Hukum Sholat Berhadiah Innova

0
75

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

innova

Tanya: Bolehkah berdakwah mengajak orang sholat dengan memberikan hadiah mobil Innova? Dan apakah hukum sholat seperti itu?

Jawab:

Pertama: Berdakwah dengan menggunakan harta untuk menarik hati orang-orang yang lemah iman tidak mengapa insya Allah ta’ala, namun hendaklah diikuti dengan pengajaran yang baik dan memberikan pemahaman berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf.

Apalagi jika dakwah itu dilakukan oleh pemerintah, maka sesungguhnya itulah tugas utama sebuah pemerintahan, dan kelak Allah ta’ala akan meminta pertanggungjawabannya atas setiap pemimpin. Oleh karena itu, sepatutnya bagi masyarakat untuk mendukung dan meluruskan jika ada bagian yang salah, dengan hikmah dan kelembutan, bukan dengan caci maki dan kecurigaan, atau menggibah di khalayak.

Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Bahwasannya ada seseorang meminta kambing sebanyak satu lembah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau pun memberikannya. Maka orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata, “Wahai kaumku masuklah ke dalam Islam, demi Allah sesungguhnya Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- memberikan sesuatu tanpa takut dengan kefakiran”.”

Anas berkata, “Meskipun orang tersebut tidaklah masuk Islam kecuali karena dunia, namun ketika dia berada dalam Islam jadilah Islam lebih dia cintai dibanding dunia dan isinya.” [HR. Muslim]

Asy-Syaikh Al-’Allamah Faqihul ‘Ashr Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata,

كان أكرم الناس، وكان يبذل ماله فيما يقرب إلى الله سبحانه وتعالى ومن ذلك أنه صلى الله عليه وسلم إذا سأله شخص على الإسلام يعني على التأليف على الإسلام والرغبة فيه إلا أعطاه مهما كان هذا الشيء حتى إنه سأله أعرابي فأعطاه غنما بين جبلين أي أنها غنم كثيرة أعطاه إياها الرسول عليه الصلاة والسلام لما يرجو من الخير لهذا الرجل ولمن وراءه .

ويؤخذ من هذا الحديث وأمثاله: أنه لا ينبغي لنا أن نبتعد عن أهل الكفر وعن أهل الفسوق وأن ندعهم للشياطين تلعب بهم بل نؤلفهم ونجذبهم إلينا بالمال واللين وحسن الخلق حتى يألفوا الإسلام فها هو الرسول عليه الصلاة والسلام يعطي الكفار يعطيهم حتى من الفيء .

بل إن الله جعل لهم حظا من الزكاة نعطيهم لنؤلفهم على الإسلام حتى يدخلوا في دين الله والإنسان قد يسلم للدنيا ولكن إذا ذاق طعم الإسلام رغب فيه حتى يكون أحب شيء إليه .

“Adalah Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam- orang yang paling dermawan, beliau membelanjakan hartanya pada sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Diantara bentuknya, tidaklah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila dimintai harta oleh seseorang demi Islam, yakni demi menguatkan hatinya dalam Islam dan semakin mencintai Islam kecuali beliau berikan berapa banyak pun yang diminta, sampai-sampai ketika beliau dimintai harta oleh seorang Arab dusun maka beliau memberikan kepadanya kambing sebanyak (satu lembah) diantara dua gunung, yakni sejumlah kambing yang sangat banyak diberikan kepadanya oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam karena beliau mengharapkan kebaikan (Islam) bagi orang tersebut dan kaumnya.” [Syarah Riyadhus Shalihin, 3/405] 

Beliau rahimahullah juga berkata,

ويؤخذ من هذا الحديث وأمثاله: أنه لا ينبغي لنا أن نبتعد عن أهل الكفر وعن أهل الفسوق وأن ندعهم للشياطين تلعب بهم بل نؤلفهم ونجذبهم إلينا بالمال واللين وحسن الخلق حتى يألفوا الإسلام فها هو الرسول عليه الصلاة والسلام يعطي الكفار يعطيهم حتى من الفيء .

بل إن الله جعل لهم حظا من الزكاة نعطيهم لنؤلفهم على الإسلام حتى يدخلوا في دين الله والإنسان قد يسلم للدنيا ولكن إذا ذاق طعم الإسلام رغب فيه حتى يكون أحب شيء إليه .

