Sambutan Dauroh Masyaikh Nasional 1435 H

3

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dauroh Masyaikh 1435 H

Segala puji hanya bagi Allah, negeri kita yang tercinta ini telah beberapa kali kedatangan tamu-tamu istimewa, yaitu para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dalam rangka menyampaikan ilmu yang paling mulia: ilmu agama, dalam kegiatan-kegiatan dauroh dan tabligh akbar, dan sayang sekali baru kali ini saya sempat menulis sedikit nasihat untuk saya pribadi dan semoga bermanfaat bagi kaum muslimin, sebagai sambutan atas para ulama yang mulia.

Allah ta’ala berfirman,

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مِّن نَّشَاء

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki.” [Yusuf: 76]

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik, beliau berkata,

سمعت زيد بن أسلم يقول فى قوله تعالى : ( نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مِّن نَّشَاء ) ، قال : بالعلم

“Aku mendengar Zaid bin Aslam berkata tentang firman Allah: Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Adalah dengan ilmu.” [Syarhu Shahihil Bukhari libni Batthol rahimamumullaah, 1/133]

Menuntut ilmu agama langsung dari para ulama adalah kewajiban setiap muslim, dan inilah yang dimaksud dengan menuntut ilmu secara hakiki.

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻫﻨﺎ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺍﻟﺘﻠﻘﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﳊﻔﻆ ﻭﺍﻟﻔﻬﻢ ﻭﺍﻹﺩﺭﺍﻙ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﺍﳌﺮﺍﺩ ﳎﺮﺩ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺃﻭ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﺣﺮﺓ ﻛﻤﺎ ﻳﺴﻤﻮﻬﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺗﻌﻠﻤﺎ ﺇﳕﺎ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻫﻮ : ﺍﻟﺘﻠﻘﻲ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﻊ ﺣﻔﻆ ﺫﻟﻚ ﻭﻓﻬﻤﻪ ﻭﺇﺩﺭﺍﻛﻪ ﲤﺎﻣ ﺎ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ، ﺃﻣﺎ ﳎﺮﺩ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﳌﻄﺎﻟﻌﺔ ﻓﺈﻬﻧﺎ ﻻ ﺗﻜﻔﻲ ﰲ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻄﻠﻮﺑﺔ ، ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻟﻜﻨﻬﺎ ﻻ ﺗﻜﻔﻲ ، ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﺍﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻭﻻ ﳚﻮﺯ ﺍﻟﺘﺘﻠﻤﺬ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﰲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻮﻗﺖ ، ﻷﻥ ﺍﻟﺘﺘﻠﻤﺬ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺧﻄﲑ ﺟﺪﺍ ﳛﺼﻞ ﻣﻨﻪ ﻣﻔﺎﺳﺪ ﻭﺗﻌﺎﱂ ﺃﺿﺮ ﻣﻦ ﺍﳉﻬﻞ ، ﻷﻥ ﺍﳉﺎﻫﻞ ﻳﻌﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﺟﺎﻫﻞ ﻭﻳﻘﻒ ﻋﻨﺪ ﺣﺪﻩ ، ﻟﻜﻦ ﺍﳌﺘﻌﺎﱂ ﻳﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﻋﺎﱂ ﻓﻴﺤﻞ ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﷲ ، ﻭﳛﺮﻡ ﻣﺎ ﺃﺣﻞ ﺍﷲ ، ﻭﻳﺘﻜﻠﻢ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﷲ ﺑﻼ ﻋﻠﻢ ﻓﺎﳌﺴﺄﻟﺔ ﺧﻄﲑﺓ ﺟﺪﺍ

ﻓﺎﻟﻌﻠﻢ ﻻ ﻳﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﻣﺒﺎﺷﺮﺓ ﺇﳕ ﺎ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﻭﺳﺎﺋﻞ ، ﺃﻣﺎ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﺈﻬﻧﺎ ﺗﺆﺧﺬ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺟﻴﻠﺎ ﺑﻌﺪ ﺟﻴﻞ ﻭﺍﻟﻜﺘﺐ ﺇﳕﺎ ﻫﻲ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﻟﻄﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ

“Menuntut ilmu itu maknanya adalah mengambil ilmu dari ulama, menghapal, memahami dan menguasai, inilah yang dimaksud menuntut ilmu. Bukanlah menuntut ilmu itu semata-mata membaca atau menelaah secara bebas sebagaimana yang mereka namakan, ini bukanlah menuntut ilmu, tetapi menuntut ilmu itu adalah mengambil ilmu dari ahli ilmu disertai dengan menghapalnya, memahaminya dan menguasainya secara sempurna, inilah menuntut ilmu yang benar. Adapun membaca dan menelaah saja, maka itu tidak cukup, meskipun itu juga dituntut, dan padanya ada faidah, akan tetapi itu belum cukup, tidak mencukupi jika hanya itu saja.

