Kegagalan Memahami Takfir Muthlaq dan Takfir Mu’ayyan adalah Akar Kesesatan dalam Pengkafiran

0
135

بسم الله الرحمن الرحيم

Awas Bahaya Pengkafiran

Apa Itu Takfir Muthlaq dan Takfir Mu’ayyan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَقَرَّرْته أَيْضًا فِي أَصْلِ ” التَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ ” الْمَبْنِيِّ عَلَى أَصْلِ الْوَعِيدِ. فَإِنَّ نُصُوصَ ” الْوَعِيدِ ” الَّتِي فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنُصُوصَ الْأَئِمَّةِ بِالتَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَا يُسْتَلْزَمُ ثُبُوتُ مُوجَبِهَا فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ إلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ.

“Dan telah aku tetapkan juga pada prinsip Takfir dan Tafsiq yang dibangun di atas dasar dalil-dalil ancaman, sesungguhnya teks-teks ancaman yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah serta ucapan-ucapan (muthlaq) para imam dalam takfir, tafsiq dan yang semisalnya tidak mengharuskan adanya pengkafiran terhadap individu tertentu yang melakukan kekafiran tersebut (mu’ayyan), kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat dan terangkat penghalang-penghalang (dalam pengkafirannya), tidak ada bedanya dalam perkara prinsip maupun cabang.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/372]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

أَنَّ التَّكْفِيرَ لَهُ شُرُوطٌ وَمَوَانِعُ قَدْ تَنْتَقِي فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ وَأَنَّ تَكْفِيرَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ تَكْفِيرَ الْمُعَيَّنِإلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ

“Bahwa takfir memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang dalam mengkafirkan individu tertentu (mu’ayyan), dan bahwa takfir secara umum (muthlaq) tidak mengharuskan takfir terhadap individu tertentu (mu’ayyan), kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat dan terangkat penghalang-penghalang.” [Majmu’ Al-Fatawa, 12/488]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

مَنْ نَقَصَ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَكَلَّمَ بِمَا يَدُلُّ عَلَى نَقْصِ الرَّسُولِ كَفَرَ؛ لَكِنَّ تَكْفِيرَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ تَكْفِيرَ الْمُعَيَّنِ

“Barangsiapa merendahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atau mengatakan ucapan yang melecehkan beliau maka ia kafir, akan tetapi takfir muthlaq tidak mengharuskan takfir mu’ayyan…” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/99]

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Aaalusy Syaikh hafizhahullah berkata,

من أصول أهل السنة والجماعة في هذا الباب وما خالفوا به الخوارج والمعتزلة والمرجئة في باب الإيمان والتكفير أَنَّهُم فَرَّقُوا بين التكفير المطلق وما بين التّكفير المُعَيَّنْ، أو ما بين تكفير المطلق من الناس دون تحديد وما بين تكفير المُعَيَّنْ.

“Termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam bab ini, yang menyelisihi (golongan sesat, ahlul bid’ah) Khawarij, Mu’tazilah dan Murjiah dalam Bab Iman dan Pengkafiran adalah: Ahlus Sunnah wal Jama’ah membedakan antara takfir muthlaq dan takfir mu’ayyan, atau (dengan kata lain) membedakan antara takfir muthlaq (secara umum) terhadap segolongan manusia tanpa tahdid (menentukan individu tertentu) dan takfir mu’ayyan (mengkafirkan individu tertentu).” [Ithaafus Saail bimaa fiit Thahaawiyyah min Masaail, hal. 354, Asy-Syaamilah]

Dari penjelasan para ulama di atas maka dapat disimpulkan bahwa mengkafirkan seorang muslim yang melakukan kekafiran ada dua bentuk:

1)      Takfir muthlaq adalah pengkafiran secara umum, tanpa menentukan orang atau individu tertentu. Contoh ucapan pengkafiran secara muthlaq:

  • “Barangsiapa berdoa kepada orang-orang mati maka ia kafir”
  • “Barangsiapa menyembelih untuk selain Allah maka ia kafir”
  • “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk maka ia kafir”
  • Dan ucapan yang semisalnya tanpa menunjuk person tertentu.