“Dan pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya, bahwasannya tidak sepatutnya kita menjauhi (tidak mendakwahi) orang-orang kafir dan orang-orang fasik (kaum muslimin pelaku dosa besar), dan kita biarkan mereka dipermainkan oleh setan-setan. Akan tetapi hendaklah kita mengikat dan menarik mereka kepada kita dengan harta, sikap lemah lembut dan akhlak yang baik sampai mereka menyenangi (dakwah) Islam, maka inilah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau memberikan harta kepada orang-orang kafir sampai dari harta rampasan perang.

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan bagian zakat untuk orang-orang kafir, kita berikan zakat kepada mereka untuk membuat hati mereka cinta kepada Islam sampai mereka masuk ke dalam agama Allah ini. Dan seseoramg itu bisa jadi masuk Islam karena dunia, akan tetapi jika dia telah merasakan (indahnya) Islam maka dia akan mencintainya melebihi segala sesuatu.” [Syarah Riyadhus Shalihin, 3/405]

Kedua: Adapun hukum sholatnya, apabila ia sholat semata-mata untuk mendapatkan harta maka termasuk kategori syirik besar. Allah ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud: 15-16]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan ayat ini dalam Kitab At-Tauhid pada bab, “Termasuk Syirik, Keinginan Seseorang Untuk Meraih Dunia dengan Amalnya.”

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أمثلة تبين كيفية إرادة الإنسان بعمله الدنيا:
1- أن يريد المال; كمن أذن ليأخذ راتب المؤذن، أو حج ليأخذ المال.
2- أن يريد المرتبة; كمن تعلم في كلية ليأخذ الشهادة؛ فترتفع مرتبته.
3- أن يريد دفع الأذى والأمراض والآفات عنه: كمن تعبد لله كي يجزيه الله بهذا في الدنيا، بمحبة الخلق له، ودفع السوء عنه، وما أشبه ذلك.
4- أن يتعبد لله: يريد صرف وجوه الناس إليه بالمحبة والتقدير.
وهناك أمثلة كثيرة.

Contoh-contoh yang menerangkan bagaimana manusia menginginkan dunia dengan amalannya:

1. Menginginkan harta, seperti orang yang adzan untuk mengambil upah mu’adzin, atau naik haji untuk mendapatkan harta.

2. Menginginkan kedudukan, seperti orang yang belajar agama di fakultas untuk mendapatkan ijazah, sehingga meninggi kedudukannya.

3. Menginginkan untuk menolak keburukan, penyakit dan musibah, seperti orang yang beribadah kepada Allah agar Allah membalasnya di dunia ini saja, yaitu dijadikan makhluk cinta kepadanya, menolak kejelekan darinya, dan yang semisalnya.

4. Seorang yang beribadah kepada Allah karena ingin dipandang oleh orang dengan cinta dan penghormatan. Dan masih banyak contoh lain.” [Al-Qoulul Mufid, 2/137]

Ini semuanya tercela jika sholatnya atau ibadah yang lainnya semata-mata karena dunia. Sedangkan apabila niatnya karena Allah ta’ala (untuk meraih pahala dari-Nya), kemudian ia menyertakan niat untuk mendapatkan harta dunia, maka tidak mengapa insya Allah ta’ala.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,

أن الإنسان إذا أراد بعمله الحسنيين- حسنى الدنيا، وحسنى الآخرة-; فلا شيء عليه لأن الله يقول: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ}، [الطلاق: من الآية2-3]، فرغبه في التقوى بذكر المخرج من كل ضيق والرزق من حيث لا يحتسب.
فإن قيل: من أراد بعمله الدنيا كيف يقال إنه مخلص، مع أنه أراد المال مثلا؟
أجيب: إنه أخلص العبادة ولم يرد بها الخلق إطلاقا، فلم يقصد مراءاة الناس ومدحهم، بل قصد أمرا ماديا; فإخلاصه ليس كاملا لأن فيه شركا، ولكن ليس كشرك الرياء يريد أن يمدح بالتقرب إلى الله، وهذا لم يرد مدح الناس بذلك، بل أراد شيئا دنيئا غيره.
ولا مانع أن يدعو الإنسان في صلاته، ويطلب أن يرزقه الله المال، ولكن لا يصلي من أجل هذا الشيء; فهذه مرتبة دنيئة.
أما طلب الخير في الدنيا بأسبابه الدنيوية; كالبيع، والشراء، والزراعة; فهذا لا شيء فيه، والأصل أن لا نجعل في العبادات نصيبا من الدنيا، وقد سبق البحث في حكم العبادة؛ إذا خالطها الرياء، في باب الرياء.

