Transkrip Lengkap Klarifikasi dan Nasihat Asy-Syaikh ‘Utsman As-Salimi hafizhahullah

3
49

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وسلم وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وبعد

Dauroh Masyaikh 1435 H

Kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami yang ada di kota Jakarta yang sedang menyambut para dai, saudara Syaikh Ahmad bin Syamlan, saudara Syaikh Syayyaf Ar-Raddai -semoga Allah senantiasa menjaga keduanya-, maka kami katakan -semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dan semoga Allah memuliakan mereka-:

Dan kami wasiatkan kepada saudara-saudara kami (yang ada di Indonesia) untuk mengambil faidah dari daurah ini. Syaikh Ahmad bin Syamlan adalah orang yang dikenal sebagai da’i yang berjalan di atas manhaj salaf di negeri Yaman, beliau memiliki ma’had di wilayah Rada’ dan beliau mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah di atas manhaj Salaf (semoga Allah membalasnya dengan kebaikan).

Dan daurah yang beliau sampaikan mencakup beberapa bidang; baik di bidang Ushul Fikih, Nahwu, Akidah, dan semisalnya. Maka kami wasiatkan kepada saudara-saudara kami (yang ada di Indonesia) untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menambah wawasan dari saudara-saudara kami (para da’i), dan hendaknya mereka senantiasa bersikap tenang, demikian pula hendaknya mereka berusaha untuk mengumpulkan faidah-faidah yang diberikan antara satu daurah dengan daurah yang lain.

Kami wasiatkan juga kepada saudara-saudara kami, walhamdulillah mereka terus berada di atas kebaikan. Kami senantiasa menasihati mereka dan saling memberi wasiat untuk senantiasa kokoh di atas manhaj Salaf, karena manhaj Salaf adalah manhaj yang kokoh yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعا السبل فتفرق بكم عن سبيله

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”

Manhaj Ahlus Sunah adalah manhaj yang lurus. Adapun bid’ah, sejak dahulu para pelakunya tidaklah selamat. Orang-orang Khawarij, Mu’tazilah, Rafidhah, Jahmiyah, dan Asy’ariyah mereka tidaklah selamat (dari kesesatan). Mazhab-mazhab mereka saling kontradiktif (bertentangan), demikian pula para Hizbiyyun di zaman sekarang ini. Oleh karena itu, kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menjauhi sikap-sikap Hizbiyyah (berkelompok-kelompok) demikian pula menghindari sebab-sebab yang dapat melahirkan sikap Hizbiyah yang selalu memecah belah umat.

Karena yang wajib bagi penuntut ilmu adalah memfokuskan diri dalam meraih ilmu yang bermanfaat dan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, dan hendaknya mereka senantiasa berpegang di atas manhaj yang lurus ini. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggalanku, niscaya ia akan melihat perpecahan yang sangat banyak, maka hendaklah kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya perkara-perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Kemudian hendaknya kalian saling tolong menolong di atas kebaikan dan persaudaraan. Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكمنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين الله لكم أياته لعلكم تهتدون

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Maka hendaknya senantiasa menjaga persaudaraan yang dilandasi oleh kaidah keimanan dan keislaman. Sungguh Allah subhaanahu wata’ala telah menganugerahkan nikmat kepada para sahabat dengan menyatukan hati-hati mereka. Allah subhaanahu wata’ala berfirman:

وألف بين قلوبهم لو أنفقت ما فى الأرض جميعا ما ألف بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم إنه عزيز حكيم

“Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Daurah kalian (walhamdulillah) sangatlah singkat, maka manfaatkanlah kesempatan ini yang hanya berkisar satu minggu atau sepuluh hari.

Dan ada sebagian dai yang mengatakan: “Akan hadir pada daurah ini Syaikh Abdul Hadi Al-’Umairi -yang merupakan bagian dari ulama yang ada di kota Makkah-”. Mereka mengatakan: “Beliau  (Syaikh Abdul Hadi Al-’Umairi) tidaklah dikenal oleh sebagian ulama.”

