Memetik Hikmah di Balik Gerhana

0
141

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sunnah Ketika Gerhana

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak pula karena kelahirannya, maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbir, sholat dan bersedekah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Beberapa Pelajaran:

1) Dalam hadits yang mulia ini terdapat peringatan untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah ta’ala di alam ini. Bahwa seluruh makhluk, yang besar maupun yang kecil, yang bergerak maupun yang diam, di bumi maupun di langit, semuanya tunduk di bawah pengaturan Allah ‘azza wa jalla, maka sudah sepatutnya kita hanya menyembah kepada Allah ta’ala yang satu saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

2) Kewajiban untuk takut kepada Allah ta’ala, karena keagungan dan kebesaran-Nya, seluruh makhluk tunduk di bawah kekuasaan-Nya, sangat mudah bagi-Nya untuk menimpakan azab terhadap orang-orang yang durhaka kepada-Nya. Bahkan disebutkan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu bahwa ketika terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka beliau sangat takut akan terjadinya kiamat, sehingga beliau bersegera untuk datang ke masjid dan melakukan sholat gerhana.

3) Bantahan terhadap orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan, melampaui batas) dalam menghormati orang-orang shalih sampai menganggap kejadian-kejadian di alam ini karena kematian atau kelahiran seorang yang shalih atau ada campur tangan orang-orang shalih tersebut, maka mereka telah menyekutukan Allah ta’ala dengan orang-orang shalih tersebut dengan dalih menghormati dan memuliakan mereka.

4) Sebagaimana dalam hadits ini juga terdapat bantahan terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah ta’ala dengan matahari dan bulan, padahal kenyataannya kedua makhluk tersebut hanyalah makhluk yang lemah, selalu tunduk kepada Allah ta’ala, tidaklah patut dipersekutukan dengan Allah jalla wa ‘ala Yang Maha Besar lagi Maha Perkasa.

5) Disunnahkan ketika gerhana untuk bersegera memperbanyak doa, dzikir, istighfar, taubat kepada Allah ta’ala dan bersedekah.

6) Isyarat untuk selalu bersandar kepada Allah ta’ala dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan (Lihat Ihkamul Ahkam, 1/239).

7) Juga terdapat isyarat bahwa hal-hal yang menakutkan itu muncul karena dosa-dosa para hamba, maka hendaklah kembali kepada Allah ta’ala dengan beribadah dan memohon ampun kepada-Nya agar Allah ta’ala menghilangkan musibah tersebut (Lihat Ihkamul Ahkam, 1/239)

8) Disunnahkan bagi yang “melihat” gerhana untuk melakukan sholat gerhana. Adapun bagi yang tidak melihatnya secara langsung, seperti karena terhalang mendung maka tidak disyari’atkan. Asy-Syaikhul Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز أن يصلي اعتماداً على ما ينشر في الجرائد، أو يذكر بعض الفلكيين، إذا كانت السماء غيماً ولم ير الكسوف؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم علق الحكم بالرؤية، فقال عليه الصلاة والسلام: «فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة»، ومن الجائز أن الله تعالى يخفي هذا الكسوف عن قوم دون آخرين لحكمة يريدها

“Tidak boleh melakukan sholat gerhana hanya berdasarkan pada berita yang tersebar di koran-koran atau pengabaran ahli falak (tanpa melihat langsung), apabila langit mendung dan gerhana tidak terlihat, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengaitkan hukum (sholat) dengan melihat (gerhana), beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Maka apabila kalian melihat gerhana bersegeralah untuk sholat.” Dan bisa jadi Allah ta’ala tidak menampakkan gerhana ini bagi suatu kaum sedang yang lainnya dapat melihatnya, karena suatu hikmah yang Allah inginkan.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail: 3041]

9) Hikmah sholat gerhana adalah dalam rangka menaati dan meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dan menundukkan diri kepada Allah ta’ala agar diselamatkan dari berbagai bencana yang Allah peringatkan melalui gerhana (Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 1241).

10) Disunnahkan bersedekah dengan niat karena Allah ta’ala, dan boleh disertakan niat agar Allah ta’ala menghilangkan musibah. Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata,

وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور

“Dan dalam hadits ini terdapat dalil disunnahkannya bersedekah dalam keadaan-keadaan genting, untuk menolak bencana yang dikhawatirkan.” [Ihkamul Ahkam, 1/238]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.fb.com/sofyanruray.info

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here