Dan tidak boleh berguru hanya kepada buku-buku saja sebagaimana kenyataan di waktu ini, karena berguru kepada buku-buku saja sangat berbahaya, darinya muncul berbagai macam kerusakan dan sikap sok tahu yang lebih berbahaya dari kebodohan, karena seorang yang bodoh mengetahui kalau dirinya bodoh dan tidak melampaui batasnya, akan tetapi orang yang sok tahu menganggap bahwa dirinya ulama maka ia pun menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan ia berbicara dan berucap atas Allah tanpa ilmu, maka masalah ini sangat berbahaya.

Oleh karena itu ilmu tidaklah diambil dari buku-buku secara langsung, karena buku-buku itu hanya sarana. Adapun hakikat ilmu harus diambil dari para ulama, dari generasi ke generasi, sedangkan buku-buku hanyalah sarana-sarana untuk menuntut ilmu (bukan yang utama).” [Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 27]

Hal itu karena para ulama adalah pewaris para Nabi dan Rasul ‘alaihimus sholaatu was salaam. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga, dan sesungguhnya para malaikat menghamparkan sayap-sayap mereka karena ridho kepada penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang ulama itu dimohonkan ampun untuknya penduduk langit dan penduduk bumi, sampai ikan di kedalaman air, dan sesungguhnya keutamaan seorang ulama di atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang, dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]

Ibnu Bathhol rahimahullah berkata,

جاء فى كثير من الآثار أن درجات العلماء تتلو درجات الأنبياء ، ودرجات أصحابهم ، والعلماء ورثة الأنبياء ، وإنما ورثوا العلم وبينوه للأمة ، وذبوا عنه ، وحموه من تخريف الجاهلين وانتحال المبطلين

“Disebutkan dalam banyak dalil bahwa derajat para ulama setelah derajat para nabi dan derajat para sahabat nabi, dan ulama adalah pewaris para nabi, sedang mereka hanyalah mewariskan ilmu dan menjelaskannya kepada umat, mereka memperjuangkan ilmu tersebut dan menjaganya dari penyewelengan orang-orang bodoh dan perubahan orang-orang yang menghilangkan (ilmu).” [Syarhu Shahihil Bukhari, 1/133]

Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang Allah pilih untuk menyampaikan risalah-Nya, mengajarkan dan membimbing kepada hidayah serta menyelamatkan dari kesesatan. Dan tatkala para nabi dan rasul telah wafat, demikian pula nabi kita yang mulia Muhammad sholawaatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim juga telah wafat, maka Allah ta’ala menjadikan para ulama sebagai pewaris mereka.

Namun pada kenyataannya hanya sedikit sekali dari kaum muslimin yang dapat berjumpa dengan para ulama, hanya sedikit sekali para “lelaki” yang memiliki cita-cita yang tinggi, walau kakinya menapak di bumi, namun cita-citanya berada di bintang tsurayya, mereka itulah yang rela meninggalkan negeri dan karib kerabat, menempuh jarak dan melampaui waktu, demi berjumpa dengan para ulama untuk satu kemuliaan: menuntut ilmu agama.

Walau demikian, di hari-hari ini kita patut lebih bersyukur kepada Allah ta’ala atas kemudahan dari-Nya untuk menimba ilmu langsung dari para ulama, dan insya Allah ta’ala, di negeri kita yang tercinta ini pada bulan Sya’ban 1435 H, akan datang para ulama dari pusat-pusat ilmu dunia yaitu negeri Haramain dan Yaman.

Para ulama dan penuntut ilmu senior yang akan menghadiri kegiatan Dauroh Masyaikh di Indonesia kali ini -insya Allah ta’ala- adalah:

1) Asy-Syaikh ‘Utsman bin ‘Abdillah As-Saalimi hafizhahullah (Ulama senior Yaman, Pengasuh Ma’had Darul Hadits, Dzamar Yaman)

2) Asy-Syaikh Abdul Hadi Al-‘Umairi hafizhahullah (Anggota Dewan Fatwa Masjidil Haram dan Pengajar Ma’had Al-Haram, Makkah KSA)*)

3) Asy-Syaikh Ahmad bin Ahmad Syamlan hafizhahullah (Pengasuh Ma’had Darul Hadits, Roda Yaman)

4) Asy-Syaikh Sayyaf hafizhahullah (Penuntut ilmu senior, murid Asy-Syaikh ‘Utsman bin Abdillah As-Saalimi hafizhahullah)

Dalam kegiatan Dauroh Masyaikh ini juga akan diadakan teleconference bersama Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah (Ulama senior Yaman, Pengasuh Ma’had Darul Hadits, Ma’bar Yaman).