“Bahwa manusia, jika menginginkan dengan amalannya dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, maka tidak ada dosa atasnya, karena Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka.” [Ath-Tholaq: 2-3]

Maka dalam ayat ini, Allah ta’ala memotivasi untuk bertakwa dengan menyebutkan jalan keluar dari kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka.

Jika dikatakan: Barangsiapa yang menginginkan dunia (dan akhirat) dengan amalannya, bagaimana bisa dikatakan bahwa dia orang yang ikhlas, padahal dia menginginkan harta –misalkan-?

Aku jawab: Sesungguhnya ia telah mengikhlaskan ibadah dan tidak menginginginkan (pujian) makhluk secara mutlak, maka ia tidak bermaksud untuk mempertontonkan amalannya kepada manusia dan meraih pujian mereka, tetapi ia bermaksud mendapatkan sesuatu yang sifatnya materi, maka keikhlasannya tidak sempurna, karena padanya ada percampuran (tidak murni), akan tetapi tidak sama dengan syirik seperti riya, yang menginginkan agar dipuji ketika mendekatkan diri kepada Allah. Adapun yang ini, tidak menginginkan pujian manusia ketika beribadah, namun ia menginginkan sesuatu yang rendah selain itu.

Dan tidak mengapa seseorang berdoa dalam sholatnya, meminta rezeki dari Allah, akan tetapi janganlah ia sholat karena hal ini, karena ini tingkatan yang rendah.

Adapun mengejar kebaikan dunia dengan amalan-amalan dunia, seperti jual beli dan pertanian, maka ini tidak ada dosa padanya. Dan hukum asal, kita tidak boleh menjadikan dalam ibadah-ibadah itu bagian untuk dunia, dan telah lewat pembahasan hukum ibadah apabila tercampur riya pada Bab Riya.” [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

Dari penjelasan di atas, maka hendaklah dibedakan antara beribadah karena riya (mempertontonkan ibadah kepada manusia agar mendapat pujian) dan beribadah karena menginginkan dunia. Adapun beribadah karena riya maka semua bentuknya tercela, bahkan bisa jadi syirik besar jika riyanya murni atau mendominasi, seperti riyanya kaum munafikin. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [An-Nisa: 142]

Adapun sedikit riya, yaitu beribadah dengan niat karena Allah ta’ala dan disertai riya maka ini termasuk syirik kecil dan dosa terbesar setelah syirik besar. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَر قَالُوا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ ، يَقُولُ اللَّهُعَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْتَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil”, para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik kecil itu) riya’, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat kepada mereka (orang-orang yang riya’ dalam beramal), yaitu ketika Allah ta’ala telah membalas amal-amal manusia, (maka Allah katakan kepada mereka), “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian perlihatkan (riya’) amalan-amalan kalian ketika di dunia, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan (kebaikan) dari mereka?!”.” [HR. Ahmad dari Mahmud bin Labid radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 951]

Kesimpulan:

1. Beribadah dengan niat semata-mata karena Allah ta’ala inilah yang dituntut, inilah tingkatan tertinggi.

2. Beribadah dengan niat karena Allah dan menyertakan niat untuk mendapatkan dunia seperti harta dan kedudukan, maka ini dibolehkan namun tingkatannya lebih rendah dibanding yang sebelumnya.

3. Beribadah dengan niat semata-mata karena dunia maka ini termasuk syirik besar.

4. Beribadah dengan niat semata-mata atau kebanyakan untuk dipertontonkan kepada manusia agar mendapatkan pujian (riya), maka ini termasuk syirik besar.

5. Beribadah dengan niat karena Allah dan disertai dengan niat untuk dipertontonkan kepada manusia agar mendapatkan pujian (riya), maka ini termasuk syirik kecil.

WaLlaahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.

Terkait: http://sofyanruray.info/keagungan-sholat-dalam-islam/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here