2)      Takfir mu’ayyan adalah pengkafiran terhadap individu tertentu. Contoh:

  • “Udin telah kafir karena ia berdoa kepada orang-orang mati”
  • “Gus fulan kafir karena menyembelih untuk selain Allah”
  • Dan ucapan yang semisalnya yang mengandung pengkafiran terhadap person tertentu.

Kegagalan dalam memahami perbedaan antara pengkafiran secara muthlaq dan mu’ayyan inilah salah satu sebab tergelincirnya banyak orang ke dalam kesesatan dalam pengkafiran, yaitu ketika mereka memahami ucapan-ucapan pengkafiran dari para ulama secara muthlaq sebagai mu’ayyan, diantara contohnya:

Pertama: Kesalahan Aman Abdur Rahman dalam tulisannya yang berjudul, “TAKFIER MU’AYYAN DALAM SYIRIK AKBAR DAN MASALAH-MASALAH YANG DHAHIRAH”

Diantara ucapan para ulama yang ia jadikan dalil dalam takfir mu’ayyan adalah,

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata: “Dan orang yang tidak mengkafirkan orang yang telah dikafirkan oleh Al Qur’an maka sesungguhnya dia itu telah menyelisihi apa yang dibawa oleh para rasul, berupa tauhid dan konsekuensinya.” [Syarh Ashli Dienul Islam, Majmu’ah At Tauhid: 30]

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Aba Buthain rahimahullah berkata: “Kami katakan dalam masalah takfir mu’ayyan, dhahir ayat-ayat dan hadist-hadist serta perkataan jumhur ulama menunjukan atas kafirnya orang yang menyekutukan Allah, dia beribadah kepada yang lain disamping ibadahnya kepada Allah, dan dalil-dalil itu tidak membedakan antara mu’ayyan dengan yang lainnya. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dihendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. An Nisa [4]: 48)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“…maka bunuhlah orang-orang musyrk itu dimana saja kamu jumpai mereka” (QS. At Taubah [9]: 5) Sedangkan ini mencakup setiap individu dari kaum musyrikin [Ad Durar As Saniyyah: 10/402]

Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Muhammad ditanya tentang orang yang tidak mengkafirkan para pelaku Syirik, beliau berkata: “Bila dia masih ragu akan kekafiran mereka atau tidak tahu akan kekafiran mereka, maka dijelaskan kepadanya dalil-dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam yang menunjukan kekafiran mereka. Kemudian bila ragu setelah itu atau bimbang, maka sesungguhnya dia adalah kafir dengan ijma kaum muslimin bahwa orang yang ragu akan kekafiran orang kafir adalah kafir.” [Kitab Autsaqu’ural Iman dalam Majmu’ah At Tauhid: 96]

–Selesai Nukilan–

Tanggapan:

1)      Ucapan para ulama di atas adalah takfir muthlaq , karena sama sekali tidak menunjuk person tertentu.

2)      Pengkafiran secara mu’ayyan memang ada, tapi dengan syarat-syarat, seperti yang dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas.

3)      Dalam ucapan ulama tersebut sama sekali tidak ada penegasan bolehnya mengkafirkan tanpa memenuhi syarat-syarat pengkafiran dan terangkatnya penghalang.

Kedua: Kesalahan dalam Memahami dan Mengkompromikan Ucapan Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah. Sebagai contoh, dalam memahami dua bentuk fatwa beliau yang seakan bertentangan dan harus dibawa maknanya kepada makna yang lain, padahal hakikatnya keduanya memang berbeda, yaitu:

Fatwa Pertama:

سائل يسأل: يقول: فضيلة الشيخ سؤالي هو: هل يجوز لطالب العلم الذي تمكَّن من مسائل التكفير أن يكفر شخصا بعينه دون الرجوع إلى العلماء اعتمادًا على ما عنده من العلم في مسائل التكفير؟

TANYA:

Wahai Syaikh yang mulia, pertanyaanku adalah, bolehkah seorang penuntut ilmu yang telah mapan (kuat, mendalam) ilmunya dalam masalah takfir (pengkafiran) untuk mengkafirkan seseorang secara mu’ayyan (memvonis individu tertentu) tanpa merujuk kepada para ulama karena berpegang dengan ilmu yang ia miliki dalam masalah takfir?

الجواب: مسائل التكفير أمرها خطير، مزلة أقدام ومضلة أفهام، يُرجَع فيها إلى أهل العلم ولا يُحكَم على أحد بالكفر إلا إذا قُدِّم للمحكمة الشرعية ونظرت فيما يقتضي كفره من القول والعمل فَيُكَفَّر، أما أن كل واحد ويكفر؟! فهذا الأمر لا يجوز، نعم. لكن على سبيل العموم تقول من فعل كذا أو قال كذا أو اعتقد كذا فهو كافر، أما التعيين والأشخاص فلا بد أن يُرجَع أمرهم إلى المحاكم الشرعية مع الإثبات عليهم، نعم

JAWABAN:

Masalah takfir (pengkafiran) perkaranya sangat berbahaya, banyak kaki tergelincir dan pemahaman tersesat dalam masalah ini, hendaklah merujuk kepada para ulama, dan tidak boleh menghukumi seseorang dengan kekafiran kecuali apabila telah disidangkan di pengadilan syari’at dan telah diteliti dalam pengadilan tersebut apa yang mengharuskan kekafirannya, baik ucapan maupun perbuatan, baru kemudian dikafirkan. Adapun setiap orang mengkafirkan, maka perkara ini tidak boleh, na’am.

Akan tetapi dalam bentuk umum (takfir secara muthlaq, tanpa memvonis person tertentu) boleh engkau mengatakan,

“Siapa yang melakukan ini, atau mengatakan ini, atau meyakini ini, maka ia kafir.”

Adapun ta’yin (takfir secara mu’ayyan) dan vonis terhadap individu-individu, maka harus dikembalikan perkaranya ke pengadilan-pengadilan syari’ah yang disertai dengan penetapan atas mereka, na’am.

Fatwa Kedua:

السؤال
أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة، هذا سائلٌ يقول: هل التكفيرُ حكمٌ لكل أحد من صغار طلاب العلم أم أنه خاص بأهل العلم الكبار والقضاة؟

Tanya:

Semoga Allah berbuat baik kepadamu wahai Fadhilatusy-Syaikh. Berikut ini seorang penanya berkata: Apakah takfir merupakan hukum bagi setiap orang dari penuntut ilmu pemula atau perkara ini khusus perannya ulama besar dan qadhi?

الجواب
مَن يظهر منه الشرك: يذبح لغير الله، أو ينذر لغير الله .. يظهر ظهورًا واضحًا: يذبح لغير الله، ينذر لغير الله، يستغيث بغير الله من الأموات، يدعو الأموات.. هذا شركه ظاهر؛ فمَن سمعه يحكم بكفره وشركه، أما الأمور الخفية التي تحتاج إلى علم، وإلى بصيرة.. هذه تُوكَل إلى أهل العلم، نعم

Jawab:

Barangsiapa yang tampak darinya kesyirikan: menyembelih untuk selain Allah atau bernadzar untuk selain Allah, tampak dengan penampakan yang jelas: menyembelih untuk selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, minta keselamatan kepada selain Allah dari orang-orang mati, berdoa kepada orang-orang mati. Ini kesyirikannya jelas. Barangsiapa yang mendengarnya menghukumi kafir dan musyrik kepada pelakunya. Adapun perkara-perkara yang khafiyah / samar yang butuh kepada ilmu dan bashirah, ini dikembalikan kepada ulama. Na’am.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya:

السؤال

 هل تكفير من يقوم بالشرك الأكبر ومن يسب الله خاص بالعلماء؟

Tanya:

Apakah mengkafirkan orang yang melakukan syirik besar dan orang yang mencaci Allah adalah khusus perannya ulama? 

الجواب

لا، إذا سمعته هذا منكر، تنكر عليه تقول ما يجوز هذا، حرام عليك هذا الكلام، تنصحه بما تعرف، أما تطبيق الحكم عليه هذا من جهة العلماء

Jawab:

Tidak, apabila kamu dengar kemungkaran ini, kamu ingkari dia. Kamu katakan (padanya) ini tidak boleh. Haram atasmu ucapan ini. Kamu nasihati dia dengan apa yang kamu tahu. Adapun penegakan hukum atas orang ini, perkara ini perannya ulama.

–Selesai nukilan—

Tanggapan:

1)  Kedua bentuk fatwa di atas sama sekali tidak perlu dikompromikan, karena keduanya berbeda makna, yang pertama takfir mu’ayyan yang dikhususkan untuk para ulama dan qodhi, sedang  yang kedua adalah takfir muthlaq yang boleh dilakukan oleh seorang penuntut ilmu dengan berpijak pada dalil yang shahih.

  • Bukti yang menunjukkan bahwa bentuk fatwa yang pertama adalah takfir mu’ayyan adalah ucapan penanya yang jelas sekali,

هل يجوز لطالب العلم الذي تمكَّن من مسائل التكفير أن يكفر شخصا بعينه

“Bolehkah seorang penuntut ilmu yang telah mapan (kuat, mendalam) ilmunya dalam masalah takfir (pengkafiran) untuk mengkafirkan seseorang secara mu’ayyan (memvonis individu tertentu)…?”

  • Adapun bukti yang menunjukkan bahwa bentuk fatwa yang kedua adalah takfir muthlaq bukan takfir mu’ayyan adalah ucapan penanya yang juga sangat jelas,

هل التكفيرُ

“Apakah takfir…”

Perhatikanlah, penanya di sini tidak bertanya tentang person tertentu, tapi menanyakan dalam bentuk umum (muthlaq).

  • Kemudian Syaikh menjawab pertanyaan tersebut dengan “shighoh” yang umum juga,

مَن يظهر منه الشرك

“Barangsiapa yang tampak darinya kesyirikan…”

Sebagaimana dipahami dalam Bahasa Arab bahwa (مَن) termasuk “shiyagh” umum.

  • Pada fatwa berikutnya lebih jelas lagi, penanya menggunakan “shighoh” umum,

من يقوم بالشرك

“…orang yang melakukan syirik…”

  • Kemudian Syaikh menjawab dengan jawaban yang “muthlaq” tanpa memvonis orang tertentu.

2)  Kesalahan lainnya dalam memahami fatwa di atas adalah memahami makna kata “hukum” (الحكم) seperti yang dipahami orang Indonesia yaitu menjatuhkan hukuman oleh qodhi atau hakim, padahal maknanya adalah vonis hukum sebagai kafir, bukan memberi hukuman, oleh karena itu Syaikh mengatakan “…perkara ini perannya ulama.” Beliau tidak mengatakan qodhi atau hakim atau waliyyul amr yang berhak memberikan hukuman.

Perhatikanlah ucapan Al-‘Allamah Asy-Syaukani rahimahullah tentang penggunaan kata “hukum” dalam pengkafiran, sekaligus sebagai renungan bagi yang membuka peluang mudah mengkafirkan bagi kaum muslimin,

اعلم أن الحكم على الرجل المسلم بخروجه من دين الإسلام، ودخوله في الكفر لا ينبغي لمسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يقدم عليه إلا ببرهان أوضح من شمس النهار، فإنه قد ثبت في الأحاديث الصحيحة المروية من طريق جماعة من الصحابة أن من قال لأخيه: يا كافر فقد باء بها أحدهما. هكذا في الصحيح، وفي لفظ آخر في الصحيحين وغيرهما: ” من دعا رجلاً بالكفر، أوقال: عدو الله، وليس كذلك إلا حار عليه “. أي رجع، وفي لفظ في الصحيح: “فقد كفر أحدهما”، ففي هذه الأحاديث وما ورد موردها أعظم زاجر، وأكبر واعظ عن التسرع في التكفير

“Ketahuilah bahwa pemberian “hukum” atas seorang muslim dengan (hukum) keluar (murtad) dari agama Islam dan masuk dalam kekafiran tidaklah patut bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk melakukannya kecuali dengan bukti yang lebih jelas dari matahari di siang hari, karena telah valid dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari jalan banyak sahabat bahwa (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda),

مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرٌ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Barangsiapa berkata kepada saudaranya wahai Kafir maka ucapan tersebut pasti kembali kepada salah satu dari keduanya.”