Dan salah seorang putra Asy-Syaikh Al-Imam juga telah mendapat izin beliau untuk mengikuti rombongan Asy-Syaikh ‘Utsman bin Abdillah As-Salimi, yang sebelumnya beliau memberi syarat kepada putranya untuk meminta izin dulu dari Asy-Syaikh ‘Utsman, dan kedatangan putra Asy-Syaikh Al-Imam juga dalam rangka berobat, semoga Allah ta’ala memudahkan urusan beliau dan memberikan taufiq bagi kaum muslimin untuk saling membantu dalam kebaikan dan takwa terhadap saudara mereka.

Maka sedikit nasihat yang kami kutipkan di atas semoga dapat menjadi penyemangat bagi kaum muslimin untuk menyambut permata-permata ilmu yang akan datang kepada kita insya Allah ta’ala.

sabar_dalam_menuntut_ilmu

Dan ini juga kesempatan berharga untuk menolong para ulama yang merupakan pilar penting dalam agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama itu adalah nasihat. Kami bertanya: Bagi siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin (ulama dan pemerintah) kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.” [HR. Muslim dari Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu’anhu]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan makna nasihat bagi ulama adalah:

1. Mencintai mereka

2. Menolong mereka dalam menyampaikan kebenaran

3. Membela kehormatan mereka

4. Meluruskan kesalahan mereka dengan adab dan penghormatan

5. Menunjukkan cara terbaik dalam mendakwahi manusia

[Lihat Syarhul ‘Arba’in An-Nawawiyah, hal. 140]

Semoga Allah ta’ala memuliakan kita dengan menjadi orang-orang yang menolong para ulama, pewaris para nabi.

Sedikit info dari dapur panitia, dauroh kali ini adalah insiatif dari sebagian Masyaikh itu sendiri pertama kali, para Masyaikh tersebut yang meminta untuk diadakan dauroh di Indonesia dalam rangka penyebaran ilmu.

Oleh karena itu kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari para ulama tersebut, betapa semangatnya mereka dalam menyebarkan ilmu, padahal untuk itu mereka harus menempuh jarak yang sangat jauh dan meningalkan keluarga serta murid-murid mereka, dalam keadaan sebagian ulama tersebut tidak muda lagi umurnya.

Maka sepatutnya kita pun lebih bersemangat dalam menyambut para ulama yang mulia dengan menghadiri majelis-majelis mereka yang sudah berada sangat dekat dengan kita.

Enam Kunci Ilmu

Pelajaran lain yang bisa kita petik adalah semangat para ulama dalam membimbing Ikhwan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para da’inya dalam menghadapi berbagai macam masalah yang menimpa dakwah yang mulia ini, maka ini adalah kesempatan emas bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan untuk meminta bimbingan para ulama atas berbagai masalah yang ada, disamping tentunya usaha-usaha yang lain untuk meminta bimbingan para ulama yang telah atau akan dilakukan.

Pelajaran yang lainnya adalah semangat para ulama untuk menjaga ukhuwah dengan saling mengunjungi dan menyibukkan umat dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Ucapan terima kasih, jazaakumullaahu khayron kami sampaikan kepada Ikhwan panitia dauroh di seluruh Indonesia maupun di Yaman dan Saudi yang terus bekerja keras demi suksesnya dauroh ini, semoga Allah ta’ala membalas dengan kebaikan dan mengokohkan mereka di atas sunnah.

Dan secara khusus kepada para Ustadz Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terus berusaha menghubungkan umat ini dengan para ulamanya, jazaahumullaahu khayron, semoga Allah ta’ala senantiasa mengikhlaskan amalan-amalan mereka dan membimbing serta mengokohkan mereka di atas kebenaran.

Dan kepada kaum muslimin seluruhnya kami mengajak untuk membantu kegiatan dauroh ini. Allah ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

Ini kesempatan emas bagi seluruh kaum muslimin untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, dan bagi yang ingin membantu dana, panitia telah membuka kesempatan untuk menyalurkan melalui:

Mandiri: 157-00-0389344-4 a.n Daurah Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Konfirmasi (WA/SMS) : Ustadz Ayub Abu Ayub hafizhahullah (0813-155-441-02).

Kami haturkan terima kasih terhadap seluruh pihak yang telah membantu suksesnya dauroh ini, jazaakumullaahu khayron.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

*) Keterangan: Syaikh Abdul Hadi Al-‘Umairi adalah alumni Magister Universitas Ummul Quro, dan beliau belum Doktor. Adapun pencantuman gelar Doktor terhadap beliau adalah kesalahan info yang diterima panitia, maka saya pribadi memohon ampun kepada Allah ta’ala dan meminta maaf kepada para pembaca atas kesalahan tersebut (Dan ini sekaligus ralat, ditulis pada 16 Juni 2014 pukul 19.55)

Comments (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *