Catatan Kecil tentang Seorang Pemberani

0

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Catatan Kecil tentang Seorang Pemberani

?Ramai berita tentang seorang pemberani, hanya bermodal sepeda tak gentar menghadang moge seorang diri, walau keberaniannya masih kontroversi, sudah sesuaikah dengan undang-undang negeri ini, tapi terlanjur banyak yang memuji dan bersimpati, lalu berlomba memberi apresiasi.

?Semua itu tak lain demi kenyamanan dan keamanan banyak orang, tak boleh dirampas oleh sebagian golongan, juga demi menaati hukum-hukum tuk pemakai jalan, yang tidak boleh pandang bulu, status sosial dan jabatan, maka sang pemberani pun rela berkorban, hingga patut diberi jempol tangan dan komentar dukungan, tapi aku sendiri berharap untuknya, untuk pengendara moge dan pak polisi sama-sama meraih kebaikan.

?Saudaraku -rahimakumullah-, ini terkait kenyamanan dan keamanan di dunia, dan penegakkan hukum buatan manusia, butuh para pemberani yang tak takut dicela, yang peduli dan siap membela, yang membuat mata dunia terbuka, hingga akhirnya memenuhi berita-berita dan social media.

?Tapi mengapa, yang terkait dengan keselamatan dan keamanan dari pedihnya azab neraka, dan penegakkan hukum Allah, Pencipta dan Penguasa alam semesta, Pemberi rezeki dan kenikmatan untuk seluruh makhluk-Nya; sangat sedikit yang mau jadi pemberani dan pembela, mendakwahkan tauhid dan membela sunnah, memberantas syirik dan menggilas bid’ah, mengingatkan bahaya kesesatan dan harakah hizbiyyah, dengan ilmu dan hikmah, tanpa peduli celaan manusia, dan bersabar terhadap sindiran pedas kawan sendiri di statusnya, yang ikut menghantam dengan kapak yang sama, di dunia maya dan dunia nyata.

?Dan yang sedikit itu pun tak semuanya menempuh jalur syari’at, tak sedikit yang hanya bermodal semangat, meneriakkan ‘khilafah’ dan ‘jihad’, mencela pemerintah di khalayak, menyempitkan uluhiyyah dan menuntut haakimiyyat, melalui parade yang menurunkan Akhwat, dengan berbagai mode hijab, berfoto ria bersama seruan ‘tauhid’ yang tak sepatutnya menjadi kocak, lalu disebar dari Facebook hingga WhatsApp, tak hanya menjadi tontonan laki-laki di jalan tapi sampai dunia timur dan barat.

?Kembali ke topik sang pemberani. Saudaraku -rahimakumullah-, jika kita benar-benar orang yang peduli dan penuh cinta, mestinya kita lebih takut dan khawatir atas azab di akhirat yang mengancam saudara-saudara kita, karena ia lebih keras dan dahsyat daripada semua penderitaan di dunia.

?Jika kita berani menegur pengendara yang ugal-ugalan di jalan, mestinya kita lebih berani menegur para pelaku dosa dan penyebar kesesatan, dengan ilmu dan hikmah.

?Jika kita mendukung dan mencintai sang pemberani demi keamanan orang banyak di jalan, mestinya kita lebih mendukung dan mencintai para ulama dan penuntut ilmu agama yang menunjukkan jalan kebenaran dan membasmi kesesatan, agar manusia selamat bukan hanya di dunia tapi yang lebih utama adalah selamat dari azab di akhirat yang sangat pedih dan tak ada kesudahan.

?Sungguh sangat aneh jika kita berusaha melindungi diri, keluarga dan masyarakat dari berbagai macam bahaya di kehidupan dunia yang singkat, tapi kita lupakan bahaya terbesar yang mengancam mereka dalam kehidupan yang kekal di akhirat.

?Ketahuilah wahai saudaraku -rahimakumullaah-, tidak ada manusia yang lebih peduli, pemberani dan penyayang dibanding para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam, maka Allah ta’ala yang Maha Penyayang, memilih dan mengutus mereka untuk mendakwahkan tauhid agar manusia selamat dari azab yang sangat menakutkan.

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalaam,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)

Lihatlah mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalaam mendakwahi kaumnya, tidak lain karena ketakutan beliau atas azab yang akan menimpa mereka di akhirat apabila mereka menyekutukan Allah ta’ala dan bermaksiat kepada-Nya. Maka seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalaam menyeru kaumnya untuk mengamalkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya.

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihissalam ketika menyeru kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 65)

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihissalam ketika menyeru kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 73)

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ketika kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 85)

➡Allah ta’ala berfirman tentang seluruh para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” (An-Nahl: 36)

?Kemudian, setelah berlalu masa para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam, para ulama pun mewarisi tugas yang mulia ini, dan para penuntut ilmu membantu para ulama dalam menyebarkan ilmu, merekalah para pemberani yang sejati dan penyayang yang hakiki, maka tidakkah kita ingin membantu para ulama dan penuntut ilmu, sehingga kita pun meraih kasih sayang Allah yang Maha Penyayang? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jami’: 3522]

?Semoga Allah ta’ala menganugerahkan hidayah, ampunan dan kasih sayang-Nya untukku dan untuk seluruh kaum muslimin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.facebook.com/sofyanruray.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *