بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jima’, berhubungan badan atau berhubungan suami istri, yaitu memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan secara sengaja walau tidak keluar mani, bagi orang yang sedang berpuasa adalah termasuk pembatal puasanya dan dosa yang sangat besar, berdasarkan Al-Qur’an (Al-Baqorah: 183), As-Sunnah dan ijma’.

Sahabat yang Mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata,

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya berkata: Wahai Rasulullah aku telah binasa. Beliau bersabda: Ada apa denganmu? Dia berkata: Aku menggauli istriku padahal aku sedang berpuasa Ramadhan.

Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Apakah engkau bisa mendapatkan seorang budak untuk dibebaskan? Dia berkata: Tidak.

Beliau bersabda: Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? Dia berkata: Tidak.

Beliau bersabda: Apakah engkau bisa mendapatkan makanan untuk 60 orang miskin? Dia berkata: Tidak.

Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diam beberapa saat, dalam keadaan demikian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diberikan satu bejana kurma –satu miktal; yang dapat menampung 15 sho’– lalu beliau bersabda: Mana orang yang bertanya? Dia berkata: Aku. Beliau bersabda: Ambillah kurma ini dan sedekahkan.

Dia berkata: Apakah diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada satu keluarga di daerah antara dua batu hitam tersebut yang lebih fakir dari keluargaku. Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi beliau, kemudian beliau bersabda: Beri makanlah kurma itu kepada keluargamu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

“Ulama tidak berbeda pendapat bahwa Allah ‘azza wa jalla mengharamkan atas orang yang berpuasa di siang hari Ramadhan melakukan kekejian, yaitu berjima’, makan dan minum.” [Al-Ijma’, hal. 59]

Keterangan di atas menunjukkan bahwa membatalkan puasa dengan berhubungan badan adalah dosa besar, maka wajib bertaubat dan membayar kaffaroh, urutan kaffarohnya ada tiga:

1. Membebaskan seorang budak yang beriman.

2. Kalau tidak mampu membebaskan seorang budak yang beriman maka berpuasa dua bulan berturut-turut setelah Ramadhan, selain di hari-hari yang terlarang berpuasa.

3. Kalau tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut maka memberi makan 60 orang miskin, tidak boleh kurang dari 60, setiap orang mendapatkan 1,5 kg beras (makanan pokok).

BEBERAPA PERMASALAHAN:

1. WASPADAI DOSA BESAR INI

2. APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG YANG BERJIMA’ DENGAN SENGAJA KETIKA BERPUASA DI SIANG HARI RAMADHAN?

3. URUTAN KAFFAROH

4. SYARAT WAJIB KAFFAROH

5. APAKAH WAJIB ATASNYA QODHO’?

6. APAKAH JUGA WAJIB KAFFAROH BAGI ISTRINYA?

7. APABILA SESEORANG BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI BERULANG KALI, BERAPA KALI KAFFAROHNYA?

8. APABILA UDZUR BERBUKA TELAH HILANG

9. APABILA UDZURNYA MUNCUL SETELAH PUASANYA BATAL DENGAN BERJIMA’, APAKAH WAJIB KAFFAROH?

10. APABILA PUASANYA BATAL KARENA MAKAN DAN MINUM LALU BERJIMA’, APAKAH WAJIB KAFFAROH?

11. WAJIBKAH KAFFAROH BAGI YANG BERJIMA’ SAAT BERPUASA DI LUAR BULAN RAMADHAN?

12. PENDAPAT ‘GHARIB’

13. HUKUM ORANG YANG TIDAK MAMPU MEMBAYAR KAFFAROH

14. BOLEHKAH SEKEDAR BERCUMBU SAAT BERPUASA?

15. HUKUM MENGELUARKAN AIR MANI DENGAN SELAIN JIMA’ SEPERTI ONANI DAN YANG LAINNYA

Baca Selengkapnya:

https://web.facebook.com/taawundakwah/posts/2138046263094840

GABUNG TELEGRAM & GROUP WA TA’AWUN DAKWAH DAN BIMBINGAN ISLAM

Pembina: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah

Telegram: http://t.me/taawundakwah

WAG: wa.me/628111377787
wa.me/628111833375

#Yuk_bantu_share. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.