ilmu-ilmu Islam pun mengambil bagian yang besar dalam diskusi berita-berita politik, walau sering kali berita-berita tersebut berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas, bahkan media-media berpaham pengkafiran dan media-media sekuler.

Link-link website sampah internet yang berisi berita gosip, dusta dan kesesatan pun berseliweran di beranda Facebook, iklan gratis. Tidak lupa disertai komentar pengamat politik dadakan hingga jurkam dadakan, lalu disusul dengan perdebatan hingga permusuhan para “pengamat” tersebut. Tidak jarang gambar-gambar bernyawa dan wanita membuka aurat ikut mengambil kesempatan untuk tampil.

Sebagian orang juga berpendapat, sekarang saatnya memasuki dunia politik, kalau perlu mendirikan partai politik, dan seterusnya. Maka pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan  -insya Allah ta’ala- dua kaidah penting untuk menghadapi makar musuh:

1) Sabar, Takwa, Tawakkal dan Senantiasa Berdoa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala

Allah subhanahu ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui (meliputi) segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali Imron: 120]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يرشدهم تعالى إلى السلامة من شر الأشرار وكَيْدِ الفُجّار، باستعمال الصبر والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه

“Allah ta’ala membimbing kaum mukminin untuk selamat dari keburukan orang-orang jelek dan makar orang-orang jahat, dengan mengamalkan sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah yang maha mampu meliputi musuh-musuh mereka, maka tidak ada daya dan kekuatan bagi kaum mukminin kecuali dengan-Nya, Dialah yang kehendak-Nya pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi, dan tidak ada sedikitpun yang dapat menjadi kenyataan kecuali dengan taqdir-Nya dan kehendak-Nya, maka siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/109]

Nasihat yang agung ini juga sangat bermanfaat bagi para du’at Ahlus Sunnah, ketika manusia berbuat makar kepadanya, menjatuhkan kehormatannya (di dunia nyata maupun maya), bahkan tindakan fisik sekalipun, maka janganlah ia takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela dan tindakan fisik apa pun, selama ia sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah ta’ala. Yang perlu dia takutkan adalah apabila Allah murka kepada-Nya ketika ia tidak sabar, tidak takwa dan tidak awakkal kepada-Nya.

Takwa adalah Solusi

Dan tidak diragukan lagi, berdoa kepada Allah ta’ala dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya adalah sebaik-baiknya solusi.

Allah ta’ala berfirman,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi!? Apakah ada sesembahan yang lain bersama Allah!? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” [An-Naml: 62]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang ditimpa kesusahan, lalu ia mengadu kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian (yang baik) yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

فمن تعلق بالله وأنزل حوائجه إليه والتجأ إليه وفوض أمره إليه وكفاه وقرب إليه كل بعيد ويسر له كل عسير ومن تعلق بغيره أو سكن إلى رأيه وعقله ودوائه وتمائمه ونحو ذلك وكله الله إلى ذلك وخذله وهذا معروف بالنصوص والتجارب قال تعالى ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Maka barangsiapa yang bergantung kepada Allah ta’ala, memohon hajat-hajatnya kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, memasrahkan urusannya kepada-Nya niscaya Allah ta’ala akan mencukupinya, mendekatkan baginya setiap yang jauh, memudahkan baginya semua yang sulit.

Dan barangsiapa yang bergantung kepada selain-Nya atau lebih tenang (ketika bersandar) kepada pendapatnya, akalnya, obatnya, jimat-jimatnya dan yang semisalnya maka Allah ta’ala jadikan dia bergantung kepada makhluk-makhluk tersebut dan Allah ta’ala akan menghinakannya. Dan ini sudah dimaklumi berdasarkan dalil-dalil dan kenyataan. Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” [Ath-Tholaq: 3].” [Fathul Majid, hal. 124]

2) Menuntut Ilmu Agama, Mengamalkannya dan Menyebarkannya

Kaidah dalam kenyataan hidup ini, apabila kebodohan terhadap ilmu agama merebak, kesesatan pun tersebar. Demikianlah, apabila tauhid dan sunnah tidak dipelajari dengan baik, tidak diamalkan, tidak pula disebarkan pada satu masyarakat, maka syirik dan bid’ah akan merajalela di tengah-tengah mereka, dan kelompok-kelompok sesat akan mendominasi.

