Selamat untuk Calon Pemimpin yang Tidak Terpilih

0
67

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Demokrasi bukan Islam

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian akan berambisi mengejar kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia hanya kesenangan di dunia dan penderitaan di akhirat.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Pemimpin Harus Kuat dan Amanah Klu Tdk Mau Menyesal

Sahabat yang mulia Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِى قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا

“Aku pernah berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku menjadi pejabat? Beliau menepuk bahuku dengan tangannya kemudian bersabda: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan adalah amanah, dan sungguh ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali orang yang mendapatkannya dengan cara yang benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya.” [HR. Muslim]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنْ شِئْتُمْ أَنْبَأْتُكُمْ عَنِ الإِمَارَةِ وَمَا هِيَ؟ أَوَّلُهَا مَلامَةٌ، وَثَانِيهَا نَدَامَةٌ، وثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلا مَنْ عَدَلَ وَكَيْفَ يَعْدِلُ مَعَ أَقْرِبِيهِ؟

“Kalau kalian mau niscaya akan kukabarkan tentang kekuasaan, apakah itu? Kekuasaan itu awalnya adalah celaan, keduanya adalah penyesalan dan ketiganya adalah azab di hari kiamat, kecuali orang yang adil, dan betapa sulitnya ia berlaku adil tatkala berkaitan dengan orang terdekatnya.” [HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah:  1562]

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits Abu Hurairah di atas dalam bab,

مَا يُكْرَهُ مِنَ الْحِرْصِ عَلَى الإِمَارَةِ

“Dibencinya Ambisi terhadap Kekuasaan.” [Shahih Al-Bukhari]

An-Nawawi rahimahullah berkata,

هذا أصل عظيم في اجتناب الولاية ولا سيما لمن كان فيه ضعف وهو في حق من دخل فيها بغير أهلية ولم يعدل فإنه يندم على ما فرط منه إذا جوزي بالخزي يوم القيامة واما من كان أهلا وعدل فيها فأجره عظيم كما تظاهرت به الأخبار ولكن في الدخول فيها خطر عظيم ولذلك امتنع الأكابر منها والله أعلم

“Ini adalah pondasi yang agung dalam menjauhi kepemimpinan, terutama orang yang memiliki kelemahan, yaitu orang yang berkecimpung di dalamnya tanpa memiliki keahlian dan tidak berlaku adil, sesungguhnya ia akan menyesal atas apa yang telah ia sia-siakan tatkala ia telah dibalas dengan kehinaan di hari kiamat. Adapun orang yang ahli dan adil dalam kepemimpinan maka pahalanya besar sebagaimana dijelaskan dalam banyak dalil. Akan tetapi, turut serta di dalam kekuasaan sangat berbahaya, oleh karena itu ulama-ulama besar berpaling darinya, wallaahu a’lam.” [Fathul Bari, 13/126, Subulus Salaam, 4/117]

Ash-Shon’ani rahimahullah berkata,

فامتنع الشافعي لما استدعاه المأمون لقضاء الشرق والغرب وامتنع منه أبو حنيفة لما استدعاه المنصور فحبسه وضربه والذين امتنعوا من الأكابر جماعة كثيرون

“Imam Syafi’i menolak menjadi pejabat untuk pengadilan wilayah Timur dan Barat ketika Khalifah Al-Makmun memintanya, dan Imam Abu Hanifah juga menolak ketika diminta oleh Khalifah Al-Manshur, sehingga Al-Manshur memenjarakan dan memukul beliau. Dan masih banyak ulama-ulama besar yang menolak jabatan.” [Subulus Salaam, 4/117]

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengutip dari para ulama,

نعم المرضعة لما فيها من حصول الجاه والمال ونفاذ الكلمة وتحصيل اللذات الحسية والوهمية حال حصولها وبئست الفاطمة عند الانفصال عنها بموت أو غيره وما يترتب عليها من التبعات في الآخرة

“Kekuasaan itu adalah kesenangan di dunia karena di dalamnya diraih kedudukan, harta, terlaksananya keputusan dan menghasilkan segala kesenangan yang kasat mata maupun kesenangan batin. Namun ia adalah penderitaan di akhirat ketika telah berpisah darinya karena kematian dan pertanggungjawaban semua yang terkait dengannya di akhirat.” [Fathul Bari, 13/127]

Beberapa hadits dan penjelasan para ulama di atas menunjukkan kepada kita akan tercelanya ambisi terhadap kekuasaan dan jabatan dalam pemerintahan, karena kekuasaan yang diperebutkan di dunia ini bisa jadi hanyalah penyesalan dan kehinaan di akhirat, setelah sebelumnya jadi celaan di dunia.