Kami jawab:

Beliau adalah pengajar di Masjidil Haram dan pada bulan Ramadhan beliau juga termasuk bagian dari pembimbing di Masjidil Haram. Saya pernah duduk di beberapa majelisnya. Walhamdulillah, manhaj beliau adalah manhaj Salaf dan beliau berbicara tentang manhaj Salaf (berpendapat dengannya), memperingatkan dari bid’ah, dan memperingatkan dari perkara hizbiyyah, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, kami tidak mengetahui tentangnya kecuali kebaikan.

Dan beberapa ulama sunnah apabila berziarah ke Masjidil Haram, mereka hadir di majelisnya, seperti Syaikh Al-Imam, demikian pula Syaikh yang lain, karena beliau adalah orang yang kami kenal sebagai bagian dari saudara-saudara kami yang berjalan di atas manhaj Salaf, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Oleh karena itu, ambillah kebaikan darinya dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Adapun seseorang yang tidak dikenal oleh sebagian ulama, perkara ini adalah perkara yang lumrah terjadi sejak zaman dahulu. Sebagian ulama zaman dahulu dikenal oleh beberapa ulama, namun tidak dikenal oleh ulama yang lain. Permasalahan ini adalah permasalahan yang ringan.

[Penjelasan Sebab Ketidakhadiran Asy-Syaikh ‘Utsman As-Salimi dan Nasihat Beliau untuk Meneruskan Dauroh]

Pada hakikatnya saya sudah bertekad untuk datang akan tetapi ada beberapa perkara yang menghalangiku:

Pertama, masalah kesehatan; karena saya memiliki penyakit gula (diabetes), terkadang meningkat dan terkadang menurun sehingga beberapa hari ini saya merasa tidak memiliki kekuatan untuk datang ke Indonesia (hanya kepada Allah kami memohon pertolongan).

Kedua, ibuku sedang sakit sehingga aku tidak bisa datang. Sungguh saat ini aku terhalangi oleh tiga perkara. Saya tidak tega untuk meninggalkannya dalam keadaan sakit, dan ada beberapa hal lain.

Apapun alasannya, lanjutkan daurah ini! Semoga Allah subhaanahu wa ta’ala senantiasa memberi taufik kepada kalian.

Apabila ada permasalahan yang diperselisihkan, sampaikan permasalahan tersebut kepada para ulama; Syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, ulama Madinah, ataupun yang mereka anggap bisa menyelesaikan permasalahan yang ada pada mereka.

Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر

“Jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir “

Dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan permasalahan-permasalahan ini pasti ada jalan keluarnya, akan tetapi membutuhkan kejujuran pada diri seseorang. Hendaknya dia jujur dalam menyelesaikan permasalahan ini. Dahulu guru kami Syaikh Muqbil sering mengucapkan:

“Beberapa pelajar ada yang berselisih, akan tetapi di antara mereka ada yang berusaha untuk tidak menampakkan kebenaran.”

Ini adalah hal yang berbahaya. Seseorang yang tidak ingin menampakkan kebenaran ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Yang wajib dilakukan adalah apabila engkau melihat hal tersebut adalah kesalahan dan para ulama telah menjelaskan bahwasanya amalan, manhaj, atau uacapanmu adalah keliru, maka hendaknya engkau segera rujuk. Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah.”

Maka wajib bagi kita semua untuk berhukum dengan Al-Quran dan As-Sunah dan hendaknya kita ridha dengan hukum Allah dan hukum Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang menghukumi permasalahan-permasalahan tersebut adalah ulama Sunnah karena mereka lebih sayang kepada kita dari pada diri-diri kita sendiri (semoga Allah senantiasa memberi keselamatan kepada kalian).

Para ulama di zaman sekarang dan zaman dahulu, mereka adalah orang-orang yang menyayangi saudara-saudara mereka dan mereka bagaikan ayah bagi anak-anak mereka, merekalah yang menjalankan dakwah ini (semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan).