Oleh karena itu, kembali kepada ilmu yang shahih, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf, berusaha mengamalkannya dengan baik dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia adalah termasuk solusi terbaik menghadapi semua kekuatan politik apa pun yang memusuhi Islam, dan semua kelompok sesat.

Karena kemenangan Islam selamanya bukan karena kekuatan fisik atau materi, tetapi karena pertolongan Allah ta’ala, sedang pertolongan itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yang hanya dapat diraih dengan ilmu, amal dan dakwah kepada iman dan amal shalih tersebut.

Allah ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur: 55]

Adapun terjun memasuki politik praktis di masa ini, dengan sistem politik yang bertentangan dengan Islam dan keadaan kaum muslimin yang jauh dari agama, bukanlah pilihan yang benar.

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Faqih Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

إنه نحن الآن عملنا في تصحيح المفاهيم الإسلامية ، خاصة فيما يتعلق منها بالعقيدة … العمل السياسي قد ذكرت لك في أثناء البحث والتحقيق ، لكن الآن أعود وأقول لك شيئا نحن حينما نقول لا نعمل في السياسة أرجوا أن لا تفهموا أننا ننكر العمل السياسي ، ونحن نعتقد أننا الآن في دعوتنا للمسلمين ، الذين انحرفوا عن الإسلام في كثير من جوانبه وانصرفنا نحن بسبب إقبالنا على هذا النوع من الدعوة ، لا لأن العمل السياسي ننكره ، بل نعتقد الآن أن من السياسة ترك السياسة ، فتبسم الرجل ضاحكا ، وقال مع السلامة ، فمن السياسة ترك السياسة في هذا الزمان ، لأن المسلمين بعيدون كل البعد عن أصول الشريعة الإسلامية

“Tugas kita saat ini adalah meluruskan pemahaman tentang Islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah. Adapun kegiatan politik -telah aku katakan kepadamu di tengah-tengah pembahasan dan penelitian- akan tetapi saat ini aku ulangi dan aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, ketika kita mengatakan bahwa kita tidak mengikuti politik, aku harap kalian tidak memahami bahwa kami mengingkari kegiatan politik, dan kita meyakini bahwa dakwah kita saat ini terhadap kaum muslimin yang menyimpang dari Islam pada banyak bidangnya, dan kita pun bangkit karena kita telah menerima dakwah seperti ini, bukan karena kita mengingkari kegiatan politik, bahkan kita meyakini bahwa: Termasuk politik di masa ini adalah meninggalkan politik -maka penanya pun senyum dan beliau berkata semoga selamat-. Maka termasuk politik di zaman ini adalah meninggalkan politik, sebab kaum muslimin masih sangat jauh dari prinsip-prinsip syari’at Islam.” [Transkrip Kaset Silsilatul Hudaa  wan Nuur: 210]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Website:  Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info

1 COMMENT

  1. […] Dan usaha seorang mukmin untuk mendapatkan pemimpin yang baik bukanlah berarti ia harus terjun dalam politik demokrasi yang ia yakini sebagai sesuatu yang menyimpang, bahkan usahanya yang terbaik adalah memperbaiki dirinya dengan menuntut ilmu, mengamalkannya dan menyebarkannya di tengah-tengah umat. Inilah perbaikan negeri menurut seluruh para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam. Karena dengan itu ia akan meraih pertolongan Allah ta’ala (baca: http://sofyanruray.info/cara-ahlus-sunnah-menghadapi-kekuatan-kekuatan-politik-anti-islam/). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here