Oleh karena itu para ulama besar umumnya menolak tawaran untuk menjadi pejabat, suatu hal yang justru diperebutkan dan diperselisihkan di masa ini demi untuk meraihnya.

Maka bersyukurlah dan bergembiralah orang yang belum dikaruniakan jabatan oleh Allah ta’ala, karena itu termasuk kebaikan yang Allah anugerahkan kepadanya insya Allah. Bersyukurlah orang yang tidak berambisi terhadap jabatan, apalah artinya tampil gagah di dunia dengan satu kedudukan, namun di akhirat menderita dalam azab yang pedih.

Karena sungguh, tanggung jawab pemimpin itu sangat berat, mencakup tanggung jawab agama dan dunia. Agama mencakup pendidikan dan penjagaan, adapun dunia mencakup pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan perlindungan terhadap kaum muslimin.

Oleh karena itu seorang pemimpin hendaklah menuntut ilmu agama terlebih dahulu agar mengerti bagaimana tuntunan Islam dalam menjalankan roda pemerintahannya, sebagaimana seorang pemimpin harus kuat dan amanah dalam menunaikannya.

Sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata,

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

“Perdalamlah ilmu agama sebelum kalian diangkat menjadi pemimpin.” [Shahih Al-Bukhari]

Penjelasan di atas juga sebagai peringatan bagi orang yang Allah anugerahkan kepemimpinan, maka anugerah tersebut adalah kenikmatan apabila dijalankan dengan sebaik-baiknya, namun ia dapat berubah menjadi petaka di dunia dan akhirat apabila tidak dijalankan sebagaimana mestinya, yaitu menurut syari’at Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah mati pada hari matinya seorang hamba yang Allah berikan kekuasaan kepadanya untuk mengurus rakyat sedang ia dalam keadaan berbuat curang kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga atasnya.” [HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu]

Kecurangan dalam hadits ini –sebagaimana yang dijelaskan ulama- mencakup kecurangan dalam mengurus masalah-masalah dunia kaum muslimin, maupun kelemahan dalam mendidik dan menjaga agama mereka, seperti  tidak mengajarkan aqidah yang benar dan ibadah yang sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tidak pula melindungi mereka dari ajaran-ajaran yang menyimpang dan sesat.

Semoga Allah memberikan pertolongan kepada para pemimpin kaum muslimin di seluruh negeri, untuk dapat mengurus kaum muslimin sesuai dengan syari’at Allah ta’ala agar meraih kebaikan di dunia dan akhirat, bukan celaan, kehinaan dan azab di hari kiamat.

PERINGATAN: Tulisan ini bukan bermakna membolehkan demokrasi dan memang tidak mengandung makna demikian (kecuali bagi yang tidak mencermati dengan baik), karena demokrasi dengan segenap sistem pemilunya adalah produk orang-orang kafir yang sangat bertentangan dengan Islam.

Belum datangkah saatnya engkau sadar bahwa demokrasi itu merusak bukan memperbaiki?

Bahwa demokrasi dan pemilunya itu lebih banyak mudarat dibanding manfaatnya?

– Berapa banyak dana yang habis sia-sia untuk sebuah pesta demokrasi, apakah setelah itu ada jaminan bahwa pemimpin yang terpilih akan lebih baik?!

– Berapa banyak kehormatan diinjak-injak, nama baik dihancurkan atas nama demokrasi?!

– Bahkan jiwa terancam, kerusuhan besar membayangi, demi memperjuangkan demokrasi.

– Suara orang bodoh disamakan dengan suara orang pintar, suara penjahat nilainya sama dengan suara orang baik-baik.

– Kata siapa demokrasi adalah suara rakyat, suara mayoritas, kenyataannya demokrasi itu milik orang yang punya duit untuk PENCITRAAN, demokrasi itu milik orang yang mampu berbuat curang untuk mengatur hasil akhirnya, demokrasi itu milik orang yang mampu menjatuhkan lawan politiknya.

Islam telah memperingatkan untuk berhati-hati dari kekuasaan, tidak setiap orang berhak memangkunya. Islam mengajarkan untuk tidak berambisi dengan kekuasaan, pertanggungjawabnnya sangat berat di hari kiamat, tetapi demokrasi malah sebaliknya, memotivasi untuk berambisi, mengejar, meminta bahkan mengemis jabatan kepada masyarakat.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here