Demikianlah dalam Ash-Shahih, dan dalam lafaz yang lain dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya,

مَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ، أَوْ قَالَ: عَدُوَّ اللَّهِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa memanggil orang lain dengan panggilan kekafiran atau ia berkata: Wahai musuh Allah! Padahal yang dipanggil tidak seperti itu, kecuali akan kembali kepadanya.”

Maknanya, pengkafiran tersebut kembali kepada pengucapnya. Dan dalam lafaz lain dalam Ash-Shahih, “Telah kafir salah satu dari keduanya.”

Maka dalam hadits-hadits ini dan yang semisalnya merupakan seagung-agungnya peringatan dan sebesar-besarnya nasihat untuk tidak tergesa-gesa dalam pengkafiran.” [As-Sailul Jaror, 4/578]

Perhatikan dan renungkan juga ucapan Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkut ini,

فالأصل فيمن ينتسب للإسلام بقاء إسلامه حتى يتحقق زوال ذلك عنه بمقتضى الدليل الشرعي، ولا يجوز التساهل في تكفيره لأن في ذلك محذورين عظيمين:

أحدهما: افتراء الكذب على الله تعالى في الحكم، وعلى المحكوم عليه في الوصف الذي نبزه به.

أما الأول فواضح حيث حكم بالكفر على من لم يكفره الله تعالى فهو كمن حرم ما أحل الله؛ لأن الحكم بالتكفير أو عدمه إلى الله وحده كالحكم بالتحريم أو عدمه.

وأما الثاني فلأنه وصف المسلم بوصف مضاد، فقال: إنه كافر، مع أنه بريء من ذلك، وحري به أن يعود وصف الكفر عليه

“Hukum asalnya, orang yang menisbatkan diri kepada Islam (seorang muslim) adalah tetap keislamannya sampai dipastikan hilang berdasarkan dalil syar’i, dan tidak boleh bermudah-mudahan dalam mengkafirkannya karena pada hal itu ada dua perkara terlarang yang sangat besar:

Pertama: Mengada-adakan kedustaan atas Allah ta’ala dalam “hukum” dan atas orang yang “dihukumi” dalam “sifat” yang disematkan kepadanya. Adapun yang pertama ini jelas karena vonis “hukum” kekafiran atas orang yang tidak dikafirkan oleh Allah ta’ala sama dengan orang yang mengharamkan apa yang Allah halalkan, karena (pada hakikatnya) “hukum” pengkafiran atau tidaknya kembali kepada Allah saja seperti “hukum” pengharaman dan tidaknya.

Sedang yang Kedua: Karena ia telah mensifatkan seorang muslim dengan sifat yang berlawanan dengan hakikatnya, ia berkata: “Fulan telah kafir”, padahal si fulan berlepas diri dari kekafiran tersebut, maka orang yang menghukumi lebih pantas untuk kembalinya sifat kekafiran kepadanya.” [Syarhu Kasyfisy Syubuhat, hal. 141]

3)  Maka jelaslah dalam takfir mu’ayyan dikhususkan untuk para ulama dan harus terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan terangkatnya penghalang (semoga Allah ta’ala memberikan taufiq di lain kesempatan kita membahas masalah ini). Adapun yang dibolehkan bagi para penuntut ilmu (sebagaimana dalam fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) adalah takfir muthlaq dengan berpijak kepada dalil yang shahih;

  • Mengkafirkan secara serampangan tanpa membedakan antara muthlaq dan mu’ayyan adalah manhaj golongan sesat Khawarij dan Mu’tazilah sebagaimana yang diisyaratkan oleh Asy-Syakh Shalih bin Abdul Aziz Aalusy Syaikh hafizhahullah di atas.
  • Dan tidak mengkafirkan sama sekali secara mu’ayyan adalah golongan Murji’ah yang juga sesat.
  • Adapun Ahlus Sunnah membedakan pengkafiran secara muthlaq dan mu’ayyan, serta tidak bermudah-mudahan dalam pengkafiran secara mu’ayyan dan menyerahkannya kepada para ulama.

Terkait: Pendapat Takfir Mu’ayyan Khusus bagi Ulama dari Siapa?

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.fb.com/sofyanruray.info

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here