Beriman kepada yang Ghaib dan Bantahan terhadap Kekafiran Filsafat Materialisme

0
144

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beriman kepada yang Ghaib

Allah ta’ala telah berfirman tentang sifat-sifat orang yang bertakwa,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 5

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu); mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” [Al-Baqoroh: 1-5]

Asy-Syaikhul Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

حقيقة الإيمان: هو التصديق التام بما أخبرت به الرسل، المتضمن لانقياد الجوارح، وليس الشأن في الإيمان بالأشياء المشاهدة بالحس، فإنه لا يتميز بها المسلم من الكافر. إنما الشأن في الإيمان بالغيب، الذي لم نره ولم نشاهده، وإنما نؤمن به، لخبر الله وخبر رسوله. فهذا الإيمان الذي يميز به المسلم من الكافر، لأنه تصديق مجرد لله ورسله. فالمؤمن يؤمن بكل ما أخبر الله به، أو أخبر به رسوله، سواء شاهده، أو لم يشاهده وسواء فهمه وعقله، أو لم يهتد إليه عقله وفهمه. بخلاف الزنادقة والمكذبين بالأمور الغيبية، لأن عقولهم القاصرة المقصرة لم تهتد إليها فكذبوا بما لم يحيطوا بعلمه ففسدت عقولهم، ومرجت أحلامهم. وزكت عقول المؤمنين المصدقين المهتدين بهدى الله.
ويدخل في الإيمان بالغيب، الإيمان بجميع ما أخبر الله به من الغيوب الماضية والمستقبلة، وأحوال الآخرة، وحقائق أوصاف الله وكيفيتها، وما أخبرت به الرسل من ذلك فيؤمنون بصفات الله ووجودها، ويتيقنونها، وإن لم يفهموا كيفيتها

“Hakikat keimanan adalah pembenaran secara menyeluruh terhadap apa yang dikabarkan oleh para Rasul yang mencakup ketundukan anggota tubuh, dan bukanlah hakikat iman itu meyakini apa-apa yang dapat disaksikan dengan panca indera, karena itu tidak membedakan antara seorang muslim dengan kafir (karena sama-sama memiliki panca indera yang dapat menyaksikan). Hanyalah hakikat iman itu adalah meyakini yang ghaib, yang belum kita lihat dan saksikan, akan tetapi kita mengimaninya karena adanya berita dari Allah dan Rasul-Nya, inilah iman yang membedakan antara seorang muslim dan kafir, karena ia adalah semata-mata pembenaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka seorang mukmin mengimani semua yang dikabarkan oleh Allah atau dikabarkan oleh Rasul-Nya, sama saja apakah ia menyaksikannya atau tidak menyaksikannya, apakah ia memahaminya dan mampu dicerna akalnya atau pun akal dan pemahamannya tidak sanggup menggapainya.

Berbeda dengan orang-orang sesat dan mendustakan perkara-perkara ghaib, mereka tidak mengimaninya karena akal-akal mereka pendek dan terbatas serta tidak sanggup menggapainya, maka mereka mendustakan sesuatu yang tidak dapat dililiputi secara menyeluruh ilmunya, maka rusaklah akal-akal mereka dan hilanglah kepandaian mereka, sedang akal-akal kaum mukminin tetap bersih karena membenarkan perkara ghaib dan menempuh jalan hidayah Allah.

Dan termasuk keimanan terhadap yang ghaib adalah mengimani seluruh yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-rasul-Nya tentang perkara-perkara ghaib yang telah lalu maupun yang akan datang, tentang keadaan-keadaan di akhirat, tentang hakikat dan bentuk sifat-sifat Allah, maka mereka mengimani dan meyakini keberadaan sifat-sifat Allah (yang maha tinggi lagi maha mulia) meski pun mereka tidak memahami hakikat bentuknya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 40-41]

Beberapa Pelajaran:

1) Tidak diragukan lagi bahwa ayat yang mulia ini adalah bantahan terhadap paham kekafiran filsafat materialisme yang tidak mempercayai perkara ghaib, dan bahwa pemahaman tersebut adalah kekafiran kepada Allah ta’ala, siapa saja yang menyakininya maka ia kafir.

2) Tidak akan mencapai derajat iman dan takwa selamanya bila tidak beriman kepada yang ghaib.

3) Iman kepada yang ghaib adalah pembeda antara mukmin dan kafir.

4) Kewajiban beriman terhadap semua pengabaran Allah dan Rasul-Nya, dan menundukkan akal di bawahnya.

5) Termasuk keimanan penting terhadap perkara ghaib:
• Mempercayai berita-berita tentang umat terdahulu yang dikabarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
• Mengimani seluruh kejadian di masa depan dan setelah kematian yang dikabarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
• Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang Maha Tinggi, sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

https://www.facebook.com/sofyanruray.info

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here