Dan sebagaimana yang kalian ketahui tidak ada seorang pun melainkan pasti ia akan terjatuh ke dalam kekeliruan, akan tetapi apabila suatu kesalahan telah nampak, wajib untuk rujuk dari dan kembali kepada manhaj salaf. Sebagaimana yang telah kalian dengarkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggalanku, niscaya ia akan melihat perpecahan yang sangat banyak, maka hendaklah kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian, dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perakara yang diada-adakan (dalam agama).”

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila terjadi kesalahan dari sebagian sahabat atau jika mereka saling berselisih pendapat, mereka langsung kembali kepada beliau.

Dan tidak sepantasnya merasa senang apabila ulama menghukumi seseorang dengan kesesatan. Jangan bergembira dengan hal semacam ini!

Akan tetapi hendaknya sebagaimana yang dikatan oleh Imam Syafi’i,

“Apabila aku berselisih dengan seseorang, aku sangat berharap kalau seandainya kebenaran itu bersamanya agar aku bisa rujuk dan mengikuti pendapatnya.”

Karena mungkin saja apabila kebenaran itu bersama Imam Syafi’i, orang tersebut tidak siap untuk rujuk dalam menerima kebanaran. Rujuk (kembali) kepada kebenaran adalah suatu keutamaan dan sungguh demi Allah hal tersebut bukanlah suatu kekurangan atau kehinaan. Yang wajib bagi setiap muslim, hendaknya ia menguasai dirinya. Kalau seandainya kalian membaca biografi para ulama Salaf, betapa banyak dari mereka yang rujuk dari kesalahan-kesalahannya. Apabila suatu kesalahan telah terjadi, wajib untuk mencari kebenaran dan kembali kepada kebenaran,

وتوبوا إلى الله جميعا أيّهاالمؤمنون لعلّكم تفلحون

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah hai orang-orang beriman agar kamu beruntung.”

Di balik taubat terdapat keselamatan dan kebahagiaan serta kemaslahatan yang banyak. Maka janganlah sekali-kali engkau merasa senang dikarenakan saudaramu telah diketahui kesalahan dan kekeliruannya!

Jangan senang dikarenakan hal semacam ini! Karena mungkin saja Allah akan mengujimu dengan hal yang semisalnya.

Betapa banyak orang (di daerah kami di Yaman) merasa senang apabila si Fulan telah tersesat dan terjatuh ke dalam kesalahan dan para ulama telah menyatakannya sesat. Kini para ulama telah menghukumi mereka (orang-orang yang senang tersebut) berada di atas kesesatan dan mereka berada di atas kekeliruan, sebagaimana yang terjadi dengan sahabat-sahabat kami seperti Syaikh Yahya, betapa banyak mereka memperbincangkan kesesatan si Fulan dan si Fulan, kini banyak dari ulama telah menghukumi bahwasanya mereka berada di atas kesesatan.

Maka hendaknya seseorang tidak merasa senang dikarenakan saudaranya telah terjatuh ke dalam kesesatan. Justru sebaliknya, hendaknya engkau bersemangat dalam membantunya untuk kembali kepada sunnah, bantu ia dengan doa semoga Allah menganugerahkannya taufik dan kebenaran.

Kami memohon kepada Allah akan menganugerahkan taufik dan kebenaran kepada kita semua, semoga Allah memberkahi kalian, sebagaimana kami memohon kepada Allah agar menyatukan kalimat kaum muslimin dimana pun mereka berada dan menyatukan kalimat ahlusunah, dan agar Allah menyatukan hati-hati kita semua. Dan mohon maaf (atas segala kekurangan).

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

ألقاه فضيلة الشيخ عثمان بن عبد الله السالمي -حفظه الله- عبر الهاتف في السابع من شهر شعبان 1435 هــ الموافق 6 يونيو 2014 م

Sumber: WA Syiar Tauhid

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here